Tuesday, December 11, 2012

Evolusi Agama Hindu di India


Asal Mula Hindu   
            Istilah Hindu ditemukan sekitar abad  Ke-10 SM, Hindu berasal dari bahasa Persia (Arab) “Al-Hindin, yang lama kelamaan menjadi Indica dan seterusnya menjadi India. Jadi kata Hindu itu bukan berasal dari Bahasa Sangsekerta ataupun Bahasa India tetapi berasal dari bahasa Persia, yang diperkenalkan oleh orang-orang Persia (sekarang orang Iran) yang dimasud wilayah Persia itu adalah daratan Iran (termasuk Afganistan dan Pakistan).  Ternyata Sungai Shindu sekarang ini terletak di wilayah Pakistan  tepatnya di selatan wilayah Islamabad. Sungai Sindhu ini melewati sepanjang Pakistan terus ke wilayah Kasmir , hyderabad dan bermuara di sebelah timur wilayah Karachi terus keluar bermuara di lautan Arabian.


Perkembangaan Budaya dan Agama Hindu di Lembah Sungai Shindu
(sekitar 3000 sebelum masehi)

            Pada saat ini wilayah Pakistan sekarang masih termasuk wilawah india barat laut. Di pedalaman lembah sindu dihuni oleh orang-orang Dravida dan juga di daerah pegunungan Sungai sindu di huni oleh orang-orang Arya.  Pada saat itu mereka belum mengenal agama tetapi orang-orang luar menyebutnya agama Lembah Sungai Sindhu. Cirri-ciri  orang dravida saat itu antara lain pendek, hitam dan rambut keritting.

Ciri-Ciri Budaya Zaman Veda

Ini dapat dibuktikan dengan beberapa penemuan benda-benda sejarah dan  Seal/stamp/meterai yang berbentuk tablet bbulat, ada pula persegi panjang dan segi empat penemuan yang lainnya berupa terracotta, jimat-jimat/amulet,  patung-patung dan benda benda bersejarah lainnya.  Orang archaelogy menemukan Cirri-ciri khas pemeluk agama lembah sungai Shindu saat itu (3000 sebelum masehi)  antara lain:
- Pemujaan terhadap dewa shiwa
- Pemujaan Lingga Yony
- Pemujaan Mother Goodess (Dewa Ibu)
- Pemujaan terhadap binatang
- Pemujaan terhadap Pohon
- Pemujaan patung-patung
- Adanya yadnya kurban
- Adanya process upakara kematian
- Tidak adanya pemujaan terhadap leluhur
            Pada zaman ini juga orang-orang di Lembah Sungai Shindu memuja Ciwa sebagai dewa Pasupati/ciwa Yogiswara/dewa yoga karena ditemukannya benda bersejarah berupa Seal/stamp/meterai  yang berisikan orang yang sedang duduk beryoga dihiasi dengan mahkota dua tanduk dan kipas diantara tanduk sebagai simbul dari Trisula sebagai senjatanya ciwa. Pada gambar beryoga tersebut dikelilingi oleh beberapa gambar binatang buas sebagai bukti bahwa ciwa sebagai Dewa Pasupati.  Serta adanya lingga Yogi sebagai bukti bahwa saat itu ada system purusa pradana yang mana ciwa sebagai pencipta  atau dewa kesuburan.  Mother goodess (sebagai Dewa Ibu) berkembang menjadi dewi Prakerti/ Dewi Sakti/ Dewi Sri yang dilambangkan dengan pepohonan yang tumbuh diantara selangkang dari gambar pada Seal/stamp/materai sebagai dewi Kemakmuran atau Dewi Kesuburan, Dewi Tumbuh-tumbuhan, Dewi Pencipta, Dewi Kekuatan, Dewi perlindungan dari mara bahaya,  dan Dewi Penjaga Rumah.  Pada seal/stamp/materai itu ada gambar binatang seperti Kerbau,macaan, badak, kerbau, Ular dan gajah sebagi bukti bahwa pada zaman itu memuja binatang, kendaraan para Dewa seperti Kerbau kendaraan Bhatara Sanghyang Yama, Gajah kendaraan Dewa Indra, Harimau kendaraan Dewi Kali atau Dewi Durga, Badak danLembu sebagai Binatang yang disucikan.  Pemujaan Pohon sebagi bukti bahwa dipercayai sebagai tempat tinggaalnya roh-roh baik jahat maupun buruk.  Saat itu juga ada Yadnya Kurban sebagi bukti bahwa ada bagaian dari binatang yang sangat penting untuk persembahan sebagai kurban suci. Serta adaanyaa upakara kematian dengan cara dijembur seperti yang ada di daerh Terunyan (Di Bali), Upakara penguburan dan juga upakara pembakaran mayat.  Dan orang-orang Lembah Sungai Sindhu saat itu percaya setelah mati rohnya menuju ke kehidupan di dunia lain terbukti adanya berbagai peralatan kehidupan sehari-hari di tempat terkuburnya mayat seperti: pisau, sendok, piring dan sebagainya.  Juga disebutkan di Lembah Sungai Shindu adanya pemujaan terhadap Patung-patung sebagai symbol dari para Dewa. Mereka juga mempersembahkan berbagai bunga-bungaan, buah-buahan dan air.
            Akhirnya orang Arya menaklukkan orang-orang Dravida di lembah Sungai Sindhu kemudian orang-orang Arya makin meluas tersebar ke wilayah Sapta-Shindu Lambat-laun kebudaayaan dan agama lembah Sungai Shindu menyebar ke India bagian utara dan Gangga-Yamuan, kemudian orang-orang Arya menetap di Lembah Sungai Gangga. Pada zaman ini terjadi peperangan yang sangat sengit antara suku Bharata melawan perserikatan sepuluh raja (Dasa Rajan), akhirnya suku Bharata memenangkan peperangan dibawah penasehat Rsi Waistha. Perang ini terjadi setelah zaman Rig Veda yang kemudian dikemas dalam sebuah ceritra / epos yang kita kenal dengan Mahabharata Yuda. sebelum terjadinya bencana alam di daerah Lembah Sungai sindhu mengalami peperangan antar golongan, gempa bumi, cuaca sangat buruk kekeringan yang berkepanjangan sehingga pepohonan dan habitatnya mati menjadikan daerah ini kering dan menjadi padan pasir seperti kita ketahui di Pakistan sekarang .  Nah dari sinilah dipakai cikak bakal atau dasar agama Hindu yang tersebar keseluruh dunia.

Evolusi Kebudayaan dan Agama Hindu Zaman Veda
(sekitar 2000 SM-1000 SM)

            Pada zaman Veda ini para pendeta atau para penekun spiritual atau Maha Rsi atau Nabi dari bangsa Arya menerima wahyu yang kemudian hari dituliskan dalam bentuk kitab Suci Veda (Catur Veda). mendapatkan wahyu berupa bisikan-bisikan dan mulailah wahyu atau bisikan itu disebarluaskan dari mulut kemulut yang berupa ajaran cikal-bakalnya hindu lanjutan dari budaya Lembah Sungai Sindhu. Sumber keterangan mengenai orang Arya di India berasal dari kitab suci Veda yang disebut Veda Shruti. Kata Veda yang berasal dari kata “Wid” yang artinya Pengetahuan atau mengetahui.  Ajaran Veda ini diajarkan dari dulu kala dari mulut kemulut yang merupakan wahyu Tuhan dengan demikian Veda bukanlah buatan manusia melainkan wahyu Tuhan sehingga sangat disucikan oleh Umat Hindu. Maka terbentuklah Veda yang tertua dinamakan Rig veda. Sebagai cikal-bakalnya veda yang lain seperti sama vedaYayur Veda, dan Atharwa Veda.  Seperti kita ketahui bahwa untuk Rig veda berisikan doa/mantra/nyayian ketuhanan pengunaannya dengan dibaca. pada sama veda berisikan doa/mantra/nyayian ketuhan pengunaannya dengan dinyanyikan, dan Yayur Veda sama berisikan tentang doa/mantra/nyayian dan pada umumnya tentang upakara yadnya, sedangkan Atarwa Veda berisikan mantra tentang ilmu gaib. Ajaran ini tersebar ke seluruh India Barat Iaut India termasuk wilayah Sungai Saraswati sehingga pada zaman ini dikenal dengan Zaman Veda. 

Ciri-Ciri Budaya Zaman Veda

Pada zaman veda ini kehidupan masyarakat setempat memiliki ciri-ciri kebudayaan antara lain:
  1. Percaya adanya manesfestasi Tuhan yaitu para Dewa.
  2. Percaya adanya Tuhaan Yang Maha Esa.
  3. Pentingnya kedudukan upakara kurban suci
  4. Pentingnya pelaksanaan upakara kematian
  5. Percaya adanya leluhur
  6. Tidak memuja patung-patung
  7. Tegas disebutkan adanya 33 dewa.

Percaya Adanya Dewa-Dewa

            pada zaman veda ini disebutkan mereka percaya dengan dewa-dewa, mereka percaya ada dewa-dewa sebagi penolong yang amat baik sebagai berikut:  
  1. Yang terpenting adalah Dewa Indra, Dewa Indra sebagai Dewa Perang, Dewa Hujan, Dewa halilintar, Dewa penganugrah, Dewa sahabat manusia.
  2. Dewa yang terpenting kedua pada zaman Veda adalah Dewa Waruna/Baruna disebutkan sebagai Dewa Pengampun segala dosa (kita di Bali memiliki tradii melukat/mandi kelaut) , Dewa air, Pengukum yang bersalah, Dewa Alam Smesta, Dewa lautan Luas. 
  3. Juga ada beberapa dewa lainnya tapi tidak begitu diangap penting namun berperan antara lain Dewa Agni/ Dewa Brahma sebagai dewa perantara antara manusia dengan Tuhan (Guide manusia ke Tuhan) (ingat fungsi pasepan/ agni homa), sebagi Wujud dari Pendeta/dewa pelaksana upakara, Dewa yang memperbaiki kesalahan mantra, dewa Agni sebagai saksi (Di Bali kita ingat fungsi hasep/dupa), dewa yang dapat melihat segala-galanya dengan memiliki banyak muka dengan banyak mata. Sebagai Dewa penolak roh jahat (ingat di Bali kita membikin dapur di dekat pintu pekarangan).
  4. Dewa lain juga berperan di zaman veda adalah Dewa Ludra sebagai dewa tumbuhan obat-obatan, dewa pembunuh mahkluk hidup yang bersalah dan  Dewa Gunung.
  5. Dan dewa lainnya yang dipuja pada zaman ini yaitu Dewa Visnu sebagai Dewa matahari (Tri wikrama: terbit, siang dan terbenam). Dewa Maruti yang disebutkan sebagai Dewa Angin Ribut, Dewa Wayu sebagai Dewa Angin, DewaParjanya sebagai Dewa Awan,  juga disini disebutkan bahwa Dewa Aditya sebagai Dewa Matahari dipuja dengan berbagai wujud, misalnya sebagai Dewa mitra (Dewa yang bersifat dermawan), Dewa Aditya sebagai Dewa Surya (Dewa pemberi sinar), Dewa Aditya sebagai Dewa Sawitri (Dewa pemberi Gairah), Dewa Aditya sebagai Pushan (Dewa pemberi makanan) dan Dewa Aditya sebagai Dewa Sawita, Ashwin dan Usada. Dan juga Dewi Saraswati sebagai dewa Sungai dan dewa Ilmu pengetahuan pada zaman itu.

Percaya Adanya Tuhan Yang Maha Esa         

 Dan pada Rig Veda ditegaskan bahwa Tuhan itu adalah Esa yang memiliki banyak nama. Dalam kitab suci Rig Veda (Mandala X) menyatakan bahwa “yang ada berasal dari yang tidak ada” dan “ yang nyata muncul dari yang tidak nyata” yaitu kepercayaan monotheisme.  pada zaman ini tidak ada diajarkan menyembah dan membuat patung, ataupun membuat kuil-kuil tempat pemujaan mereka memuja Tuhan di tempat terbuka atau altar-altar seperti Padmasana (di Bali). Itu terjadi di zamaan Rig Veda antara tahun sekitar 1500 sebelum masehi-1000 sebelum masehi.  

Pentingnya Upacara Kurban / Yadnya

            Pada zaman Veda ini masyarakat bersifat orthodox yaitu tradisi mempersembahkan binatang sebagai kurban suci, seperti pada kitab atharwa veda disebutkan doa-doa untuk mengiringi binatang dalam upakara kurban, adanya yadnya kurban suci yang brtujuan:
       1. Mengharmoniskan keadaan alam
       2. Untuk mendapatkan kekuatan, kekuasaan dan kemenangan.
       3. Untuk memproleh kemakmuran, kesejahteraan, keselamatan dan agar tanah subur.
       4. Untuk mendapatkan pengampunan dosa.
       5. Sebagai bukti bhakti untuk mencapai sorga.
            Ada juga kurban upakara khusus lainnya dilakukan pada zaman veda ini bagi praktisi/pelaksana bertujuan seperti:
  • Untuk memproleh keturunan.
  •  Untuk mendapatkan kekayaan.
  •  Untuk memenuhi keinginan personal lainnya.
Pada zaman veda ini disebutkan bahwa dengan melakukan upakara yadnya juga  dipercaya akan mendapatkan hasil sebagi berikut:
  • Untuk membantu  roh binatang itu pergi kesorga (Regveda 1.162.21 penafsiran dari Rsi Viasa /Ortodox)
  • Untuk membebaskan dosa dari binatang itu dan juga untuk membebaskan dosa dari yang mempersembahkannya.
  • Binatang dikorbankan maka para dewa akan memebrikan kekayaan /rejeki pada orang yang melakukan yadnya persembahan tersebut.
  • Roh binatang yang dipersembahkan itu akan terlahir menjadi kehidupan yang lebih terhormat.
            Pada zaman veda ini ada berbagai macam yadnya besar yang dilakukan diluar rumah atau ditempat umum disebutkan dalam kitab Rig veda jenis upakara kurban itu antara lain:
  •  Ashwanedha yadnya yaitu suatu persembahan binatang kuda termasuk persembahan manusia, ini sutu persembahan yang sangat utama. Dipersembahkan dengan cara disemblih atau dilepaskan, disebutkan upakara yang utama membutuhkan 609 jenis binatang baik binatang yang hidupnya di air, darat dan udara. Upakara seperti ini hanya boleh dilakukan oleh pejabat  tinggi pemerintahan, kaum bangsawan/raja yang dilakukan selama kurun waktu satu tahun. Pada pelaksanaanya binatang kuda dihias dengan berbagai pernak-pernik yang mewah dan mahal kemudian binatang kuda itu dilepas bebas selama satu tahun namun diikuti oleh Putra Mahkota dan para prajurit kerajaan yang terlatih yang bertujuan memperluas wilayah jajahannya.  Apabila kuda tersebut melewati wilayah lain tanpa mendapatkan perlawanan dari pemilik wilayah tersebut yang berarti wilayah baru yang dilaluinya menjadi miliknya. Setelah pelaksanaan upakara ini selesai maka kuda tersebut dipersembahkan dan disemblih.
  • Agni Dheya yaitu: upakara persembahan pendahuluan sebelum mempersembahkan upakara yang lainnya, dini ditafsirkan sebagai caru berupa binatang.
  • Raja Suya yadnya yaitu suatu persembahan untuk penobatan sebagai seorang raja dengan melakukan kurban binatang.
  • Waja Peya Yadnya yaitu Kurban binatang untuk acara penobatan pendeta/orang yang disucikan pada saat itu.
  • Sarwa Nedha Yadnya  yaitu persembahan berbagai jenis binatang untuk kesuburan/mendapatkan berkah.
  • Dan yadnya kurban lainnya.
            Pada zaman veda ini juga adanya upakara Agni hotra, bentuk tempat pelaksanaan Agni hotra yang berupa pasepan berbentuk binatang dan ukurannya tertentu (baca ayurveda tentang agni hotra), upakara Agni hotra ini yang digolongkan menjadi 3 macam jenis antara lain:
  • Dhaksina agni
  • Graha agni (dipakai saat upakara perkawinan)
  • Ahawaniya agni

Pentingnya Pelaksanaan Upakara Kematian

Pada zaman veda dilaksanakan upakara kematian, pada zaman veda upakara kematian berupa:
  • Dengan cara penguburan/ditanam yang dikenal dengan nama An Agni Dagdha.
  • Dengan cara dibakar/ dikremasi yang dikenal dengans ebutan Agni Dagdha.

Tidak Adanya Pemujaan Leluhur secara khusus

            Pada zaman Veda ini peracya setelah menjadi leluhur akan tinggal di tempat Indra Yama (alam para Dewa) dengan standard sama seperti para dewa. disebutkan bahwa :
  • Leluhur akan memeberikan perlindungan, kesejahteraan/rejeki, dan kesehatan
  • Leluhur tidak akan menyakiti keturunannya yang bersalah/berdosa
  • Leluhur akan memberikan keturunan serta kekayaan kepada keturunannya.

Tidak Adanya Pemujaan Patung-patung

            Tentang pemujaan dengan menggunakan patung-patung tidak disinggung pada zaman veda ini, sehingga ditafsirkan tidak menggunakan sarana berupa patung-patung seperti pada zaman  Lembah Sungai Shindu adanya archa/benda sejarah yang ditemukan bahwa menggunakan sarana Patung-patung sebagai sarana pemujaan.
            Tidak disebutkan adanya tempat persembahyangan tertutup seperti gedong (dibali) mandir (di India) namun ditafsirkan hanya berupa altar terbuka sertiPalinggih Surya, padmasana (di Bali).
            Pada zaman veda ini yang terpenting adalah upakara yadnya, diyakini bahwa sorga didapat dari upakara yadnya. Pada zaman ini suatu ajaran yang optimisme, para dewa sangat baik sehingga yakin benar baik, merupakan agama kepuasan hati atau agama rasa yang disebutkan sebagai symbol rasa bhakti (Amanastuti). Benih-benih filsafat sudah disampaikan namun belum begitu berkembang karena pada zaman ini hanya ada Rig Veda.
            Lainnya setelah Zaman Rig Veda sekitar 1000 sebelum masehi – 800 sebelum masehi dapat dijumpai pada kitab suci Sama veda, Ayur Veda dan Atharwa Veda termasuk kitab kitab Vedanta. Ke empat veda tersebut diatas oleh  Bhagawan Byasa atau Krisna Dwipayana mengkondifikasikan kedalam Catur Veda.  Bhagawan Byasa juga menulis kitab-kitab Purana dan Mahabharata.  Seperti kita ketahui bahwa Kitab Suci Veda dibedakan menjadi 4 kelompok Veda, antara lain:
1. Rig Veda: Suatu veda yang memuat tentang Mantra/Doa kepada paraa dewa-Dewi yang pemakaiannya dominan dibaca.
2. Sama Veda: Suatu Veda yang berisikan tentang Mantra/Doa kepada Dewa-Dewi namun pemakaiannya dinyanyikan.
3. Yayur Veda: Suatu veda yang berisikan tentang Mantra/Doa pada Dewa-Dewi yang pada umumnya memuat tentang upacara Yadnya.
4. Atharwa Veda:  Suatu  veda yang berisikan tentang ilmu Gaib.
            Pada zaman sama Veda ini perekonomian , politik dan budaya sangat maju pesat sehingga tersebarnya agama veda makin meluas. Sehingga pada zaman ini isi veda yang berupa pujuan/doa atau mantra-mantra mulai dinyanyikan bukan sekedar dibaca saja pada acara keagamaan seperti pada zaman Rig Veda. Kemudian nyanyian pujian/doa atau mantra ini dikondifikasikan dalam kitab Sama veda.
            Selanjutnya Zaman Yayur Veda, mulai lagi dikumpulkan sloka-sloka baru, dan pada zaman ini economi sangat subur dan situasi politik membaik dan orang-orang Arya saat itu memperkuat kekuasaan dan kedudukan di masyarakat maka mulailah disusun berupa cara-cara melakukan upakara yadnya(kurban suci) dan diperkuat dengan petunjuk-petunjuknya kedalam kitab suci Veda Yayur Veda. Dan yadnya-yadnya itu dibagi-bagi menjadi beberapa klasifikasi menurut tujuannya masing-masing. Kedudukan yadnya pada saat itu sangat penting.Yadnya adalah satu-satunya jalan untuk bisa mencapai moksa. Yadnya pada saat itu sudah disesuaikan pada daerah-daerah setempat.
             Diteruskan dengan zaman Atharwa veda yang memuat  berbagai hal tentang nilai kemagisan/magic. Suatu kitab yang berisikanmantra-mantra penolak ilmu sihir/ilmu hitam, untuk melindungi orang sakit dan mantra untuk melawan penyakit itu sendiri. Dan juga di kitab Atharwa Veda ini berisikan mengenai upakara pemakaman Jenasah.
            Pada saat upakara berlangsungnya upakara yadnya ketiga kitab suci Veda (Rig Veda, Sama Veda dan Yayur Veda) harus dibawa dibaca dan atau dinyanyikan oleh para pendeta(Brahmana) dan semua upakara yadnya mengacu pada petunjuk kitab veda suci Ayur veda. Pada kitab Ayur veda (mandala X) juga disebutkan adanya upacara yang dilakukan harus memakai selempot/selendang senteng (Mekhala) yang dililitkan sekitar pinggang, dan juga memakai destar atau ketu (Ushnisha) yang dipakai di kepala.
            Pada zaman Veda ini ada berupa korban binatang dengan tujuan:
Mengharmoniskan keadaan alam (Rta), Untuk mendapatkan kekuatan, kekuasaan, kemenangan, untuk memproleh kemakmuran, kesejahteraan, keselamatan, agar tanah subur, dan untuk mendapatkan pengampunan dosa dan untuk mendapatkan sorga.
            Pada zaman Veda ini (zaman agama Veda) penganutnya memuja Sinar atau Dewa dari Prakerti (Alam) yang mana sinar ini sebagai manesfestasi dari Brahma(Tuhan). Berasal dari kata Brh yang memiliki arti Tumbuh atau tercipta, dari kata Brhati yang memiliki arti penyebab sesuatu yang tumbuh atau yang tercipta. Orang-orang Arya sangat tertarik dan terpesona akan cahaya yang cemerlang keindahan dan kedahsyatan serta keagungan Prakerti yang kemudian dipuja sebagai Surya (Matahari), Indra (Halilintar)  Wahyu (Angin), Agni (api), Pratiwi (bumi) dan lain sebagainya. Menurut suku bangsa Arya saat itu dewa-dewa yang terpenting adalah Dewa Indra dan Dewa Waruna. pada zaman itu orang Arya dan orang asli lembah Sindhu dan orang Dravida menyebut agama mereka berbagai nama, antara lain Agama WaidikaTantrika dan juga Sanatana Dharma.  Namun orang-orang Persia menyebutnya agama Hindu, karena menyebut kata Shindu dengan huruf S nya tidak bisa.  Kemudian zaman Purana disebutkan orang Arya di lembah Sungai Sindhu memebri nama agama mereka Agama Purana, mamun ada lain yang menyebut agama Veda. Pada agama Veda diajarkan secara lisan dari mulut kemulut kemudian ditulis dikit demi sedikit. Kitab Veda ini berisikan pengaturan masalah-masalah keagamaan seperti upacara-upacara keagamaan dan ritual-ritual lainnya serta Yadnya yang mana semua ini wajib dilaksanakan oleh setiap orang dari masa di dalam kandungan sampai meninggal.  Di Veda ini disebutkan konsep Catur Ashrama sebagaai sebuah kerangka hidup yang berlaku.  Serta di veda tersebut disebutkan kedudukan dan pelaksanaan Yajna, juga disebut  pengucapan dan pembacaan sloka-sloka suci veda yang menemani hidup sampai mati adalah konsep penting menurut Veda, namun di India konsep ini sudah mulai punah bahkan di Bali seperti kita lihat sendiri nyaris punah karena masyarakat lebih cendrung mencari jalan pintas agar lebih efficient karena berharganya waktu dan kesempatan untuk berkarya memenuhi kebutuhan hidup yang lebih modern sesuai tuntutan zaman yang ada. Jadi Hindu yang berkembang sekarang ini sudah perpaduan antara Suku bangsa Arya, suku bangsa Dravida yang hidup di lembah Sungai Shindu dan combinasi dari evolusinya termasuk budaya dari suku bangsa-bangsa lainnya yang contak langsung dengan perkembangan Hindu sampai saat ini.


Zaman Kemunduran  Agama Hindu (± 600 SM-200 SM)

Pada abad ke-6 sebelum masehi, ajaran agama Brahmana ditandai dengan munculnya penafsiran terhadap kitab suci Catur Veda yang melahirkan kitab-kitab Brahmana, Aranyaka, dan upanizad. Namun demikian, penafsiran ini hanya dilakukan oleh para Rshi yang memiliki otoritas untuk dan berlangsung dalam tradisi perguruan (Guru Parampara) yang kuat dan kepercayaannya yang kuat. Meskipun upanizad berisi pemikiran filosofis dan spekulasi metafisis, tetapi ini merupakan ajaran rahasia yang berlangsung antara guru dan murid. Ini ditegaskan dengan kata “Upanisad”  yang berarti “kedudukan dekat dengan guru” untuk menerima ahjaran-ajaran mengenai rahasia ke-Tuhan-an (Brahma rahasyam).
Pada Zaman ini, kitab catur veda dipelajari dan ditafsirkan dengan bebas oleh siapapun. Kebebasan ini menyebabkan timbulnya beberapa ajaran dan aliran yang berbeda-beda. Dan beberpa kalangan tidak mengakui sebagai otoritas veda sebagai kitab suci. Pada zaman itu ditentang oleh aliran Budha, Jaina, Charwaka, Ajiwika, Prawrajika, Nirgata dan lainnya.  Mereka menolak otoritas dan kekuasaan kitab suci weda, juga seluruh upakara ritual yang bersumber dari kitab suci weda, sebaliknya mereka mendukung, mengajurkan etika (moralitas), mengagungkan nilai-nilai kehidupan, ahimsatapa brata yang keras, dan penebusan dosa dengan jalan yang luarbiasa untuk mencapai moksa. Ditekankan pada ajaran hidup yang tertinggi adalah kebebasan atman dari keterikatan duniawi yang sebagai penyebab penderitaan (dhuka). Hanya dengan mengetahui jalan duka dan mengatasi penyebabnya orang akan mencapai kebebasan dari kelahiran dan kematian yang disebut nirwana. Menentang kebenaran veda, mengutuk adanya korban binatang, menentang upakara ritual, menentang catur warna(kasta) dan menentang kekuasaan para pendeta.
            Ajaran ini mampu menarik simpati masyarakat luas di India, karena caranya sangat sederhana. Ajaran Budha menyebar begitu cepat keseluruh India sehingga sebagian besar penduduk yang beragama Hindu (Brahmana) beralih agama ke agama Budha, sehingga orang yang masih taat ajaran Brahmana, hanya kaum bangsawan  dan aristokrat yang masih bertahan.  Zaman ini merupakan zaman keemasan agama Budha (the Golden age of Budhism) di India. Akibatnya agama di India pecah menjadi dua golongan yaitu golongan Ortodoks/Smarta/Karma Kandi (mereka yang masih menganut agama Brahmana) dan golongan rasionalis  (golongan Bhuda, Jaina, dan sebagainya), dengan meluasnya ajaran aliran rasionalis ini maka agama Brahmana mengalami kemunduran yang luar biasa sehingga disebut zaman kemunduran agama Hindu. Hanya orang-orang Hindu yang masih taat saja yang tetap beragama Hindu dan sebagain besar hanya golongan Brahmana, golongan bangsawan dan aristocrat.  Pada zaman rasionalis ini, dinyatakan bahwa Nirwana tidak dapat dicapai melalui yadnya, tapa brata ataupun Brahma widya, melainkan hanya dapat dicapai dengan melalui jalan spiritualitas, etika dan perbuatan baik. Aliran rasionalis mennetang kebenaran veda, menentang upakara yadnya yang banyak dan rumit, menentang agama yang bersifat aristocrat, menentang dengan adanya system warna (kasta), menentang penggunaan bahasa Sangsekerta, menentang pembunuhan binatang untuk pelaksanaan upakara yadnya namun menekankan ajaran ahimsa secara ketat serta menentang kekuasaan Brahmana dalam mengatur keperluaan spiritual masyarakat. Dan dari segi politik di zaman ini dipimpin oleh sorang raja beraliran Budha. Agama Budha ditetapkan sebagai agama negara, sehingga para raja-raja yang ada melarang melakukan ritual yadnya yang menggunakan kurban binatang.  Pada saat itu dengan rajanya yang kuat yaitu kerajaan Magadha.  Dan sampai-sampai kuil-kuil Brahmana diancurkan.

Zaman Kebangkitan  Agama Hindu (± 200 SM-300 M)

Hari semakin hari berlalu,  kaum Brahmana bangkit, mulai mengadakan pembrontakan melawan pemerintah kerajaan  Magadha yang beragama Budha. Dari kalangan Brahmana dipimpin oleh Pushyamitra (Mahajan), dia adalah seorang Brahmana yang menjabat sebagai senapati dikerajaan Magadha. Pusyamitra berasil membunuh raja terakhir dari Dinasty Maurya yang bernama Brihadratha pada tahun 184 SM. Dalam kitab Harshacarita disebutkan bahwa saat raja Brihadrathasedang mengadakan pemeriksaan pasukan dalam sebuah parade, saat itulah ia dibunuh oleh Pushyamitra. Setelah itu Pushyamitra mampu merampas kerajaan Maurya, kemudian mendirikan dinasty Brahmana yang disebut Sungga.
Pada zaman pemerintahan Pusyamitra ini melarang masyarakat mengikuti aliran budha, bahkan pengikutnya tidak segan-segan dibunuh termasuk Bhiksu dan kuil-kuil budha (wihara) diancurkan. Pushyamitra adalah seorang raja Brahmana yang pantang mundur untuk melindungi, mempertahankan dan menyebarkan agama Brahmana. Dia menobrak dan mengancurkan penyebar agama Budha di India. Dia membangkitkan kembali ritual yadnya seperti upakara Aswamedhayadnya, yaitu suatu upakara yang terbesar agama Brahmana. Pada zaman ini masyarakat memuja Dewa Wasudewa disamakan kedudukannya seperti Dewa Wisnu dalam kitab veda. Para penganutnya memuja Lingga, yang merupakan warisan dari pemujaan di lembah Sungai Shindu. Pada zaman veda pemujaan lingga hanya dilakukan oleh orang-orang Dravida namun kemudian meluas pada orang-orang Arya. Ajaran ritual mulai berkembang (Karma kanda) yang bersumber dari kitab suci veda dan juga berdasarkan kitab-kitab Brahmana. Dewa Siwa diakui sebagi Dewa tertinggi yang kedudukannya disamakan dengan Dewa Ludra dalam kitab veda.  Namun pada zaman ini bahwa nama-nama dewa yang disebutkan dalam kitab Veda seperti Dewa Indra, Waruna, Agni dan Aswin tidak dianggap sebagai dewa yang terpenting lagi yang digeser kedudukannya oleh umat Hindu di India, namun dewa lainnya yang zaman veda tidak penting seperti Dewa Wisnu, Shiwa dan lain-lainnya mendapat kedudukan cukup penting di zaman Pushyamitra ini.
            Pada zaman ini untuk mengindari salah penafsiran kitab suci veda seperti pada zaman upanisad sebelumnya, maka dilarang masyarakat umum mempelajari kitab veda. Sehingga bermunculan penulisan sastra-satra suci oleh kaum Pendeta Brahmana yang disebut dengan nama Pancama Veda, seperti kitab-kitab itihasa (Ramayana dan Mahabharata), Bhagavad Gita, Shwetaswatara, kitab-kitab purana, dan sebagainya. Kitab pancama veda ini boleh dibaca oleh masyarakat umum dan dikatakan kesuciannya sama dengan kitab suci veda.  Pada zaman ini berkembang juga sistem filsafat Hindu yang bersumber dari kitab-kitab Upanisad.  Seperti kitab-kitab Sutra yang menjadi sumber ajaran dari filsafat Hindu (Sad Dharsana yaitu Nyayasutra (Nyaya), Waisesika, Samkhya, Yoga(yoga sutra),Mimamsasutra dan Vedanthasutra). Isi dari sistem filsafat ini tentang uraian alam semesta, pencipta dan ciptaan-Nya, dan pertanyaan tentang hidup dan mati secara logis-filosofis.
            Para pendeta Brahmana menyusun kembali tentang ajaran ritual yadnya agar mudah ditafsirkan, dengan kalimat-kalimat yang pendek-pendek sehingga disebut kitab Sutra.  Seperti kitab kalpasutra yang terdiri dari Srautasutra yang berisikan mengenai upakara umum, Grihyasutra yang berisikan mengenai upakara dirumah tangga, Dharmasutra sulbasutra.  Pada zaman ini terjadi pengakuan terhadap semua adat istiadat di daerah.  Bahkan hukum sosial sudah dipakai sebagai hukum agama, sehingga siapa yang melanggar adat dianggap melanggar hukum agama. Pada zaman ini Dharmasastra menjadi kitab hukum Hindu yang juga menjadi sumber hukum sosial India pada zaman itu.
            Berdasarkan uraian ditas dapat disimpulkan bahwa ciri penting pada zaman kebangkitan agama Hindu atau agama Brahmana ortodoks adalah: Kitab suci Catur Veda tidak boleh dibaca untuk umum, sebagai penggantinya ditulislah kitab-kitab pancama Veda, Itihasa (Ramayana dan Mahabaratha) dan kitab-kitab Purana; Munculnya pemujaan kepada Trimurti (Brahma, Wisnu, Shiwa) ; munculnya ajaran Sad Dharsana; semua adat-istiadat harus tetap jalan; munculnya perhitungan Yuga.  Ajaran Brahmana Ortodoks (Brahmanisme) yang datang ke Indonesia sekitar abad pertama Masehi. Kemudian ajaran ini menyebar luas ke pulau jawa abad ke -5 Masehi, dan akhirnya berkembang ke Bali sampai sekarang, dengan dibuktikan oleh berbagai peninggalan arkeologis dan kesusastraan Hindu di Indonesia.

Zaman Purana
ZAMAN KEMASAN AGAMA DAN KEBUDAYAAN HINDU 
(±300 Masehi - 700 Masehi)

……………………………………………………………………………………………..
Pada akhir zaman brahmana (zaman kebangkitan agama hindu), kehormatan agama hindu, yang sempat hilang karena menguatnya pengaruh agama Buddha di india dapat di raih kembali. India kembali di perintah oleh raja-raja beragama hindu dari keturunan dinasti gupta. Perkembangan agama hindu (brahmanisme) pada zaman ini mendapatkan dukungan penuh dari raja dan seluruh apiratur kerajaan (tripathi, 1999 :255). Mereka semua aktif mengembangkan dan mengagungkan agama hindu. Upacara yang dahulu sudah tidak di laksanakan lagi, sekarang di laksanakan kembali dengan tertib dan khidmat (macmillan (ed), 2001 : 72). Dengan diperintahnya kembali  India oleh raja-raja yang beragama Hindu maka agama dan kebudayaan Hindu tumbuh subur dan berkembang.
            Walaupun demikian, agama dan kebudayaan hindu yang berkembang pada zaman ini  merupakan kelanjutan dari zaman brahmán akhir  (200 SM – 300M ). Salah satu cirri  terpenting dari zaman brahmanan akhir (Revial of hindusim) adalah munculnya mazhab –mazhab dalam agama hindu. Secara teologis. Kemunculan mazab-mazab ini (testic religios) telah menggeser dewa-dewa yang semula  di puja dalam kitab suci weda dan digantikan dengan dewa-dewa lain yang diyakini sebagai tuhan oleh mazhab tersebut (mahajan,2002:375;majumdar, 1998:171).
            Dari sekian mazhab yang ada, mazhab waishnawa dan mazhab shiwa sangat terkenal pada zaman ini. Mazhab waishnawa mengagungkan  dewa wasudewa yang disamakan dengan Dewa Wishnu dalam weda, sedangkan mazhab shiwa mengagungkan Dewa Shiwa yang disamakan dengan Dewa Rudra dalam weda (thapar,1979:161). Selain itu, juga muncul mazhab besar lainnya, yaitu shakta (pemujaan shakti), ganapatya (pemuja ganesha), dan sora (pemuja surya) (majumdar, 1998:171). Kelima mazhab disebut Panca Sakha atau Panca Upasakha, atau Panca Yatanapuja. Walaupun demikian, tidak ada perbedaan yang tegas antara kelima mazhab tersebut (Panca Sakha)  Oleh karena itu lebih tepat disebut sebagai lima bentuk pemujaan kepada ista dewata. Ini penting dipahami untuk membedakan dengan mazhab-mazhab yang lahir pada zaman purana (historical tradition) (thapar, 1979:163).
            Dalam hal kesusasteraan Hindu, zaman Brahmána akhir juga di tandai dengan ditulisnya kitab-kitab Pancama Weda. Kitab ini sebagai pengganti kitab suciCatur Weda yang pada masa itu tidak boleh dibaca masyaeakat umum. Ini menyebabkan setiap mazhab menulis dan mengagungkan satu atau beberapa Panca Weda, sebagai kitab yang paling disucikan dalam mazhabnya. Malahan, kesuciannya diyakini sama dengan kitab CaturWeda  (mahajan, 2002:566; sulivan, 1998:5). Penulisan kitab-kitab ini terus berlanjut seiring dengan semakin berkembangnya mazhab-mazhab (pancha upasakha ) dalam agama Hindu.
            Kesusasteraan Hindu yang penting pada zaman ini adalah kitab-kitab Purana. Secara tradisi, diyakini bahwa kitab Purana di tulis oleh Maharsi Wyasa dan umumnya disebut  Pancama Weda (shastri, 1973:v) ada 18 (delapan belas) kitab purana mayor (mahapurana) dan 18 (delapan belas)  kitab purana minor seperti misalnya, Shiwa Purana adalah salah satu kitab suci dari mazhab shiwa: brahmanda purana adalah kitab suci dari mazhab shakta : bhagawatam puranam adalah salh satu kitab suci dari mazhab waishnawa, dan lain-lain (mahajan,2002:376;majumbar ,1998:438; mani, 1984:617)
            Bermunculannya kitab-kitab  purana (Histirical Tradition) seiring dengan tumbuh-suburnya mazhab-mazhab dalam agama hindu sehingga zaman ini disebut zaman purana, zaman ini berlangsung dari tahun 300 masehi  hingga 700 masehi (Kundra, 1968 : 187). Adapun agama hindu pada zamn itu disebut agama purana (Puranic religión) (Sharma, 2001 : 101 ; Luninya, 2002 : 190). Berbeda dengan agama Brahmana (Brahmanismeotodiks)  yang menitik beratkan pada pelaksanaan upacara yajna dan persembahan kurban binatang,  agama purana justru bersifat sektarian. Artinya, pada zaman ini muncul banyak sakte (mazhab) yang secara tegas berbeda antara sekte  yang satu dengan sakte yang lain. Setiap sakte ini memiliki kekayakinan dan tata caranya sendiri ; adapun karateristik sebuah mazhab atau sekte, antara lain: memiliki nama Tuhan sendiri; memiliki kitab suci sendiri; memiliki sadhana sendiri; doktrin ajaran sendiri; memiliki ritual pemujaan yang khas; memiliki kosmologi dan kosmogoni sendiri; memiliki ajaran yoga-nya sendiri; memiliki kepercayaan moksa sendiri; dan memiliki sisitem filsafat sendiri (Rejeev, 1990).
Sebagai kelanjutan dari zaman Brahmana akhir, Mazhab Waishnawa dan shiwa juga semakin berkembang pada zaman purana ini. Akan tetapi, ajaran-ajaran dari mazhab waishnawa mengalami banyak perubahan Di bandingkan dengan ajaran awal pada zaman kemunculannya sekitar abad ke kedua sebelum masehi.  Perubahan dalam mazhab waishnawa ini terutama karena di pengaruhi oleh agama budha. Ajaran-ajaran yang berasal dari agama budha seperti, ahimsa,vegetarian (Majumdar, 1998 : 431 ; Luniya, 2001 : 196),  pemujaan patung, penolakan terhadap sistem kasta, dan pembangun kuil-kuil, pada akhirnya menjadi bagian dari ajaran mazhab waishnawa (Kundra, 1968 : 177; Luniya, 2001: 208).  Pada zaman ini juga sapi mulai di sucikan, bahkan di puja terutama oleh penganut waishnawa, sedangkan lembu di sucikan oleh penganut shaiwa.
           
Perkembangan mazhab bhagawata waishnawa semakin pesat.  Ini di tandai dengan munculnya sub-sub sekte yang intinya memuja dewa whisnu. Ajaran mengenai awatara yang muncul dalam kitab-kitab purana mulai di yakini oleh penganutnya (Sharma, 2001 : 101). Akhirnya muncul pemujaan kepada awatara dewa wishnu seperti , rama,khrisna, narasinga,dan lain-lain. Demikian pula pemujaan kepada dewa laksmi, radha,hanuman, dan garuda mulai berkembang dan mengakar dalam masyarakat (Tripathi, 1999:268-269). Mazhab Waishnawa menekankan  tiga macam jalan untuk mencapai moksa, yaitu: pertama, melalui karmamarga (perbuatan), kedua, melalui jnanamarga (jalan ilmu pengetahuan) dan ketiga, melalui bhaktimarga (jalan berbakti). Dalam pelaksanaan karmamarga, cara-cara pelaksanaan upacara keagamaan secara tepat dan benar harus di lakukan (Macmillan (ed), 2001 : 78-79; Rajeev, 1990:21). Sebaliknya, mazhab shiwa tetap menjalankan ajaran ritual berdasarkan ajaran kitab-kitab brahmana.  Mereka tetap melaksanakan upacara yajna, korban suci binatang, dan hidup non-vegetarian (boleh memakan daging) (Sharma, 2001:68)
            Dengan adanya perbedaan ajaran yang mendasarkan dari kedua mazab ini, maka agama hindu pecah untuk kedua kalinya. Mazhab waishnawa disebut golongan rasionalisme atau golongan Jnana kandhi  yang menerima kebenaran filsafat, rasio, dan logika. Mazhab ini menentang upacara kurban seperti yang disebutkan dalam kitab suci weda, menolak perbedaan warna,dan kekuasaan pendeta. Golongan rasionalis ini di sebut juga dengan nama golongan Wedantis (Sharma, 2001 : 68). Sebaliknya , mazhab Shiwa disebut golongan ortodoks atau golongan krama-kandi atau golongan mimamsaka atau umumnya disebut golongan tradisi. Mazhab shiwa ini mendasarkan pemikirannya pada pentingnya ritual, serta tetap mempertahankan tradisi seperti yang di ajarkan dalam kitab suci weda dan penjelasannya berdasarkan kitab-kitab brahmana. Mereka tetap mempertahankan dan melaksanakan upacara yajna sebagai  dasar ajaran yang terpenting dan umumnya  mereka tidak vegetarian (Sharma, 2004 : 68).
            Mazhab waishnawa dan shiwa saling bertentangan untuk mempertaruhkan prinsip-prinsip kepercayaan masing-masing. Pada zaman ini pula muncul mazhab lain sebagai penengah yang di sebut mazhab brahmana atau mazhab smarta atau mazhab yang berdasarkan tradisi. Mazhab brhamana-smarta ini muncul pada abad pertama sebelum masehi. Mazhab ini mengajarkan penyembahan pada dewa trimurti, yaitu brahma, wishnu dan rudra ( Majumdar, 1998 : 177 ; Rajeev, 1990:21).
            Selain mazhab waishnawa dan shiwa seperti yang tersebut di atas, masih banyak lagi mazhab dan sub-sub mazhab seperti, shiwa shakti,Ardhanareshwari, Harihara, dan lain-lain. Demikian pula, pemujaan ganesha, surya (sora), dan shakti tumbuh dengan pesatnya di kalangan masyarakat (Tripathi, 1999:269; Khanna, 1967 : 132; Rajeev, 1990:22-25). Pada zaman ini juga, mazhab trimurti yang sudah muncul sejak abad pertama sebelum masehi berkembang luas di kalangan masyarakat (Mahajan, 2002:375). Mazhab yang menyembah trimurti (brahma-wishnu-shiwa) ini ikut menyebar ke indonesia bersama dengan mazhab shiwagama dan waishnawagama. Zaman  purana ini memang tepat disebut zaman keemasan agama hindu (The Golden Age Of
Hindusm) (Kundra, 1968 : 168). Mengingat agama hindu sudah mulai tersebar ke seluruh India, Bahkan juga tersebar keluar negara india termasuk ke Asia Tenggara dan indonesia, bahkan sejak abad pertama masehi (Kundra, 1968 : 187 ; Luniya, 202:189).
            Perkembangan agama Hindu di India dan penyebarannya ke luar india, tiak dapat dilepaskan dari semakin berkembangnya ajaran tantrayana atau tantrisme pada abad ke-5 mashi (Thapara, 1979:16). Kitab-kitab tantrayana yang umum di sebut kitab agama atau kitab tantra. Banyak di tulis pada zaman ini. Kitab tantrayana ini di bagi menjadi dua , yaitu kitab daksinagama dan wamagama. Setiap mazhab dalam Tantrayana memiliki kitab-kitab sendiri, Shiwagama, shaktagama, Waishnawagama, dan lain-lain (Banerjee, 1988:367-468).
            Kitab  Waishnawagama berisi tentang teologi, atribut-atribut para dewa, mantra, cara mengucapkannya, cara meditasi, dan lain-lain. Hal-hal ini diuraikan secara panjang lebar dalam kitab tersebut. Kitab Waishnawa gama ada dua macam, yakni Pancharatra dan Waikanagama (Gupta, 2000:xv-xviii). Sementara itu,kitab Shiwa gama jumlahnya sebanyak 208 buah. Paling terkenal dari kitab Shiwa gama adalah Pasupata Sutra, Tattwa Sanggraha, Moksa Karika, dan lain-lain. Sedangkan kitab Saktagama berjumlah 64 buah dan yang terpenting adalah Sarada Tilaka, Mantra Maharnawa, dan lain-lain (Rao, 1999:168).
            Pada zaman purana ini, mazhab shiwa juga berkembang pesat dan menyebar luas ke seluruh India. Mazhab shiwa pertama kali muncul pada abad pertama sebelum masehi. Pada zaman ini, mazhab shiwa memiliki banyak sub-sekte seperti misalnya, mazhab pasupata, kapalika, kalamuka,linggayat, dan lain-lain (Mahajan, 2002:532-538; Majumdar,1998:432-433). Menurut ajaran mazhab shiwa, moksa hanya dapat dicapai dengan jalan bhakti melalui samskara dan sadhana pancamakara (lima macam persembahan), dengan jalan yoga, dan setelah mendapat anugerah dari shiwa. Ajaran dan filsafat semacam ini disebut filsafat shiwa siddhanta (Law, 2000:1-17). Sementara            
itu, mazhab shiwa-bhairawa, kalamukha, dan kapalika, melakukan ritual pemujaan dengan persembahan berupa sadhana pancamakrama  ( biji-bijian, daging, ikan, dan lain-lain) (Dutt, 1997:xx). Mazhab shiwa umumnya masih mempertahankan ajaran-ajaran upacara kurban sebagaimana diajarkan dalam kitab suci weda dan kitab-kitab brahmana (Thapar, 1979:160).
            Tantrayana berpengaruh sangat kuat dalam masyarakat, bahkan mampu mempengaruhi seluruh mazhab yang ada dalam agama hindu (Sharma, 2001:328;nLuniya,2002:204). Tanpa kecuali juga mempengaruhi mazhab shiwa dan mazhab waishnawa, sehingga muncul mazhab shiwatantra atau shiwagama dan waishnawatantra atau waishnawagama. Mazhab tantrayana ini memusatkan pemujaan kepada shakti atau istri  dari dewa-dewa. Seperti pemujaan kepada durga, prawati, sakti atau bhairawi sebagai shakti dari dewa shiwa. Demikian juga pemujaan kepada mahalaksmi sebagai shakti dewa wishnu, dan mahasaraswati sebagai shakti dewa brahma. Demikianlah pemujaan kepada shakti (istri dewa ) menjadi ciri penting ajaran tantrayana. Mazhab ini muncul dan berkembang pesat sekitar abad ke-5 masehi, tetapi bibit-bibit ajarannya
sudah dapat di rujuk dalam agama dravida atau lembah sungai sindhu (Gupta, 2000: xviii-xix; Sharma, 2001:328).
Munculnya ajaran Tantrayana menjadi ciri penting pada zaman purana ini. Oleh karena itu perlu dijelaskan secara singkat ciri-ciri ajaran tantra. Menurut ajaran tantra, moksa dapat dicapai dengan sadhana(disiplin rohani)mempersembahkan semua pancatattwa, yaitu persembahan biji-bijian ( mudra), daging ( mamsa ), ikan ( matsya), minuman keras (mada), dan simbol-simbol lingga-yoni ( maithuna ) melalui bhakti yogatantra dan dengan mendapatkan anugerah shiwa (Dutt, 1997:81; Mahajan, 2002:668). Selain itu, ajaran tantrayana juga menganjurkan persembahan binatang kurban seperti kerbau, kambing,burung, dan lain-lain. Dalam ajaran tantra juga diajarkan tentang persembahan darah (bali : nyambleh). Pusat perkembangan ajaran tantrayana dan shakta trutama adalah di wilayah assam, india timur.
            Apabila diamati lebih jauh bahwa hakikat ajaran tantrayana memiliki keserupaan dengan praktik agama hindu di indonesia. Ini dapat dibenarkan karena agama hindu yang datang ke indonesia sejak abad pertama masehi adalah semua mazhab yang muncul pada zaham purana terutama adalah mazhab shiwagama atau shiwatantra dan waishnawagama atau waishnawatantra. Kedua mazhab ini menekankan ajaran untuk melaksanakan yajna (korban binatang) dan panca tattwa sebagai salah satu sarana dan sadhana mencapai moksa. Lain dari pada itu bahwa agama hindu di indonesi juga mewarisi filsafat shiwa sidhanta yang berkembang di india selatan.
            Ciri penting lainnya dari zaman ini adalah munculnya pemujaan pancayatana puja (bali : pengider-ider). Setiap mazhab bahkan memiliki pancayatana puja-nya masing-masing, seperti pancanana, shiwapancha, pancayatana, pancabrahma (shiwa); pancaratra, pancawyuha (waishnawa) pancaboddha,pancatatagatha (Buddha), Dig Palaka (Agama Purana) dan Panca Bedha (Tantra) (Gupta, 2000:xviii-xix; Sharma, 2001:328; Macmillan (ed), 2001 : 194).
            Berdasarkan uraian di atas dapat dijelaskan ciri-ciri penting dalam agama purana (puranic religion) dan kebudayaan india pada zaman ini. Akan tetapi, beberapa ciri ini sudah mulai muncul sejak zaman brahmana akhir (Macmillan (ed), 2001:192-194; Mahajan, 2002:375-377), sebagai berikut
  1. Munculnya banyak sekte,dan kadangkala saling bertentangan;
  2. Golongan waishnawa mengambil-alih ajaran budha;
  3. Berkembangnya ajaran tantrayana;
  4. Kitab-kitab purana diakui sebagai pancama weda;
  5. Mulai munculnya tempat- tempat pemujaan (kuil);
  6. Mulai melakukan pemujaan patung (arcanam);
  7. Pertentangan atnara kelompok vegetariandan non-vegetarian;
  8. Catur warna semakin kuat di pahami sebagai warisan atau keturunan;
  9.       Munculnya kasta pariah di India;
  10. Ajaran catur asrama mulai dilaksanakan secara disiplin;
  11. Upacara-upacara besar dilaksanakan;
  12. Munculnya perhitungan tentang zaman (yuga);
  13. Munculnya pemujaan kepada awatara wishnu (termasuk buddha);
  14. Pemujaan dewa-dewa sebanyak 33.000.000 (33 lakh);
  15. Muncul perayaan hari raya agama hindu;
  16. Pemujaan pancayatana;
  17. Pendeta mendapatkan kedudukan penting;
  18. Hukum adat disamakan dengan hukum agama (Mahajan,2002:362-363;       ,    2002:299-302; tripathi, 1999:269).
Sumber-sumber materi dari Sumber:
  1. Guru Besar Program Pascasarjana (S2) Ilmu Agama Hindu dan Kebudayaan, Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, Prof. Dr. Litt, Dr. I Gusti Putu Phalgunadi MA, MBA,
  2. Buku Sejarah Evolusi Agama Hindu.
Evolusi Budaya dan Agama Hindu (Periode sekitar 1000 SM sampai sekarang).
 Evolusi ini terdiri dari beberapa zaman:
* Zaman Kejayaan Agama Hindu (sekitar 1000 SM-600 SM)
* Zaman Kemunduran Agama Hindu (sekitar 600 SM-200 SM)
* Zaman Kebangkitan Agama Hindu (sekitar 200 SM-300 M)
* Zaman Purana /Zaman Keemasan Hindu (sekitar 300 M-700 M
* Zaman Hindu baru (700 M-1200 M)
* Zaman Gerakan Bhakti Hindu (1200 M–1800 M)
* Zaman Gerakan Hindu Modern (1800 M-1947)
* Zaman Hindu sampai sekarang

ZAMAN REFORMASI HINDU (ZAMAN SANGKARACHARYA) (700 M – 1.200 M)

            Zaman purana menandai terjadinya evolusi aga Himdu di India, yaitu munculnya berbagai macam mazhab atau sekte. Meskipun demikian agama Purana (Puranic religion) mesih mewarisi konsep-konsep keagamaan dari zaman Brahmana. Keduanya sama-sama menekankan praktik agama yang penuh dengan upakara dan upacara yajna (Majumdar, 1998:455). Agama Brahmana dan agama Purana mementingkan upacara yajna sebagai jalan untuk mencapai moksa. Hal ini diuraikan secara teliti dan mendalam dalam kitab Mimamsasutra (Mahajan, 2002:11-12; Sharma, 2001:226-328). Ajaran yang mengajarkan pentingnya kedudukan yajna (Karma kandha) dalam agama Hindu ini dikembangkan dan diajarkan oleh para rshi pada zaman ini. Dengan pelopor-pelopornya antara lain, Rshi Prabhakaran, Rshi Kumarila Batta, dan masih banyak lagi. Ajaran ini rupanya mendapat sambutan yang luas di kalangan umat Hindu (Luniya, 2002:301). Agama Hindu yang berdasarkan yajna, sebagaimana muncul sejak zaman Weda, Brahmana, dan Purana ini umumnya disebut Hindu ortodoks atau agama Brahmana-Smarta (Kundra, 1968:220). Ajaran inilah yang menjadi agama rakyat India hingga akhir zaman Purana (sekitar 700 Masehi).
            Akhir zaman Purana ditandai dengan terjadinya kekacauan di antara umat Hindu, akibat pertentangan yang hebat antara satu mazhab dengan mazhab yang lainnya. Setiap mazhab membenarkan prinsip-prinsip kepercayaan dan ajaran dari mazhab mereka sendiri dan menyalahkan kebenaran dari mazhab yang lain. Hal-hal yang dipertentangkan terutama mengenai ajaran Ahimsa (Mahajan, 2002:375). Di samping itu, juga mengenai upacara yajna, kurban binatang, vegetarian dan non-vegetarian, dan hal-hal prinsip lainnya. Pertentangan itu semakn memanas dan memuncak pada akhir zaman Purana. Selain itu, pertentangan antara pemeluk agama Hindu dan agama Buddha juga terus berlangsung (Kundra, 1968:220-221). Sebagai catatan bahwa meskipun raja-raja yang beragama Buddha sudah dapat dihancurkan oleh golongan Brahmana (Pusyamitra pada tahun 184 SM), tetapi pengaruh ajaran Buddha masih cukup kuat di India.
            Pertentangan yeng terjadi pada zaman itu tidak terlepas dari semakin berkembangnya tradisi filsafat di India (darsana). Salah satu system filsafat yang penting pada zaman ini adalah Mimamsa. Inti dari filsafat Mimamsa atau Purwamimamsa adalah pengukuhan kesucian Weda bagian Brahmana yang menekankan pada upacara agama (Karma Kandha) (Rajeev, 1990:29). Ajaran filsafat ini bersumber dari kitab Mimamsa yang ditulis oleh Maharsi Jaimini. Kemudian dalam perkembangannya muncullah komentar terhadap Mimamsasutra oleh Sabaraswamin. Komentar ini diterangkan dengan cara berbeda oleh Rshi Kumarila Bhatta dan Rshi Prabhakaran sehingga akan muncul dua aliran (Sects), yaitu aliran pengikut Kumarila Bhatta dan aliran pengikut Prabhakaran. Meskipun demikian kedua aliran ini tidak memiliki perbedaan secara prinsip, kecuali pada ajaran-ajaran yang tidak begitu penting (Chaterjee dan Datta, 1954; Macmillan (ed), 2001:198).
            Ajaran Mimamsa mengatakan bahwa satu-satunya jalan untuk mencapai sorga atau moksa adalah upacara yajna (Karma Kandha) dan  persembahan kurban. Rshi Kumarila Bhatta (750 M) menyebarluaskan ajaran ini dan berusaha mempengaruhi Raja-raja Dinasti Gupta untuk  membangkitkan upacara-upacara yajna yang ada di dalam Weda. Propaganda ini berhasil dilakukan sehingga Raja-raja Dinasti Gupta sudah melaksanakan upacara Aswamedhayajna lebih dari dua kali selama masa pemerintahannya (Kundra, 1968; Majumdar, 1998; Mahajan, 2002). Dengan berkembangnya filsafat Mimamsa ini maka pelaksanaan agama Hindu di India diwarnai dengan berbagai upacara yajna dank urban suci. Malahan, upacara-upacara besar kembali dilaksanakan terutama oleh raja-raja pada zaman itu. Pada masa ini, ritualisme menjadi agama nasional (Rajeev, 1990:29).
            Hampir bersamaan dengan zaman ini, muncul aliran filsafat lain yang disebut Uttaramimamsa atau Wedanta. Berbeda dengan Mimamsa (Purwamimamsa), Sistem filsafat ini mendasarkan ajarannya pada kitab Upanisad. Filsafat Wedanta secara sistematis disusun dalam kitab Wedantasutra yang ditulis oleh Maharsi Badarayana. Dalam perkembangannya, kitab Wedantasutra ini mendapatkan komentar dari beberapa ahli yang kemudian menjadi pemimpin atau tokoh aliran Wedanta. Tokoh-tokoh itu antara lain, Sangkaracharya, Ramanuja, Madhwa, Wallabha, Nimbarka, dan banyak lagi yang lainnya. Semua tokoh ini memiliki cara pandang masing-masing sehingga aliran yang dilahirkan juga memiliki perbedaan-perbedaan yang sangat prinsipil (Chaterjee dan Datta 1954).
            Kehadiran golongan Wedantis telah menyebabkan pembaharuan besar dalam keagamaan Hindu (Reformation of Hinduism) di India pada zaman itu (Rajeev, 1990:29). Golongan ini membuat gerakan untuk mensistematisasikan ajaran agama Hindu, secara rasional dan radikal. Dengan demikian kitab suci menjadi lebih mudah dipahami dan dapat diterima oleh msyarakat umum. Salah satu pelopor gerakan ini adalah seorang Brahmana asal Keladi Kerala, India Selatan yang bernama Sangkaracharya (788 M – 820 M). Dia memiliki kecerdasan yang luar biasa dalam biadang ajaran Shiwa Paksa. Sangkaracharya juga orang yang pintar dalam berdebat tentang filsafat dan ajaran-ajaran weda. Malahan, diyakini bahwa Sangkaracharya sudah berhasil menguasai ajaran  Catur Weda dan susastra-susastra Hindu lainnya, ketika masih berusia lima tahun. Kecerdasan ini mampu mengalahkan pemimpin-pemimpin suatu aliran dalm diskusi-diskusi spiritual. Ini menyebabkan Sangkaracharya memiliki pengikut yang luar biasa di India pada zaman itu (Kundra, 1968:221).
Sangkaracharya juga berhasil memenangkan perdebatan dengan Bhiksu-bhisu Buddha. Melalui penjelasan tentang agama Hindu yang lebih sederhana, rasional, dan filosofis, Sangkaracharya berhasil melenyapkan agama Buddha di India (Thapar, 1979:185). Sangkaracharya menjadi pelopor berdirinya aliran filsafat Adwaita atau monisme-absolut. Dia juga menentang system-sistem, ajaran-ajaran, dan filsafat ritual dan upacara yajna yang dilakukan oleh umat Hindu (Rajeev, 1990:29). Kemudian menggantikannya dengan ajaran Wedanta. Sangkaracharya juga, menentang Rshi Kumarila Bhatta dan Prabhakara yang mengajarkan ritual dan korban yajna (Karma Kandha). Sangkaracharya juga berhasil menghilangkan semua upacara yajna yang memakai Pancatattwa seperti yang dilakukan mazhab Tantrayana, yajna yang dilakukan oleh golongan Brahmana-Smarta untuk pemujaan pada Dewa Shiwa, Dewi Shakti (Durga), dan lain-lain (Sharma, 2001:328; Rajeev, 1990:29). Pancatattwa adalah lima macam unsur persembahan yang terdiri atas:Mada (arak berem), Matsya (Ikan), Mamsa (daging), Mudra (Biji-bijian dan buah-buahan), dan Maithuna (Mahajan, 2002:668) (Simbol Shiwa-Shakti, di Bali digantikan dengan porosan).
            Dengan semakin berkembangnya ajaran Sangkaracharya maka pada zaman ini agama Hindu mengalami perpecahan untuk ketiga kalinya. Agama Hindu pecah menjadi dua golonga besar (Thapar, 1979:261), sebagai berikut.
  1. Golongan Wedanta (Waidika-Dharma) yang dipimpin oleh Sangkaracharya dari mazhab Shaiwa dan Ramanuja dari mazhab Waishnawa. Golongan ini mendasarkan ajarannya kepada kitab Brahmasutra, Bhagawadgita, dan Upanisad (Wedanta). Ketiga kitab ini disebut Prasthanatraya (Klostermaier, 1988:107; Macmillan(ed), 2001:196). Golongan ini disebut juga golongan rasionalis (Wedantis).
  2. Golongan Tantrayana (Tantrika-Dharma) Atau golongan ritual yang dipimpin oleh Rsi Prabhakara, Rsi Madhana Misra, Rsi Kumarila Bhatta dari Mazhab Shiwa tantra dan Waishnawa tantra. Golongan mendasarkan ajarannya pada upacara atau ritual yang filosofisnya diambil dari kitab-kitab Brahmana, Mimamsasutra, dan kitab-kitab Tantra (Agama). Ajaran ini digunakan sebagai alat untuk melawan penganut agama Buddha dan juga untuk menghadapi golongan penganut ajaran Wedanta (Waidika-Dharma) atau golongan Wedantis (Kundra, 1968:220; Klostermaier, 1998:107). Golongan ini juga sering disebut golongan Hindu Ortodoks (Brahmanisme).
Sejak zaman ini terjadilah pertentangan yang hebat antara golongan  Wedanta (Waidika-Dharma) dengan golongan Tantrayana (Tantrika-Dharma), bahkan sampai sekarang. Namun demikian gerakan yang dilakukan oleh Sangkaracharya dan pengikut Wedantis lainnya, tampak begitu gencar untuk mereformasi agama Hindu. Ini menyebabkan ajaran Wedanta tampak begitu menonjol pada zaman ini sehingga para ahli sejarah menyebut zaman ini sebagai zaman Reformasi Hindu atau zaman Sangkaracharya (Kundra, 1968; Majumdar, 1998; Mahajan, 2001).
Mula-mula, gerakan reformasi yang dilakukan Sangkaracharya adalah menentang ajaran agama Buddha. Sangkaracharya mengalahkan para pemimpin dan penganut agama Buddha melalui perdebatan filsafat. Setelah itu, dia menarik kembali para pengikut agam Buddha tersebut untuk kembali ke agama Hindu. Sejak saat itu agama Buddha perlahan-lahan lenyap dari tanah kelahirannya, India. Sisanya yang kebanyakan adalah penganut agamaBuddha Tantra (Wajrayana) lari menyelamatkan diri ke Tibet (Klostermaier, 1988:107).
Setelah Sangkaracharya mengalahkan agana Buddha maka mulailah ia melawan golongan penganut ajaran Shiwatantra yaitu para pengikut kumarila Bhatta. Sangkaracharya ingin menghilangkan semua sistim ritual dan upacara yajna yang dilakukan oleh mzhab Shiwatantra dan Waishnawatantra, kemudian menggantinya dengan ajran Wedanta, khususnya Adwaita Wedanta. Ajaran filsafat Adwaita Wedanta mengajarkan monisme-absolut. Sistem filsafat ini mengajarkan bahwa hanya ada satu Realitas Tertinggi, yaitu Nirguna-Ishwara atau Brahman. Hanya Nirguna-Ishwara (Brahman) yang nyata (sat), sedangkan yang lain hanyalah ilusi (maya) (Klostermanier, 1988:108; Luniya,2002:337).
Keberhasilan Sangkaracharya mengalahkan pemimpin-pemimpin agama Buddha dan rsi-rsi dari golongan Tantrayana menjadikannya sebagai pemimpin keagamaan yang sangat disegani di India. Selanjutnya, ia mengelompokkan semua mazhab dalam agama Hindu menjadi lima kelompok (Panca Paksa) yang disebut Pancopasana. Adapun lima macam keyakinan (Pancopasana ) itu adlah Shaiwa Paksa, Waishnawa Paksa Shakta Paksa, Ganapatya Paksa dan Saura Paksa. Sementara itu, Sangkaracharya sendiri menjadi pemimpin mazhab Shiwa Wedanta. Untuk mengajarkan dan menyebarkan ajaran ini maka ia mendirikan pusat pendidikan (Pitha/Matha) di lima penjuru India. Kelima pusat pendidikan ini adalah Saradha-Pitha di Shringeri, India Selatan; Jyoti-Matha di Badrinath India Utara; Kalika-Pitha di Dwarka, India Barat;Wimala-Pitha di Puri, India Timur; dan Rameswaram di India Selatan. Pitha/Matha ini menjadi pusat unruk mempelajari dan menyebarkan ajaran Shaiwa Wedanta dari India ke seluruh dunia sampai sekarang. Sampai sekarang, Pitha-Pitha tersebut melanjutka garis perguruan Sangkaracharya dan pemimpinnya juga dipanggil Sangkaracharya. Tujuannya untuk meneruskan dan menyebarluaskannya ajaran Shaiwa Adwaita Wedanta (Mahajan, 2001:566; Kundra, 1968:221).
Dalam kurun waktu berikutnya ajaran Adwaita-Wedanta yang diajarkan Sangkaracharya ditentang oleh pemimpin-pemimpin golongan Wedantis (Waishnawa Movement) dari mazhab Waishnawa (Thapar, 1979:217; Macmillan (ed), 2001:198). Penentangan ini dilakukan oleh Ramanuja. Ramanuja diperkirakan hidup pada tahun 1.050 Masehi sampai dengan 1.137 Masehi. Ajaran-ajaran Ramanuja sesungguhnya juga berdasarkan pada ajaran filsafat Wedanta. Akan tetapi, ia adalah golongan Wedantis dari mazhab Waishnawa dan mengajarkan filsafat Wisistadwaita. Ramanuja menentang ajaran-ajaran dari golongan Shiwa dan filsafat Awaita yang diajarkan oleh Sangkaracharya (Luniya, 2002:337). Perbedaan prinsip dari kedua system filsafat ini adalah pendangannya tentang Brahman, jiwa, dan alam semesta. Menurut Ramanuja, alam semesta bersumber dari Brahman dan benar-benar nyata (Luniya, 2002:337), bukan maya seperti pandangan Sangkaracarya. Alam semesta adalah Prakrti yang mengalami perubahan secara nyata (Parinamawada). Sebaliknya, Sangkaracharya meyakini bahwa perubahan itu hanya ilusi atau kelihatannya saja berubah (Wiwartawada), karena Brahman sebagai Realitas Tertinggi tidak pernah berubah (Charterjee dan Datta, 1954; Hiriyana, 1978).
Kemudian, filsafat Wisistadwaita juga ditentang oleh pemimpin golongan Waishnawa-wedanta lainnya yang bernama Madhwa. Madhwa menyalahkan ajaran monisme Sangkaracarya dengan filsafat Adwaita-nya dan filsafat Wisistadwaita yang didirikan oleh Ramanuja. Madhwa membangun system filsafat dualismenya sendiri yang disebut Dwaita-wedanta, berdasarkan atas kitab Bhagavatam Puranam. Menurut Madhwa, Realitas Tertinggi bukanlah Brahmanyang nirguna (tanpa sifat), tetapi tuhan yang Berpribadi dan memiliki sifat-sifat yang banyak sekali (Saguna). Jnana (pengetahuan tentang sifat-sifat Tuhan) akan menuntun orang menuju bhakti. Melalui Bhakti manusia akan mencapai tujuan akhir, yaitu melihat langsung Maha Wishnu atau Hari yang akan menuntun menuju moksa, kebahagiaan abadi (Chaterjee dan Datta, 1954; Hiriyana, 1978; Luniya, 2002:337).
Filsafat Dwaita-Wedanta ini juga ditentang oleh golongan mazhab Waishnawa-Wedanta lainnya, yaitu Nimbarka. Dia menyalahkan filsafat Dwaita dari Madhwa dan cabang filsafat Wedanta lainnya, serta membangun ajaran filsafat sendiri yang disebut Dwaitadwaita. Nimbarka mengajarkan pentingnya penyerahan diri secara tulus ikhlas (self surrender) dan pemujaan kepada Krishna dan Radha. Menurut ajaran dari mazhab Nimbarka, Krishna adalah Tuhan tertinggi (supreme lord) dari alam semesta (Luniya,2002:337). Akhirnya, Wallabha seorang dari golongan Waishnawa Wedanta tidak mau menerima ajaran filsafat dari Nimbarka dan majaran filsafat yang lain disebut Suddhadwaita (Pure non-Duality). Walabha mengajarkan penebusan dosa, tapa-brata yang sangat keras, meninggalkan keduniawian, dan penyatuan yang sempurna antara Atman dengan Paraatman (Krishna). Di samping itu juga mengajarkan bhakti secara tulus ikhlas kepada Krishna dengan menyerahkan segalanya (badan, pikiran, dan kekayaan) pada Krishna (Rajeev, 1990:31; Luniya, 2002:396).
Dengan demikian terjadilah perbedaan pendapat mengenai prinsip-prinsip filsafat dan perpecahan pun terjadi dalam golongan Waishnawa-Wedanta. Masing-masing golongan ini membangun garis perguruan yang disebut Sampradaya, dan memuja
Krishna sebagai Tuhan (Mahajan, 2003:373). Mazhab Waishnawa-Wedanta memiliki empat Sampradaya, yaitu Sampradaya Shri- Waishnawa (mengikuti ajaran filsafat dari Waishnawa Ramanuja), Sampradaya Brahma (mengikuti ajaran filsafat Waishnawa Madhwa), Sampradaya Kumara (mengikuti ajaran filsafat dari Waishnawa Nimbarka) dan Sampradaya Rudra (mengikuti filsafat dari Waishnawa Wallabha) (Klostermaier, 1988:65; Luniya, 2002:300). Walaupun aliran ini menggunakan nama-nama seperti, Brahma, Kumara, dan Rudra, tetapi namanama tersebut tidak ada hubungannya sama sekali dengan Shiwa.
Sementara itu, ajaran Tantrayana yang telah begitu kuat mempengaruhi mazhab Waishnawa, Shiwa, dan Buddha, akhirnya juga sedikit terpengaruh oleh ajaranWedanta (Thapar, 1979:261). Mazhab Shaiwa yang kena pengaruh ajaran Tantrayana (Shaiwatantra atau Shaiwagama), juga mendasarkan ajaran filsfatnya pada filsafat Adwaita (monisme-absolut). Dengan persatuan kedua ajaran ini maka muncullah beberapa variasi filsafat Shaiwa Siddhanta, antara lain: Shiwa Siddhata dari Tamil (India Selatan); Shaiwa Siddhanta dari Deccan dan Maysor (disebut Wira Shaiwa); Shaiwa Siddhanta dari Kashmir (India Uttara) (Singh, 1991:xv; Hariharan, 1987:493). Demikian juga dengan Shaiwa-Siddhanta dari Indonesia (Bali) juga menjadi varian dari perkembangan filsafat ini. Semua cabang dari ajaran Shaiwa ini mengakui kesucian kitab suci Weda dan meyakini tidak ada yang lebih tinggi dari Weda. Dari ajaran filsafat Siddhanta ini kemudian, muncullahajaran Shaiwa Bhairawa.
Berdasarkan Uraian di atas maka cirri-ciri terpenting dari zaman Reformasi Hindu atau zaman Sangkaracharya adalah sebagai berikut.
  1. Munculnya kelompok Wedanta yang mendasarkan diri pada Prasthana Traya (Brahmasutra, Bhagavadgita, dan Upanisad/ Wedanta). Ini merupakan system filsafat Wedanta baru (New System of Vedanta) karena sebelumnya Wedanta hanya mendasarkan diri pada kitab-kitab Upanisad.
  2. Munculnya perselisihan antara aliran filsafat, baik antara Mimamsa dengan Wedanta, maupun dalam aliran Wedanta itu sendiri.
  3. Munculnya Sampradaya Waishnawa.
Evolusi Budaya dan Agama Hindu (Periode sekitar 1000 SM sampai sekarang).
 Evolusi ini terdiri dari beberapa zaman:
* Zaman Kejayaan Agama Hindu (sekitar 1000 SM-600 SM)
* Zaman Kemunduran Agama Hindu (sekitar 600 SM-200 SM)
* Zaman Kebangkitan Agama Hindu (sekitar 200 SM-300 M)
* Zaman Purana /Zaman Keemasan Hindu (sekitar 300 M-700 M
Zaman Hindu baru (700 M-1200 M)
* Zaman Gerakan Bhakti Hindu (1200 M–1800 M)
* Zaman Gerakan Hindu Modern (1800 M-1947)
* Zaman Hindu sampai sekarang

sumber: http://www.padmabhuana.com/Evolusi-Agama-Hindu-di-India-dan-Budayanya.html

0 comments:

Post a Comment