This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tuesday, December 11, 2012

Gerakan Hindu Modern


GERAKAN HINDU MODERN (MODERN HINDU MOVEMENT) (1.800 M – 1.947 M)

A. Gerakan 1800M - 1905
            Kedatangan orang-orang Inggris yang menaklukkan India dan sejak itu, sekitar tahun 1.754 M – 1.850 M, mengawali zaman penjajahan Inggris di India dari kota Delhi. Inggris menjajah India sampai tahun 1947 (Macmillan (ed), 2001:806). Melalui penjajahan ini, mereka juga membawa dan menyebarkan agama Kristen di India melalui misionaris-misionaris. Di samping itu, mereka juga menyebarkan kebudayaan Barat. Kedatangan misionaris dalam jumlah besar terjadi pada tahun 1813 masehi. Para misionaris ini mendiskreditkan agama Hindu dan berusaha mengkonversi orang-orang Hindu untuk masuk Kristen. Mereka mendirikan sekolah- sekolah, rumah sakit, dan pusat-pusat pelayanan umum lainnya dengan bantuan pemerintah Inggris. Upaya ini berhasil menarik simpati orang Hindu, terutama dari kasta Pariah (lower caste) untuk berpindah agama. Ini menjadi tantangan yang sangat berat bagi agama dan kebudayaan Hindu (Grover, 1998:365-366; Luniya, 2002:433; Sharma, 2002:195 dan 237).
            Untuk melawan propaganda Kristen tersebut maka para cendikiawan Hindu yang telah menyelesaikan studinya di luar negeri mulai melakukan reformasi ajaran agama Hindu. Peristiwa ini terjadi antara tahun 1850 M hingga 1950 M. Golongan cendikiawan dan sarjana-sarjana Hindu ini terutama belajar ke Inggris dan Negara-negara Eropa lainnya. Mereka ingin memberikan pengertian yang benar dan sejati mengenai agama Hindu dengan jalan menafsirkan agama Hindu secara modern. Penafsiran itu berdasarkan atas logika dan rasionalitas; mengajarkan prinsip-prinsip dan dasar-dasar agama Hindu yang praktis dan modern (modernized Hindu religion); sekaligus membangun kehidupan social sesuai dengan zaman modern (Macmillan (ed), 2001:868; Sharma, 2002:272-273).
            Gerakan golongan rasional ini muncul secara serentak, terutama di India Timur yang berpusat di Kalkuta. Ini merupakan gerakan yang radikal dengan merombak agama Hindu sedemikian rupa. Mereka juga memasukan ajaran-ajaran yang baik dari agama Kristen, Islam, Buddha, Zoroaster, dan lain-lain menjadi ajaran agama Hindu (Upanisadic thought), sehingga agama Hindu menjadi lebih modern dan maju (Mahajan, 1990:641-643; Rajeev, 1990:36). Kaum rasional ini mengajarkan nilai-nilai universal dari Hindu; mengajarkan Hindu sebagai “way of life” (jalan hidup); menolak dogma-dogma agama dan takhayul; pemikiran yang bebas dan toleran, serta mengedepankan logika dan rasio (jnana kanda).
            Periodisasi zaman Gerakan Hindu Modern (Neo Hinduism)      (Narang, 1969:87) di India pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua yatu gerakan yang muncul sebelum India mereka (pre Indian Independence) dan gerakan muncul setelah India merdeka (Post Indian Independence). Namun demikian, berdasarkan pokok-pokok ajarannya gerakan ini dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu golongan reformis (pembaharuan Hindu) dan golongan revivalis (kebabgkitan kembali Hindu) (Grover, 1998:382). Pemimpin gerakan reformasi yang terkenal adalah Raja Ram Mohan Roy, Mahatma Gandhi, Dewemdranath Tagore, dan lain-lain. Pemimpin-pemimpin gerakan revivalis adalah Swami Dayananda Saraswai, Ramakrishna Paramahamsa, Swami Wiwekananda, dan lain-lain (Grover, 1998:366; Luniya, 2002:434).
            Gerakan Hindu modern dipelopori untuk pertama kali di India oleh Raja Ram Mohan Roy (1.772 M – 1.833 M). Ia mendirikan gerakan bernama Brahmo Samaj (1.828 M). Gerakan yang didirikannya merupakan gerakan perintis dalam pelaksanaan reformasi agama Hindu (Religious reform) (Mahajan, 1994:648; Macmillan (ed), 2001:83; Sharma, 2002:274). Gerakan ini berpandangan bahwa agama Hindu harus direformasi apabila ingin menghadapi penyerangan agresif dari agama-agama lain. Brahmo Samaj juga mengajarkan bahwa Hinduisme adalah “” a way of life” (jalan Hidup), bukan agama dalam pengertian yang sebenarnya. Agama bukanlah suatu sitem yang semata-mata bersifat dogmatis. Brahmo Samaj mendasarkan gerakannya dengan tidak menerima upacara adat agama Hindu. Ajaran ini juga menolak semua pelaksanaan agama Hindu yang tidak logis, tahayul, magis dan lainnya (Sharma, 2002:274) adat istiadat yang kaku yang tidak masuk akal dikalangan umat pendeta yang tidak masuk akal (Narang, 1969:88-89). Mengenai tradisi kuno dan adat istiadat. Brahmo Samaj berpendapat bahwa “menerima dan menjalankan begitu saja adat istiadat dan tradisi kuno merupakan suatu kesalahan besar”. Tradisi itu harus diterima dan dijalankan hanya berdasarkan nilai-nilai social dan spiritual. Demikian pula tradisi kepercayaan agama Hindu harus diuji dan dilaksanakan berdasarkan rasionalisme. Selain itu Brahmo Samaj berpendapat juga mendasarkan ajaran-ajarannya merupakan sistesis dari ajaran-ajaran Wedanta (Upanisad) dengan ajaran islam, Kristen dan pemikiran liberal dari orang-orang eropa modern, serta menentang pemujaan patung (Rajeev, 1990:36; Macmillan (ed) 2001; 868: mahajan, 2001; 512)
            Gerakan Brahmo Samaj ini diikuti oleh Dewendranath Tagore (1.817 M-1.905 M) Ia mendirikan aliran (sect) Bharatiya Brahmo Samaj. Ajaran yang dianut aliran ini bersumber dari Wedanta yang bebas dari pemujaan patung. Aliran ini juga, tidak percaya dengan kemanjuran atau mukjizat dari upakara dan Upakara Yadnya. Kemudian, Keshabehand Sen juga mendirikan aliran Sadharana Brahmo Samaj of India. Ajaran aliran ini bersumber pada ajaran Wedanta dan agama Kristen (Mahajan, 2001:871; Sharma, 2002:274) dalam ceramah tersebut disebutkan beberapa hal, antara lain:
a. alam semesta adalah Katedral;
b. pemujaan kepada Tuhan tertinggi;
c. kitab sucinya adalah Weda, Al-quran, Injil, Tripitaka, dan semua kitab suci agama-agama lainnya;
d. Moksa dicapai dengan sembahyang dan berdoa;
e. pembingbing spiritual yang harus diteladani adalah semua orang suci;
f Tuhan yang patut disembah adalah yang mencintai dan memenuhi keinginan manusia;
g. mengaku dirinya sebagai Awatara; dan h. menyuruhpengikutnya untuk menyembah dirinya sebagai Awatara (Rajeev, 1990, Grover, 1994)
           

GERAKAN HINDU MODERN (MODERN HINDU MOVEMENT) (1.800 M – 1.947 M)

B. Gerakan 1905 M – 1947 M

            Pemimpin lain yang terkenal dari golongan revivalis adalah Ramakrishna Paramahamsha (1.836 – 1.866 M). Nama kecilnya adalah Gadahar Chattopadyay.Dia berasal dari keluarga Brahmana di desa kamarmukur, Benggal. Pada usia 20 tahun menjadi Pujari (Sejenis Pemangku) di sebuah kuil. Ramakrishna adalah seorang revivalis yang lahir dalam kalangan tradisi, bukan dari pendidikan modern. Namun, dia mengakui bahwa dalam meditasinya telah berhasil merealisasikan berbagai wujud Tuhan seperti, Krishna, Rama, Yesus, dan lain-lain (Sharma, 2002:284). Ajarannya merupakan campuran dari ajaran Tantrayana, Waishnawa, dan mencampur ajarannya dengan ajaran Buddha, Islam, Kristen, dan agama lainnya (Rajeev, 1990:39). Ia mengajarkan Perealisasian Tuhan melalui ajaran agma masing-masing. Dari sinilah muncul ajaran Sarwa dharma (unity of all religion). Artinya, semua agama sama, hanya jalannya yang berbeda-beda, dengan nama apapun Tuhan dipanggil maka ia akan datang. Dia juga mengajarkan pelayanan kemanusiaan bahwa melayani sesama manusia sama dengan melayani Tuhan (manawa sewa madhawa sewa) (Rajeev, 1990:28-29); Macmillan (ed), 2001:874-875; Sharma, 2002:284).
            Penerus dari Ramakrishna Paramahamsa adalah Swami Vivekananda. Lahir dari keluarga Ksatrya dengan nama kecil Narendra. Kehidupannya terbilang cukup singkat karena dia meninggal di usia 39 tahun (1.863 M – 1.902 M). Swami Vivekananda adalah pendiri Wedanta Samaj dan Ramakrishna Mission (1.897 M). Vivekananda mendapatkan pendidikan berbahasa Inggris dan mempelajari berbagai macam aliran filsafat, baik baratmaupun timur. Kecerdasan dan keberanian telah mengantarnya ke konferensi agama-agama (All Word Religious Conference) di Chicago dan berpidato di sana, pada tahun 1.893 M. Pidato ini menjadi rujukan untuk memahami ide-ide Swami Vivekananda tentang agama (Macmillan (ed), 2001:874).
            Swami Vivekananda mengajarkan ajaran Neo Hinduisme untuk meninggalkan semua takhayul. Ajaran agama yang harus diikuti adalah ajaran yang rasional (Vedantic Doctrine). Bagi Vivekananda, kepercayaan kepada dogma-dogma agama adalah yang nomor dua, karena pelayanan dan pengabdian kepada sesama lebih utama dari itu (Rajeev, 1990:39; Grover, 1998:389; Sharma, 2002:285). Dia adalah pengikut fanatik ajaran Karma Marga. Menurutnya, setiap orang akan menjadi suci apabila orang mempersembahkan dirinya sendiri kepada Tuhan berdasarkan cinta kasih dan melayani sesamanya dengan penuh kasih sayang. Spiritualitas lebih penting dari upacara agama. Seperti juga gurunya, Vivekenanda meyakini bahwa semua agama (Sarwa Dharma atau The Truth of All Religions) mengajarkan jalan untuk bersatu dengan Tuhan. Untuk mencapai tujuan tertinggi orang tidak perlu beralih agama (Rajeev, 1990:31-32; Macmillan (ed), 2001:875).
            Bersamaan dengan berlangsungnya gerakan Hindu Modern di India, rupanya juga terjadi gerakan kebangkitan agama Buddha (Narang, 1969:98). Seperti diketahui bahwa pada sekitar abad ke-14 Masehi, agama Buddha hampir sama sekali lenyap di India. Dr. B. R. Ambedkar (1.891 – 1.956 M), seorang sarjana hukum dari kasta Pariah (di luar catur warna) adalah pelopor pendiri gerakan Neo-Buddhisme di India. Gerakan B.R. Ambedkar ini dimulai dari Maharasta (Grover, 1998:402). Dari sini Ambedkar menyebarkan ajaran- ajaran barunya yang disebut Agama Buddha Baru atau Neo-Buddhisme ke seluruh India. Pada tahon lima piluhan, ia sudah mendapat pengikut lebih dari tiga puluh juta, terutama dari golongan Pariah atau orang-orang yang tidak boleh disentuh (untouchability). Ajaran-ajaran Neo-Buddhisme ini mengambil ajaran-ajarn dari agama Buddha Hinayana (Rajeev, 1990-66; Grover, 1998:402).
            Meskipun gerakan reformasi ini tampak berkembang pada zaman ini, tetapi sesungguhnya juga muncul penentangan dari kelompok Brahmanisme ortodoks. Salah satunya adalah gerakan Hindu Ortodoks yang dipimpin oleh Raja Radakant Deb yang disebut Gerakan Dharma Sabha (Dharma Sabha Movement) pada tahun 1.850 Masehi. Gerakan ini murni dilakukan untuk menentang ajaran agama Hindu dari kelompok reformis dan revivalis (Grover, 1998:384). Berikutnya juga, muncul gerakan Hindu Ortodoks lainnya. Gerakan ini selain menentang ajaran kelompok reformis dan revivalis, juga aktif dalam gerakan politik menentang penjajahan Inggris menjelang India merdeka.
            Menurut Prof. Dr. Rao bahwa beberapa dari gerakan reformis (Reform Movement) seperti tersebut di atas, ada yang masih eksis dan berfungsi setelah India merdeka. Akan tetapi, kekuatan, kegiatan, dan tenaganya sudah mulai berkurang, tidak sepeti dahulu ketika dirintis. Kelihatannya semua gerakan itu luluh dalam arus umum dan menjadi kabur stelah diadakan Emergency oleh Partai Kongres yang dipimpin Indiara Gandhi. Setelah iti, mulailah gerakan Hindu Modern mencari daerah-daerah baru di luar            
India dan di sana orang-orang asing memberikan sokongan yang kuat, baik moral maupun material.
            Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Gerakan Hindu Modern (Neo Hinduisme) muncul untuk melawan Kristenisasi di India dan pengaruh budaya Barat lainnya. Gerakan ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu gerakan dari golongan reformis dan golongan revivalis (Grover, 1998:381). Terdapat banyak kesurupan dari ajaran kedua golongan ini, tetapi ada ciri penting yang berbeda. Adapun ciri-ciri penting dari gerakan ini (Grover, 1998:382-383) adalah sebagai berikut.
  1. Ciri penting ajaran golongan reformasi:
    1.  Penafsiran terhadap kitab suci Weda secara rasional.
    2. Hindu sebagai way of life.
    3. Menolak adat istiadat, dogma, dan takhyul (superstitious beliefe an practics).
    4. Hindu bersifat toleran dan bebas di interpretasi.
    5. Penafsiran berdasarkan atas logika atau rasio.
    6. Menolak Upacara dan Upakara.
    7. Menolak ajaran thirta yatra.
    8. Menolak ajaran agama yang tidak logis.
    9.  Menolak ajaran pendeta yang tidak logis.
    10.  Mencampuradukkan ajaran agama-agama (Grover, 1998:384).
    11. Mengajarkan prinsip-prinsip agama universal (Mahajan, 2001:511; Luniya, 2002:436-437).
     2. Ciri penting ajaran golongan revivalis:
  1.  Hanya Catur Weda yang benar, kitab yang lain (seperti smrti, itihasa, purana) adalah tidak benar (Arya Samaj).
  2.  Populernya gerakan back to veda (kembali ke Weda).
  3.  Weda boleh dibaca siapapun, tanpa memandang kasta.
  4.  Semua orang dari kasta apapun boleh menjadi pendeta.
  5.  Menolak seluruh upacara dan upakara yang tidak logis.
  6.  Munculnya ajaran sarwa dharma, semua agama sama saja.
  7.  Ajaran kemanusiaan universal “melayani sesama manusia sama dengan melayani Tuhan” (Luniya, 2002:434-436).
  8.  Pemurnian ajaran Hindu (purified Hinduism) melalui  rasionalitas.

         Setelah India merdeka (Post Indian Independence) pada 15 Agustus 1947, gerakan kebangkitan kembali agama Hindu (The Revival of Hinduism) mendapatkan spirit baru. Pada zaman ini muncul gerakan-gerakan teosofis yang luar biasa. Secara etimologis, ‘teosofis” berarti pemahaman tentang misteri-misteri ketuhanan yang diperoleh melalui pemikiran rasional, folosofis, dan mistis. Gerakan teosofi ini ditandai dengan bermunculannya orang-orang suci, swami, baba, dan lain-lain. Mereka mendirikan suatu organisasi, menyebarkan agama Hindu moden dalam wujud baru yang lebih segar dan berpandangan jauh ke depan. Sungguh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh penganut agama Hindu orthodoks (Smartha). Mereka membuat berbagai ashram untuk menyebarkan ajaran dan idenya masing-masing. Mereka mengajarkan agama Hindu berdasarkan tafsiran mereka sendiri. Kemudian mengolahnya dengan pandangan dan pola berpikir Barat, juga menurut pandangan Islam dan Kristen (Narang, 1969:98; Mahajan, 2001:650).
         Agama Hindu umumnya tidak memiliki pusat agama (central religius authority). Walaupun telah ada pusat kekuasaan mazhab Shiwa yang didirikan oleh Sangkaracharya, namun keberadaannya ditentang dan tidak diakui oleh mazhab Waishnawa atau mazhab lainnya. Dengan munculnya gerakan Hindu Modern ini, gerakan teosofis seperti mendapatkan angina segar untuk mengembangkan organisasinya. Mereka mulai mendirikan organisasi dan ashram-ashram sebagai pusat studi dan perkembangannya. Organisasi ini menyebarluaskan ajarannya dengan cara-cara modern. Pemikiran agama yang muncul dari ashram-ashram ini adalah kepercayaan dan kebenaran yang ditafsirkan sendiri oleh pendirinya (guru, swami, baba, dan sebagainya). Ajarannya kemudian disebarkan ke seluruh dunia (Klostermaier, 1998:146). Selain itu juga, berdiri Wishwa Hindu Parishad pada tahun 1.964 M.  organisasi ini didirikan oleh Rastriya Svayamseva Sangh (RSS) dengan tujuan untuk menghadapi pengaruh agama lain, dan tantangan dari perkembangan sains dan teknologi Barat.
         Ajaran-ajaran agama yang muncul setelah India merdeka pada umumnya hanya memakai satu atau beberapa kitab suci saja. Ada yang menggunakan Catur Weda saja ada, ada yang menekankan pada kitab Upanishad dan Wedanta, ada pula yang mendasarkan ajarannya hanya pada kitab Purana dan Itihasa. Hal ini menyebabkan munculnya berpuluh-puluh orang suci, swami, baba, dan lain-lain yang menyatakan bahwa ajaran mereka adalah yang paling benar, sedangkan ajaran yang lain salah (Radakhrisnan, 1984:156). Organisasi keagamaan Hindu yang muncul pada zaman ini, antara lain: Sai Baba, Ananda Marga, Brahma Kumari, Babaji, Radhaswami Satsang, Mataji Shri Nirmala Devi, Shri Shri Ravi Shankar, Swami Dhananjoy Das Kathia Babaji, Mata Amritanandanayi Devi, Sadguru jaggi Vasudev, Bhagawan Rajneesh, Swami Chinmananda, dengan Chinmayananda mission, Babaji Haidakhana, dan lain-lain. Jumlah ashram yang muncul pada zaman itu ratusan jumlahnya dan tersebar ke seluruh dunia. Demikian juga dengan masyarakat kesadaran Kishna didirikan oleh A.C Bhaktiwedanta di New York, Amerika Serikat. Organisasi ini kemudian menyebarkan ke seluruh dunia (Klostermaier, 1998:156).

Evolusi Agama Hindu di India


Asal Mula Hindu   
            Istilah Hindu ditemukan sekitar abad  Ke-10 SM, Hindu berasal dari bahasa Persia (Arab) “Al-Hindin, yang lama kelamaan menjadi Indica dan seterusnya menjadi India. Jadi kata Hindu itu bukan berasal dari Bahasa Sangsekerta ataupun Bahasa India tetapi berasal dari bahasa Persia, yang diperkenalkan oleh orang-orang Persia (sekarang orang Iran) yang dimasud wilayah Persia itu adalah daratan Iran (termasuk Afganistan dan Pakistan).  Ternyata Sungai Shindu sekarang ini terletak di wilayah Pakistan  tepatnya di selatan wilayah Islamabad. Sungai Sindhu ini melewati sepanjang Pakistan terus ke wilayah Kasmir , hyderabad dan bermuara di sebelah timur wilayah Karachi terus keluar bermuara di lautan Arabian.


Perkembangaan Budaya dan Agama Hindu di Lembah Sungai Shindu
(sekitar 3000 sebelum masehi)

            Pada saat ini wilayah Pakistan sekarang masih termasuk wilawah india barat laut. Di pedalaman lembah sindu dihuni oleh orang-orang Dravida dan juga di daerah pegunungan Sungai sindu di huni oleh orang-orang Arya.  Pada saat itu mereka belum mengenal agama tetapi orang-orang luar menyebutnya agama Lembah Sungai Sindhu. Cirri-ciri  orang dravida saat itu antara lain pendek, hitam dan rambut keritting.

Ciri-Ciri Budaya Zaman Veda

Ini dapat dibuktikan dengan beberapa penemuan benda-benda sejarah dan  Seal/stamp/meterai yang berbentuk tablet bbulat, ada pula persegi panjang dan segi empat penemuan yang lainnya berupa terracotta, jimat-jimat/amulet,  patung-patung dan benda benda bersejarah lainnya.  Orang archaelogy menemukan Cirri-ciri khas pemeluk agama lembah sungai Shindu saat itu (3000 sebelum masehi)  antara lain:
- Pemujaan terhadap dewa shiwa
- Pemujaan Lingga Yony
- Pemujaan Mother Goodess (Dewa Ibu)
- Pemujaan terhadap binatang
- Pemujaan terhadap Pohon
- Pemujaan patung-patung
- Adanya yadnya kurban
- Adanya process upakara kematian
- Tidak adanya pemujaan terhadap leluhur
            Pada zaman ini juga orang-orang di Lembah Sungai Shindu memuja Ciwa sebagai dewa Pasupati/ciwa Yogiswara/dewa yoga karena ditemukannya benda bersejarah berupa Seal/stamp/meterai  yang berisikan orang yang sedang duduk beryoga dihiasi dengan mahkota dua tanduk dan kipas diantara tanduk sebagai simbul dari Trisula sebagai senjatanya ciwa. Pada gambar beryoga tersebut dikelilingi oleh beberapa gambar binatang buas sebagai bukti bahwa ciwa sebagai Dewa Pasupati.  Serta adanya lingga Yogi sebagai bukti bahwa saat itu ada system purusa pradana yang mana ciwa sebagai pencipta  atau dewa kesuburan.  Mother goodess (sebagai Dewa Ibu) berkembang menjadi dewi Prakerti/ Dewi Sakti/ Dewi Sri yang dilambangkan dengan pepohonan yang tumbuh diantara selangkang dari gambar pada Seal/stamp/materai sebagai dewi Kemakmuran atau Dewi Kesuburan, Dewi Tumbuh-tumbuhan, Dewi Pencipta, Dewi Kekuatan, Dewi perlindungan dari mara bahaya,  dan Dewi Penjaga Rumah.  Pada seal/stamp/materai itu ada gambar binatang seperti Kerbau,macaan, badak, kerbau, Ular dan gajah sebagi bukti bahwa pada zaman itu memuja binatang, kendaraan para Dewa seperti Kerbau kendaraan Bhatara Sanghyang Yama, Gajah kendaraan Dewa Indra, Harimau kendaraan Dewi Kali atau Dewi Durga, Badak danLembu sebagai Binatang yang disucikan.  Pemujaan Pohon sebagi bukti bahwa dipercayai sebagai tempat tinggaalnya roh-roh baik jahat maupun buruk.  Saat itu juga ada Yadnya Kurban sebagi bukti bahwa ada bagaian dari binatang yang sangat penting untuk persembahan sebagai kurban suci. Serta adaanyaa upakara kematian dengan cara dijembur seperti yang ada di daerh Terunyan (Di Bali), Upakara penguburan dan juga upakara pembakaran mayat.  Dan orang-orang Lembah Sungai Sindhu saat itu percaya setelah mati rohnya menuju ke kehidupan di dunia lain terbukti adanya berbagai peralatan kehidupan sehari-hari di tempat terkuburnya mayat seperti: pisau, sendok, piring dan sebagainya.  Juga disebutkan di Lembah Sungai Shindu adanya pemujaan terhadap Patung-patung sebagai symbol dari para Dewa. Mereka juga mempersembahkan berbagai bunga-bungaan, buah-buahan dan air.
            Akhirnya orang Arya menaklukkan orang-orang Dravida di lembah Sungai Sindhu kemudian orang-orang Arya makin meluas tersebar ke wilayah Sapta-Shindu Lambat-laun kebudaayaan dan agama lembah Sungai Shindu menyebar ke India bagian utara dan Gangga-Yamuan, kemudian orang-orang Arya menetap di Lembah Sungai Gangga. Pada zaman ini terjadi peperangan yang sangat sengit antara suku Bharata melawan perserikatan sepuluh raja (Dasa Rajan), akhirnya suku Bharata memenangkan peperangan dibawah penasehat Rsi Waistha. Perang ini terjadi setelah zaman Rig Veda yang kemudian dikemas dalam sebuah ceritra / epos yang kita kenal dengan Mahabharata Yuda. sebelum terjadinya bencana alam di daerah Lembah Sungai sindhu mengalami peperangan antar golongan, gempa bumi, cuaca sangat buruk kekeringan yang berkepanjangan sehingga pepohonan dan habitatnya mati menjadikan daerah ini kering dan menjadi padan pasir seperti kita ketahui di Pakistan sekarang .  Nah dari sinilah dipakai cikak bakal atau dasar agama Hindu yang tersebar keseluruh dunia.

Evolusi Kebudayaan dan Agama Hindu Zaman Veda
(sekitar 2000 SM-1000 SM)

            Pada zaman Veda ini para pendeta atau para penekun spiritual atau Maha Rsi atau Nabi dari bangsa Arya menerima wahyu yang kemudian hari dituliskan dalam bentuk kitab Suci Veda (Catur Veda). mendapatkan wahyu berupa bisikan-bisikan dan mulailah wahyu atau bisikan itu disebarluaskan dari mulut kemulut yang berupa ajaran cikal-bakalnya hindu lanjutan dari budaya Lembah Sungai Sindhu. Sumber keterangan mengenai orang Arya di India berasal dari kitab suci Veda yang disebut Veda Shruti. Kata Veda yang berasal dari kata “Wid” yang artinya Pengetahuan atau mengetahui.  Ajaran Veda ini diajarkan dari dulu kala dari mulut kemulut yang merupakan wahyu Tuhan dengan demikian Veda bukanlah buatan manusia melainkan wahyu Tuhan sehingga sangat disucikan oleh Umat Hindu. Maka terbentuklah Veda yang tertua dinamakan Rig veda. Sebagai cikal-bakalnya veda yang lain seperti sama veda, Yayur Veda, dan Atharwa Veda.  Seperti kita ketahui bahwa untuk Rig veda berisikan doa/mantra/nyayian ketuhanan pengunaannya dengan dibaca. pada sama veda berisikan doa/mantra/nyayian ketuhan pengunaannya dengan dinyanyikan, dan Yayur Veda sama berisikan tentang doa/mantra/nyayian dan pada umumnya tentang upakara yadnya, sedangkan Atarwa Veda berisikan mantra tentang ilmu gaib. Ajaran ini tersebar ke seluruh India Barat Iaut India termasuk wilayah Sungai Saraswati sehingga pada zaman ini dikenal dengan Zaman Veda. 

Ciri-Ciri Budaya Zaman Veda

Pada zaman veda ini kehidupan masyarakat setempat memiliki ciri-ciri kebudayaan antara lain:
  1. Percaya adanya manesfestasi Tuhan yaitu para Dewa.
  2. Percaya adanya Tuhaan Yang Maha Esa.
  3. Pentingnya kedudukan upakara kurban suci
  4. Pentingnya pelaksanaan upakara kematian
  5. Percaya adanya leluhur
  6. Tidak memuja patung-patung
  7. Tegas disebutkan adanya 33 dewa.

Percaya Adanya Dewa-Dewa

            pada zaman veda ini disebutkan mereka percaya dengan dewa-dewa, mereka percaya ada dewa-dewa sebagi penolong yang amat baik sebagai berikut:  
  1. Yang terpenting adalah Dewa Indra, Dewa Indra sebagai Dewa Perang, Dewa Hujan, Dewa halilintar, Dewa penganugrah, Dewa sahabat manusia.
  2. Dewa yang terpenting kedua pada zaman Veda adalah Dewa Waruna/Baruna disebutkan sebagai Dewa Pengampun segala dosa (kita di Bali memiliki tradii melukat/mandi kelaut) , Dewa air, Pengukum yang bersalah, Dewa Alam Smesta, Dewa lautan Luas. 
  3. Juga ada beberapa dewa lainnya tapi tidak begitu diangap penting namun berperan antara lain Dewa Agni/ Dewa Brahma sebagai dewa perantara antara manusia dengan Tuhan (Guide manusia ke Tuhan) (ingat fungsi pasepan/ agni homa), sebagi Wujud dari Pendeta/dewa pelaksana upakara, Dewa yang memperbaiki kesalahan mantra, dewa Agni sebagai saksi (Di Bali kita ingat fungsi hasep/dupa), dewa yang dapat melihat segala-galanya dengan memiliki banyak muka dengan banyak mata. Sebagai Dewa penolak roh jahat (ingat di Bali kita membikin dapur di dekat pintu pekarangan).
  4. Dewa lain juga berperan di zaman veda adalah Dewa Ludra sebagai dewa tumbuhan obat-obatan, dewa pembunuh mahkluk hidup yang bersalah dan  Dewa Gunung.
  5. Dan dewa lainnya yang dipuja pada zaman ini yaitu Dewa Visnu sebagai Dewa matahari (Tri wikrama: terbit, siang dan terbenam). Dewa Maruti yang disebutkan sebagai Dewa Angin Ribut, Dewa Wayu sebagai Dewa Angin, DewaParjanya sebagai Dewa Awan,  juga disini disebutkan bahwa Dewa Aditya sebagai Dewa Matahari dipuja dengan berbagai wujud, misalnya sebagai Dewa mitra (Dewa yang bersifat dermawan), Dewa Aditya sebagai Dewa Surya (Dewa pemberi sinar), Dewa Aditya sebagai Dewa Sawitri (Dewa pemberi Gairah), Dewa Aditya sebagai Pushan (Dewa pemberi makanan) dan Dewa Aditya sebagai Dewa Sawita, Ashwin dan Usada. Dan juga Dewi Saraswati sebagai dewa Sungai dan dewa Ilmu pengetahuan pada zaman itu.

Percaya Adanya Tuhan Yang Maha Esa         

 Dan pada Rig Veda ditegaskan bahwa Tuhan itu adalah Esa yang memiliki banyak nama. Dalam kitab suci Rig Veda (Mandala X) menyatakan bahwa “yang ada berasal dari yang tidak ada” dan “ yang nyata muncul dari yang tidak nyata” yaitu kepercayaan monotheisme.  pada zaman ini tidak ada diajarkan menyembah dan membuat patung, ataupun membuat kuil-kuil tempat pemujaan mereka memuja Tuhan di tempat terbuka atau altar-altar seperti Padmasana (di Bali). Itu terjadi di zamaan Rig Veda antara tahun sekitar 1500 sebelum masehi-1000 sebelum masehi.  

Pentingnya Upacara Kurban / Yadnya

            Pada zaman Veda ini masyarakat bersifat orthodox yaitu tradisi mempersembahkan binatang sebagai kurban suci, seperti pada kitab atharwa veda disebutkan doa-doa untuk mengiringi binatang dalam upakara kurban, adanya yadnya kurban suci yang brtujuan:
       1. Mengharmoniskan keadaan alam
       2. Untuk mendapatkan kekuatan, kekuasaan dan kemenangan.
       3. Untuk memproleh kemakmuran, kesejahteraan, keselamatan dan agar tanah subur.
       4. Untuk mendapatkan pengampunan dosa.
       5. Sebagai bukti bhakti untuk mencapai sorga.
            Ada juga kurban upakara khusus lainnya dilakukan pada zaman veda ini bagi praktisi/pelaksana bertujuan seperti:
  • Untuk memproleh keturunan.
  •  Untuk mendapatkan kekayaan.
  •  Untuk memenuhi keinginan personal lainnya.
Pada zaman veda ini disebutkan bahwa dengan melakukan upakara yadnya juga  dipercaya akan mendapatkan hasil sebagi berikut:
  • Untuk membantu  roh binatang itu pergi kesorga (Regveda 1.162.21 penafsiran dari Rsi Viasa /Ortodox)
  • Untuk membebaskan dosa dari binatang itu dan juga untuk membebaskan dosa dari yang mempersembahkannya.
  • Binatang dikorbankan maka para dewa akan memebrikan kekayaan /rejeki pada orang yang melakukan yadnya persembahan tersebut.
  • Roh binatang yang dipersembahkan itu akan terlahir menjadi kehidupan yang lebih terhormat.
            Pada zaman veda ini ada berbagai macam yadnya besar yang dilakukan diluar rumah atau ditempat umum disebutkan dalam kitab Rig veda jenis upakara kurban itu antara lain:
  •  Ashwanedha yadnya yaitu suatu persembahan binatang kuda termasuk persembahan manusia, ini sutu persembahan yang sangat utama. Dipersembahkan dengan cara disemblih atau dilepaskan, disebutkan upakara yang utama membutuhkan 609 jenis binatang baik binatang yang hidupnya di air, darat dan udara. Upakara seperti ini hanya boleh dilakukan oleh pejabat  tinggi pemerintahan, kaum bangsawan/raja yang dilakukan selama kurun waktu satu tahun. Pada pelaksanaanya binatang kuda dihias dengan berbagai pernak-pernik yang mewah dan mahal kemudian binatang kuda itu dilepas bebas selama satu tahun namun diikuti oleh Putra Mahkota dan para prajurit kerajaan yang terlatih yang bertujuan memperluas wilayah jajahannya.  Apabila kuda tersebut melewati wilayah lain tanpa mendapatkan perlawanan dari pemilik wilayah tersebut yang berarti wilayah baru yang dilaluinya menjadi miliknya. Setelah pelaksanaan upakara ini selesai maka kuda tersebut dipersembahkan dan disemblih.
  • Agni Dheya yaitu: upakara persembahan pendahuluan sebelum mempersembahkan upakara yang lainnya, dini ditafsirkan sebagai caru berupa binatang.
  • Raja Suya yadnya yaitu suatu persembahan untuk penobatan sebagai seorang raja dengan melakukan kurban binatang.
  • Waja Peya Yadnya yaitu Kurban binatang untuk acara penobatan pendeta/orang yang disucikan pada saat itu.
  • Sarwa Nedha Yadnya  yaitu persembahan berbagai jenis binatang untuk kesuburan/mendapatkan berkah.
  • Dan yadnya kurban lainnya.
            Pada zaman veda ini juga adanya upakara Agni hotra, bentuk tempat pelaksanaan Agni hotra yang berupa pasepan berbentuk binatang dan ukurannya tertentu (baca ayurveda tentang agni hotra), upakara Agni hotra ini yang digolongkan menjadi 3 macam jenis antara lain:
  • Dhaksina agni
  • Graha agni (dipakai saat upakara perkawinan)
  • Ahawaniya agni

Pentingnya Pelaksanaan Upakara Kematian

Pada zaman veda dilaksanakan upakara kematian, pada zaman veda upakara kematian berupa:
  • Dengan cara penguburan/ditanam yang dikenal dengan nama An Agni Dagdha.
  • Dengan cara dibakar/ dikremasi yang dikenal dengans ebutan Agni Dagdha.

Tidak Adanya Pemujaan Leluhur secara khusus

            Pada zaman Veda ini peracya setelah menjadi leluhur akan tinggal di tempat Indra Yama (alam para Dewa) dengan standard sama seperti para dewa. disebutkan bahwa :
  • Leluhur akan memeberikan perlindungan, kesejahteraan/rejeki, dan kesehatan
  • Leluhur tidak akan menyakiti keturunannya yang bersalah/berdosa
  • Leluhur akan memberikan keturunan serta kekayaan kepada keturunannya.

Tidak Adanya Pemujaan Patung-patung

            Tentang pemujaan dengan menggunakan patung-patung tidak disinggung pada zaman veda ini, sehingga ditafsirkan tidak menggunakan sarana berupa patung-patung seperti pada zaman  Lembah Sungai Shindu adanya archa/benda sejarah yang ditemukan bahwa menggunakan sarana Patung-patung sebagai sarana pemujaan.
            Tidak disebutkan adanya tempat persembahyangan tertutup seperti gedong (dibali) mandir (di India) namun ditafsirkan hanya berupa altar terbuka sertiPalinggih Surya, padmasana (di Bali).
            Pada zaman veda ini yang terpenting adalah upakara yadnya, diyakini bahwa sorga didapat dari upakara yadnya. Pada zaman ini suatu ajaran yang optimisme, para dewa sangat baik sehingga yakin benar baik, merupakan agama kepuasan hati atau agama rasa yang disebutkan sebagai symbol rasa bhakti (Amanastuti). Benih-benih filsafat sudah disampaikan namun belum begitu berkembang karena pada zaman ini hanya ada Rig Veda.
            Lainnya setelah Zaman Rig Veda sekitar 1000 sebelum masehi – 800 sebelum masehi dapat dijumpai pada kitab suci Sama veda, Ayur Veda dan Atharwa Veda termasuk kitab kitab Vedanta. Ke empat veda tersebut diatas oleh  Bhagawan Byasa atau Krisna Dwipayana mengkondifikasikan kedalam Catur Veda.  Bhagawan Byasa juga menulis kitab-kitab Purana dan Mahabharata.  Seperti kita ketahui bahwa Kitab Suci Veda dibedakan menjadi 4 kelompok Veda, antara lain:
1. Rig Veda: Suatu veda yang memuat tentang Mantra/Doa kepada paraa dewa-Dewi yang pemakaiannya dominan dibaca.
2. Sama Veda: Suatu Veda yang berisikan tentang Mantra/Doa kepada Dewa-Dewi namun pemakaiannya dinyanyikan.
3. Yayur Veda: Suatu veda yang berisikan tentang Mantra/Doa pada Dewa-Dewi yang pada umumnya memuat tentang upacara Yadnya.
4. Atharwa Veda:  Suatu  veda yang berisikan tentang ilmu Gaib.
            Pada zaman sama Veda ini perekonomian , politik dan budaya sangat maju pesat sehingga tersebarnya agama veda makin meluas. Sehingga pada zaman ini isi veda yang berupa pujuan/doa atau mantra-mantra mulai dinyanyikan bukan sekedar dibaca saja pada acara keagamaan seperti pada zaman Rig Veda. Kemudian nyanyian pujian/doa atau mantra ini dikondifikasikan dalam kitab Sama veda.
            Selanjutnya Zaman Yayur Veda, mulai lagi dikumpulkan sloka-sloka baru, dan pada zaman ini economi sangat subur dan situasi politik membaik dan orang-orang Arya saat itu memperkuat kekuasaan dan kedudukan di masyarakat maka mulailah disusun berupa cara-cara melakukan upakara yadnya(kurban suci) dan diperkuat dengan petunjuk-petunjuknya kedalam kitab suci Veda Yayur Veda. Dan yadnya-yadnya itu dibagi-bagi menjadi beberapa klasifikasi menurut tujuannya masing-masing. Kedudukan yadnya pada saat itu sangat penting.Yadnya adalah satu-satunya jalan untuk bisa mencapai moksa. Yadnya pada saat itu sudah disesuaikan pada daerah-daerah setempat.
             Diteruskan dengan zaman Atharwa veda yang memuat  berbagai hal tentang nilai kemagisan/magic. Suatu kitab yang berisikanmantra-mantra penolak ilmu sihir/ilmu hitam, untuk melindungi orang sakit dan mantra untuk melawan penyakit itu sendiri. Dan juga di kitab Atharwa Veda ini berisikan mengenai upakara pemakaman Jenasah.
            Pada saat upakara berlangsungnya upakara yadnya ketiga kitab suci Veda (Rig Veda, Sama Veda dan Yayur Veda) harus dibawa dibaca dan atau dinyanyikan oleh para pendeta(Brahmana) dan semua upakara yadnya mengacu pada petunjuk kitab veda suci Ayur veda. Pada kitab Ayur veda (mandala X) juga disebutkan adanya upacara yang dilakukan harus memakai selempot/selendang senteng (Mekhala) yang dililitkan sekitar pinggang, dan juga memakai destar atau ketu (Ushnisha) yang dipakai di kepala.
            Pada zaman Veda ini ada berupa korban binatang dengan tujuan:
Mengharmoniskan keadaan alam (Rta), Untuk mendapatkan kekuatan, kekuasaan, kemenangan, untuk memproleh kemakmuran, kesejahteraan, keselamatan, agar tanah subur, dan untuk mendapatkan pengampunan dosa dan untuk mendapatkan sorga.
            Pada zaman Veda ini (zaman agama Veda) penganutnya memuja Sinar atau Dewa dari Prakerti (Alam) yang mana sinar ini sebagai manesfestasi dari Brahma(Tuhan). Berasal dari kata Brh yang memiliki arti Tumbuh atau tercipta, dari kata Brhati yang memiliki arti penyebab sesuatu yang tumbuh atau yang tercipta. Orang-orang Arya sangat tertarik dan terpesona akan cahaya yang cemerlang keindahan dan kedahsyatan serta keagungan Prakerti yang kemudian dipuja sebagai Surya (Matahari), Indra (Halilintar)  Wahyu (Angin), Agni (api), Pratiwi (bumi) dan lain sebagainya. Menurut suku bangsa Arya saat itu dewa-dewa yang terpenting adalah Dewa Indra dan Dewa Waruna. pada zaman itu orang Arya dan orang asli lembah Sindhu dan orang Dravida menyebut agama mereka berbagai nama, antara lain Agama Waidika, Tantrika dan juga Sanatana Dharma.  Namun orang-orang Persia menyebutnya agama Hindu, karena menyebut kata Shindu dengan huruf S nya tidak bisa.  Kemudian zaman Purana disebutkan orang Arya di lembah Sungai Sindhu memebri nama agama mereka Agama Purana, mamun ada lain yang menyebut agama Veda. Pada agama Veda diajarkan secara lisan dari mulut kemulut kemudian ditulis dikit demi sedikit. Kitab Veda ini berisikan pengaturan masalah-masalah keagamaan seperti upacara-upacara keagamaan dan ritual-ritual lainnya serta Yadnya yang mana semua ini wajib dilaksanakan oleh setiap orang dari masa di dalam kandungan sampai meninggal.  Di Veda ini disebutkan konsep Catur Ashrama sebagaai sebuah kerangka hidup yang berlaku.  Serta di veda tersebut disebutkan kedudukan dan pelaksanaan Yajna, juga disebut  pengucapan dan pembacaan sloka-sloka suci veda yang menemani hidup sampai mati adalah konsep penting menurut Veda, namun di India konsep ini sudah mulai punah bahkan di Bali seperti kita lihat sendiri nyaris punah karena masyarakat lebih cendrung mencari jalan pintas agar lebih efficient karena berharganya waktu dan kesempatan untuk berkarya memenuhi kebutuhan hidup yang lebih modern sesuai tuntutan zaman yang ada. Jadi Hindu yang berkembang sekarang ini sudah perpaduan antara Suku bangsa Arya, suku bangsa Dravida yang hidup di lembah Sungai Shindu dan combinasi dari evolusinya termasuk budaya dari suku bangsa-bangsa lainnya yang contak langsung dengan perkembangan Hindu sampai saat ini.


Zaman Kemunduran  Agama Hindu (± 600 SM-200 SM)

Pada abad ke-6 sebelum masehi, ajaran agama Brahmana ditandai dengan munculnya penafsiran terhadap kitab suci Catur Veda yang melahirkan kitab-kitab Brahmana, Aranyaka, dan upanizad. Namun demikian, penafsiran ini hanya dilakukan oleh para Rshi yang memiliki otoritas untuk dan berlangsung dalam tradisi perguruan (Guru Parampara) yang kuat dan kepercayaannya yang kuat. Meskipun upanizad berisi pemikiran filosofis dan spekulasi metafisis, tetapi ini merupakan ajaran rahasia yang berlangsung antara guru dan murid. Ini ditegaskan dengan kata “Upanisad”  yang berarti “kedudukan dekat dengan guru” untuk menerima ahjaran-ajaran mengenai rahasia ke-Tuhan-an (Brahma rahasyam).
Pada Zaman ini, kitab catur veda dipelajari dan ditafsirkan dengan bebas oleh siapapun. Kebebasan ini menyebabkan timbulnya beberapa ajaran dan aliran yang berbeda-beda. Dan beberpa kalangan tidak mengakui sebagai otoritas veda sebagai kitab suci. Pada zaman itu ditentang oleh aliran Budha, Jaina, Charwaka, Ajiwika, Prawrajika, Nirgata dan lainnya.  Mereka menolak otoritas dan kekuasaan kitab suci weda, juga seluruh upakara ritual yang bersumber dari kitab suci weda, sebaliknya mereka mendukung, mengajurkan etika (moralitas), mengagungkan nilai-nilai kehidupan, ahimsa, tapa brata yang keras, dan penebusan dosa dengan jalan yang luarbiasa untuk mencapai moksa. Ditekankan pada ajaran hidup yang tertinggi adalah kebebasan atman dari keterikatan duniawi yang sebagai penyebab penderitaan (dhuka). Hanya dengan mengetahui jalan duka dan mengatasi penyebabnya orang akan mencapai kebebasan dari kelahiran dan kematian yang disebut nirwana. Menentang kebenaran veda, mengutuk adanya korban binatang, menentang upakara ritual, menentang catur warna(kasta) dan menentang kekuasaan para pendeta.
            Ajaran ini mampu menarik simpati masyarakat luas di India, karena caranya sangat sederhana. Ajaran Budha menyebar begitu cepat keseluruh India sehingga sebagian besar penduduk yang beragama Hindu (Brahmana) beralih agama ke agama Budha, sehingga orang yang masih taat ajaran Brahmana, hanya kaum bangsawan  dan aristokrat yang masih bertahan.  Zaman ini merupakan zaman keemasan agama Budha (the Golden age of Budhism) di India. Akibatnya agama di India pecah menjadi dua golongan yaitu golongan Ortodoks/Smarta/Karma Kandi (mereka yang masih menganut agama Brahmana) dan golongan rasionalis  (golongan Bhuda, Jaina, dan sebagainya), dengan meluasnya ajaran aliran rasionalis ini maka agama Brahmana mengalami kemunduran yang luar biasa sehingga disebut zaman kemunduran agama Hindu. Hanya orang-orang Hindu yang masih taat saja yang tetap beragama Hindu dan sebagain besar hanya golongan Brahmana, golongan bangsawan dan aristocrat.  Pada zaman rasionalis ini, dinyatakan bahwa Nirwana tidak dapat dicapai melalui yadnya, tapa brata ataupun Brahma widya, melainkan hanya dapat dicapai dengan melalui jalan spiritualitas, etika dan perbuatan baik. Aliran rasionalis mennetang kebenaran veda, menentang upakara yadnya yang banyak dan rumit, menentang agama yang bersifat aristocrat, menentang dengan adanya system warna (kasta), menentang penggunaan bahasa Sangsekerta, menentang pembunuhan binatang untuk pelaksanaan upakara yadnya namun menekankan ajaran ahimsa secara ketat serta menentang kekuasaan Brahmana dalam mengatur keperluaan spiritual masyarakat. Dan dari segi politik di zaman ini dipimpin oleh sorang raja beraliran Budha. Agama Budha ditetapkan sebagai agama negara, sehingga para raja-raja yang ada melarang melakukan ritual yadnya yang menggunakan kurban binatang.  Pada saat itu dengan rajanya yang kuat yaitu kerajaan Magadha.  Dan sampai-sampai kuil-kuil Brahmana diancurkan.

Zaman Kebangkitan  Agama Hindu (± 200 SM-300 M)

Hari semakin hari berlalu,  kaum Brahmana bangkit, mulai mengadakan pembrontakan melawan pemerintah kerajaan  Magadha yang beragama Budha. Dari kalangan Brahmana dipimpin oleh Pushyamitra (Mahajan), dia adalah seorang Brahmana yang menjabat sebagai senapati dikerajaan Magadha. Pusyamitra berasil membunuh raja terakhir dari Dinasty Maurya yang bernama Brihadratha pada tahun 184 SM. Dalam kitab Harshacarita disebutkan bahwa saat raja Brihadrathasedang mengadakan pemeriksaan pasukan dalam sebuah parade, saat itulah ia dibunuh oleh Pushyamitra. Setelah itu Pushyamitra mampu merampas kerajaan Maurya, kemudian mendirikan dinasty Brahmana yang disebut Sungga.
Pada zaman pemerintahan Pusyamitra ini melarang masyarakat mengikuti aliran budha, bahkan pengikutnya tidak segan-segan dibunuh termasuk Bhiksu dan kuil-kuil budha (wihara) diancurkan. Pushyamitra adalah seorang raja Brahmana yang pantang mundur untuk melindungi, mempertahankan dan menyebarkan agama Brahmana. Dia menobrak dan mengancurkan penyebar agama Budha di India. Dia membangkitkan kembali ritual yadnya seperti upakara Aswamedhayadnya, yaitu suatu upakara yang terbesar agama Brahmana. Pada zaman ini masyarakat memuja Dewa Wasudewa disamakan kedudukannya seperti Dewa Wisnu dalam kitab veda. Para penganutnya memuja Lingga, yang merupakan warisan dari pemujaan di lembah Sungai Shindu. Pada zaman veda pemujaan lingga hanya dilakukan oleh orang-orang Dravida namun kemudian meluas pada orang-orang Arya. Ajaran ritual mulai berkembang (Karma kanda) yang bersumber dari kitab suci veda dan juga berdasarkan kitab-kitab Brahmana. Dewa Siwa diakui sebagi Dewa tertinggi yang kedudukannya disamakan dengan Dewa Ludra dalam kitab veda.  Namun pada zaman ini bahwa nama-nama dewa yang disebutkan dalam kitab Veda seperti Dewa Indra, Waruna, Agni dan Aswin tidak dianggap sebagai dewa yang terpenting lagi yang digeser kedudukannya oleh umat Hindu di India, namun dewa lainnya yang zaman veda tidak penting seperti Dewa Wisnu, Shiwa dan lain-lainnya mendapat kedudukan cukup penting di zaman Pushyamitra ini.
            Pada zaman ini untuk mengindari salah penafsiran kitab suci veda seperti pada zaman upanisad sebelumnya, maka dilarang masyarakat umum mempelajari kitab veda. Sehingga bermunculan penulisan sastra-satra suci oleh kaum Pendeta Brahmana yang disebut dengan nama Pancama Veda, seperti kitab-kitab itihasa (Ramayana dan Mahabharata), Bhagavad Gita, Shwetaswatara, kitab-kitab purana, dan sebagainya. Kitab pancama veda ini boleh dibaca oleh masyarakat umum dan dikatakan kesuciannya sama dengan kitab suci veda.  Pada zaman ini berkembang juga sistem filsafat Hindu yang bersumber dari kitab-kitab Upanisad.  Seperti kitab-kitab Sutra yang menjadi sumber ajaran dari filsafat Hindu (Sad Dharsana yaitu Nyayasutra (Nyaya), Waisesika, Samkhya, Yoga(yoga sutra),Mimamsasutra dan Vedanthasutra). Isi dari sistem filsafat ini tentang uraian alam semesta, pencipta dan ciptaan-Nya, dan pertanyaan tentang hidup dan mati secara logis-filosofis.
            Para pendeta Brahmana menyusun kembali tentang ajaran ritual yadnya agar mudah ditafsirkan, dengan kalimat-kalimat yang pendek-pendek sehingga disebut kitab Sutra.  Seperti kitab kalpasutra yang terdiri dari Srautasutra yang berisikan mengenai upakara umum, Grihyasutra yang berisikan mengenai upakara dirumah tangga, Dharmasutra sulbasutra.  Pada zaman ini terjadi pengakuan terhadap semua adat istiadat di daerah.  Bahkan hukum sosial sudah dipakai sebagai hukum agama, sehingga siapa yang melanggar adat dianggap melanggar hukum agama. Pada zaman ini Dharmasastra menjadi kitab hukum Hindu yang juga menjadi sumber hukum sosial India pada zaman itu.
            Berdasarkan uraian ditas dapat disimpulkan bahwa ciri penting pada zaman kebangkitan agama Hindu atau agama Brahmana ortodoks adalah: Kitab suci Catur Veda tidak boleh dibaca untuk umum, sebagai penggantinya ditulislah kitab-kitab pancama Veda, Itihasa (Ramayana dan Mahabaratha) dan kitab-kitab Purana; Munculnya pemujaan kepada Trimurti (Brahma, Wisnu, Shiwa) ; munculnya ajaran Sad Dharsana; semua adat-istiadat harus tetap jalan; munculnya perhitungan Yuga.  Ajaran Brahmana Ortodoks (Brahmanisme) yang datang ke Indonesia sekitar abad pertama Masehi. Kemudian ajaran ini menyebar luas ke pulau jawa abad ke -5 Masehi, dan akhirnya berkembang ke Bali sampai sekarang, dengan dibuktikan oleh berbagai peninggalan arkeologis dan kesusastraan Hindu di Indonesia.

Zaman Purana
ZAMAN KEMASAN AGAMA DAN KEBUDAYAAN HINDU 
(±300 Masehi - 700 Masehi)

……………………………………………………………………………………………..
Pada akhir zaman brahmana (zaman kebangkitan agama hindu), kehormatan agama hindu, yang sempat hilang karena menguatnya pengaruh agama Buddha di india dapat di raih kembali. India kembali di perintah oleh raja-raja beragama hindu dari keturunan dinasti gupta. Perkembangan agama hindu (brahmanisme) pada zaman ini mendapatkan dukungan penuh dari raja dan seluruh apiratur kerajaan (tripathi, 1999 :255). Mereka semua aktif mengembangkan dan mengagungkan agama hindu. Upacara yang dahulu sudah tidak di laksanakan lagi, sekarang di laksanakan kembali dengan tertib dan khidmat (macmillan (ed), 2001 : 72). Dengan diperintahnya kembali  India oleh raja-raja yang beragama Hindu maka agama dan kebudayaan Hindu tumbuh subur dan berkembang.
            Walaupun demikian, agama dan kebudayaan hindu yang berkembang pada zaman ini  merupakan kelanjutan dari zaman brahmán akhir  (200 SM – 300M ). Salah satu cirri  terpenting dari zaman brahmanan akhir (Revial of hindusim) adalah munculnya mazhab –mazhab dalam agama hindu. Secara teologis. Kemunculan mazab-mazab ini (testic religios) telah menggeser dewa-dewa yang semula  di puja dalam kitab suci weda dan digantikan dengan dewa-dewa lain yang diyakini sebagai tuhan oleh mazhab tersebut (mahajan,2002:375;majumdar, 1998:171).
            Dari sekian mazhab yang ada, mazhab waishnawa dan mazhab shiwa sangat terkenal pada zaman ini. Mazhab waishnawa mengagungkan  dewa wasudewa yang disamakan dengan Dewa Wishnu dalam weda, sedangkan mazhab shiwa mengagungkan Dewa Shiwa yang disamakan dengan Dewa Rudra dalam weda (thapar,1979:161). Selain itu, juga muncul mazhab besar lainnya, yaitu shakta (pemujaan shakti), ganapatya (pemuja ganesha), dan sora (pemuja surya) (majumdar, 1998:171). Kelima mazhab disebut Panca Sakha atau Panca Upasakha, atau Panca Yatanapuja. Walaupun demikian, tidak ada perbedaan yang tegas antara kelima mazhab tersebut (Panca Sakha)  Oleh karena itu lebih tepat disebut sebagai lima bentuk pemujaan kepada ista dewata. Ini penting dipahami untuk membedakan dengan mazhab-mazhab yang lahir pada zaman purana (historical tradition) (thapar, 1979:163).
            Dalam hal kesusasteraan Hindu, zaman Brahmána akhir juga di tandai dengan ditulisnya kitab-kitab Pancama Weda. Kitab ini sebagai pengganti kitab suciCatur Weda yang pada masa itu tidak boleh dibaca masyaeakat umum. Ini menyebabkan setiap mazhab menulis dan mengagungkan satu atau beberapa Panca Weda, sebagai kitab yang paling disucikan dalam mazhabnya. Malahan, kesuciannya diyakini sama dengan kitab CaturWeda  (mahajan, 2002:566; sulivan, 1998:5). Penulisan kitab-kitab ini terus berlanjut seiring dengan semakin berkembangnya mazhab-mazhab (pancha upasakha ) dalam agama Hindu.
            Kesusasteraan Hindu yang penting pada zaman ini adalah kitab-kitab Purana. Secara tradisi, diyakini bahwa kitab Purana di tulis oleh Maharsi Wyasa dan umumnya disebut  Pancama Weda (shastri, 1973:v) ada 18 (delapan belas) kitab purana mayor (mahapurana) dan 18 (delapan belas)  kitab purana minor seperti misalnya, Shiwa Purana adalah salah satu kitab suci dari mazhab shiwa: brahmanda purana adalah kitab suci dari mazhab shakta : bhagawatam puranam adalah salh satu kitab suci dari mazhab waishnawa, dan lain-lain (mahajan,2002:376;majumbar ,1998:438; mani, 1984:617)
            Bermunculannya kitab-kitab  purana (Histirical Tradition) seiring dengan tumbuh-suburnya mazhab-mazhab dalam agama hindu sehingga zaman ini disebut zaman purana, zaman ini berlangsung dari tahun 300 masehi  hingga 700 masehi (Kundra, 1968 : 187). Adapun agama hindu pada zamn itu disebut agama purana (Puranic religión) (Sharma, 2001 : 101 ; Luninya, 2002 : 190). Berbeda dengan agama Brahmana (Brahmanismeotodiks)  yang menitik beratkan pada pelaksanaan upacara yajna dan persembahan kurban binatang,  agama purana justru bersifat sektarian. Artinya, pada zaman ini muncul banyak sakte (mazhab) yang secara tegas berbeda antara sekte  yang satu dengan sakte yang lain. Setiap sakte ini memiliki kekayakinan dan tata caranya sendiri ; adapun karateristik sebuah mazhab atau sekte, antara lain: memiliki nama Tuhan sendiri; memiliki kitab suci sendiri; memiliki sadhana sendiri; doktrin ajaran sendiri; memiliki ritual pemujaan yang khas; memiliki kosmologi dan kosmogoni sendiri; memiliki ajaran yoga-nya sendiri; memiliki kepercayaan moksa sendiri; dan memiliki sisitem filsafat sendiri (Rejeev, 1990).
Sebagai kelanjutan dari zaman Brahmana akhir, Mazhab Waishnawa dan shiwa juga semakin berkembang pada zaman purana ini. Akan tetapi, ajaran-ajaran dari mazhab waishnawa mengalami banyak perubahan Di bandingkan dengan ajaran awal pada zaman kemunculannya sekitar abad ke kedua sebelum masehi.  Perubahan dalam mazhab waishnawa ini terutama karena di pengaruhi oleh agama budha. Ajaran-ajaran yang berasal dari agama budha seperti, ahimsa,vegetarian (Majumdar, 1998 : 431 ; Luniya, 2001 : 196),  pemujaan patung, penolakan terhadap sistem kasta, dan pembangun kuil-kuil, pada akhirnya menjadi bagian dari ajaran mazhab waishnawa (Kundra, 1968 : 177; Luniya, 2001: 208).  Pada zaman ini juga sapi mulai di sucikan, bahkan di puja terutama oleh penganut waishnawa, sedangkan lembu di sucikan oleh penganut shaiwa.
           
Perkembangan mazhab bhagawata waishnawa semakin pesat.  Ini di tandai dengan munculnya sub-sub sekte yang intinya memuja dewa whisnu. Ajaran mengenai awatara yang muncul dalam kitab-kitab purana mulai di yakini oleh penganutnya (Sharma, 2001 : 101). Akhirnya muncul pemujaan kepada awatara dewa wishnu seperti , rama,khrisna, narasinga,dan lain-lain. Demikian pula pemujaan kepada dewa laksmi, radha,hanuman, dan garuda mulai berkembang dan mengakar dalam masyarakat (Tripathi, 1999:268-269). Mazhab Waishnawa menekankan  tiga macam jalan untuk mencapai moksa, yaitu: pertama, melalui karmamarga (perbuatan), kedua, melalui jnanamarga (jalan ilmu pengetahuan) dan ketiga, melalui bhaktimarga (jalan berbakti). Dalam pelaksanaan karmamarga, cara-cara pelaksanaan upacara keagamaan secara tepat dan benar harus di lakukan (Macmillan (ed), 2001 : 78-79; Rajeev, 1990:21). Sebaliknya, mazhab shiwa tetap menjalankan ajaran ritual berdasarkan ajaran kitab-kitab brahmana.  Mereka tetap melaksanakan upacara yajna, korban suci binatang, dan hidup non-vegetarian (boleh memakan daging) (Sharma, 2001:68)
            Dengan adanya perbedaan ajaran yang mendasarkan dari kedua mazab ini, maka agama hindu pecah untuk kedua kalinya. Mazhab waishnawa disebut golongan rasionalisme atau golongan Jnana kandhi  yang menerima kebenaran filsafat, rasio, dan logika. Mazhab ini menentang upacara kurban seperti yang disebutkan dalam kitab suci weda, menolak perbedaan warna,dan kekuasaan pendeta. Golongan rasionalis ini di sebut juga dengan nama golongan Wedantis (Sharma, 2001 : 68). Sebaliknya , mazhab Shiwa disebut golongan ortodoks atau golongan krama-kandi atau golongan mimamsaka atau umumnya disebut golongan tradisi. Mazhab shiwa ini mendasarkan pemikirannya pada pentingnya ritual, serta tetap mempertahankan tradisi seperti yang di ajarkan dalam kitab suci weda dan penjelasannya berdasarkan kitab-kitab brahmana. Mereka tetap mempertahankan dan melaksanakan upacara yajna sebagai  dasar ajaran yang terpenting dan umumnya  mereka tidak vegetarian (Sharma, 2004 : 68).
            Mazhab waishnawa dan shiwa saling bertentangan untuk mempertaruhkan prinsip-prinsip kepercayaan masing-masing. Pada zaman ini pula muncul mazhab lain sebagai penengah yang di sebut mazhab brahmana atau mazhab smarta atau mazhab yang berdasarkan tradisi. Mazhab brhamana-smarta ini muncul pada abad pertama sebelum masehi. Mazhab ini mengajarkan penyembahan pada dewa trimurti, yaitu brahma, wishnu dan rudra ( Majumdar, 1998 : 177 ; Rajeev, 1990:21).
            Selain mazhab waishnawa dan shiwa seperti yang tersebut di atas, masih banyak lagi mazhab dan sub-sub mazhab seperti, shiwa shakti,Ardhanareshwari, Harihara, dan lain-lain. Demikian pula, pemujaan ganesha, surya (sora), dan shakti tumbuh dengan pesatnya di kalangan masyarakat (Tripathi, 1999:269; Khanna, 1967 : 132; Rajeev, 1990:22-25). Pada zaman ini juga, mazhab trimurti yang sudah muncul sejak abad pertama sebelum masehi berkembang luas di kalangan masyarakat (Mahajan, 2002:375). Mazhab yang menyembah trimurti (brahma-wishnu-shiwa) ini ikut menyebar ke indonesia bersama dengan mazhab shiwagama dan waishnawagama. Zaman  purana ini memang tepat disebut zaman keemasan agama hindu (The Golden Age Of
Hindusm) (Kundra, 1968 : 168). Mengingat agama hindu sudah mulai tersebar ke seluruh India, Bahkan juga tersebar keluar negara india termasuk ke Asia Tenggara dan indonesia, bahkan sejak abad pertama masehi (Kundra, 1968 : 187 ; Luniya, 202:189).
            Perkembangan agama Hindu di India dan penyebarannya ke luar india, tiak dapat dilepaskan dari semakin berkembangnya ajaran tantrayana atau tantrisme pada abad ke-5 mashi (Thapara, 1979:16). Kitab-kitab tantrayana yang umum di sebut kitab agama atau kitab tantra. Banyak di tulis pada zaman ini. Kitab tantrayana ini di bagi menjadi dua , yaitu kitab daksinagama dan wamagama. Setiap mazhab dalam Tantrayana memiliki kitab-kitab sendiri, Shiwagama, shaktagama, Waishnawagama, dan lain-lain (Banerjee, 1988:367-468).
            Kitab  Waishnawagama berisi tentang teologi, atribut-atribut para dewa, mantra, cara mengucapkannya, cara meditasi, dan lain-lain. Hal-hal ini diuraikan secara panjang lebar dalam kitab tersebut. Kitab Waishnawa gama ada dua macam, yakni Pancharatra dan Waikanagama (Gupta, 2000:xv-xviii). Sementara itu,kitab Shiwa gama jumlahnya sebanyak 208 buah. Paling terkenal dari kitab Shiwa gama adalah Pasupata Sutra, Tattwa Sanggraha, Moksa Karika, dan lain-lain. Sedangkan kitab Saktagama berjumlah 64 buah dan yang terpenting adalah Sarada Tilaka, Mantra Maharnawa, dan lain-lain (Rao, 1999:168).
            Pada zaman purana ini, mazhab shiwa juga berkembang pesat dan menyebar luas ke seluruh India. Mazhab shiwa pertama kali muncul pada abad pertama sebelum masehi. Pada zaman ini, mazhab shiwa memiliki banyak sub-sekte seperti misalnya, mazhab pasupata, kapalika, kalamuka,linggayat, dan lain-lain (Mahajan, 2002:532-538; Majumdar,1998:432-433). Menurut ajaran mazhab shiwa, moksa hanya dapat dicapai dengan jalan bhakti melalui samskara dan sadhana pancamakara (lima macam persembahan), dengan jalan yoga, dan setelah mendapat anugerah dari shiwa. Ajaran dan filsafat semacam ini disebut filsafat shiwa siddhanta (Law, 2000:1-17). Sementara            
itu, mazhab shiwa-bhairawa, kalamukha, dan kapalika, melakukan ritual pemujaan dengan persembahan berupa sadhana pancamakrama  ( biji-bijian, daging, ikan, dan lain-lain) (Dutt, 1997:xx). Mazhab shiwa umumnya masih mempertahankan ajaran-ajaran upacara kurban sebagaimana diajarkan dalam kitab suci weda dan kitab-kitab brahmana (Thapar, 1979:160).
            Tantrayana berpengaruh sangat kuat dalam masyarakat, bahkan mampu mempengaruhi seluruh mazhab yang ada dalam agama hindu (Sharma, 2001:328;nLuniya,2002:204). Tanpa kecuali juga mempengaruhi mazhab shiwa dan mazhab waishnawa, sehingga muncul mazhab shiwatantra atau shiwagama dan waishnawatantra atau waishnawagama. Mazhab tantrayana ini memusatkan pemujaan kepada shakti atau istri  dari dewa-dewa. Seperti pemujaan kepada durga, prawati, sakti atau bhairawi sebagai shakti dari dewa shiwa. Demikian juga pemujaan kepada mahalaksmi sebagai shakti dewa wishnu, dan mahasaraswati sebagai shakti dewa brahma. Demikianlah pemujaan kepada shakti (istri dewa ) menjadi ciri penting ajaran tantrayana. Mazhab ini muncul dan berkembang pesat sekitar abad ke-5 masehi, tetapi bibit-bibit ajarannya
sudah dapat di rujuk dalam agama dravida atau lembah sungai sindhu (Gupta, 2000: xviii-xix; Sharma, 2001:328).
Munculnya ajaran Tantrayana menjadi ciri penting pada zaman purana ini. Oleh karena itu perlu dijelaskan secara singkat ciri-ciri ajaran tantra. Menurut ajaran tantra, moksa dapat dicapai dengan sadhana(disiplin rohani)mempersembahkan semua pancatattwa, yaitu persembahan biji-bijian ( mudra), daging ( mamsa ), ikan ( matsya), minuman keras (mada), dan simbol-simbol lingga-yoni ( maithuna ) melalui bhakti yogatantra dan dengan mendapatkan anugerah shiwa (Dutt, 1997:81; Mahajan, 2002:668). Selain itu, ajaran tantrayana juga menganjurkan persembahan binatang kurban seperti kerbau, kambing,burung, dan lain-lain. Dalam ajaran tantra juga diajarkan tentang persembahan darah (bali : nyambleh). Pusat perkembangan ajaran tantrayana dan shakta trutama adalah di wilayah assam, india timur.
            Apabila diamati lebih jauh bahwa hakikat ajaran tantrayana memiliki keserupaan dengan praktik agama hindu di indonesia. Ini dapat dibenarkan karena agama hindu yang datang ke indonesia sejak abad pertama masehi adalah semua mazhab yang muncul pada zaham purana terutama adalah mazhab shiwagama atau shiwatantra dan waishnawagama atau waishnawatantra. Kedua mazhab ini menekankan ajaran untuk melaksanakan yajna (korban binatang) dan panca tattwa sebagai salah satu sarana dan sadhana mencapai moksa. Lain dari pada itu bahwa agama hindu di indonesi juga mewarisi filsafat shiwa sidhanta yang berkembang di india selatan.
            Ciri penting lainnya dari zaman ini adalah munculnya pemujaan pancayatana puja (bali : pengider-ider). Setiap mazhab bahkan memiliki pancayatana puja-nya masing-masing, seperti pancanana, shiwapancha, pancayatana, pancabrahma (shiwa); pancaratra, pancawyuha (waishnawa) pancaboddha,pancatatagatha (Buddha), Dig Palaka (Agama Purana) dan Panca Bedha (Tantra) (Gupta, 2000:xviii-xix; Sharma, 2001:328; Macmillan (ed), 2001 : 194).
            Berdasarkan uraian di atas dapat dijelaskan ciri-ciri penting dalam agama purana (puranic religion) dan kebudayaan india pada zaman ini. Akan tetapi, beberapa ciri ini sudah mulai muncul sejak zaman brahmana akhir (Macmillan (ed), 2001:192-194; Mahajan, 2002:375-377), sebagai berikut
  1. Munculnya banyak sekte,dan kadangkala saling bertentangan;
  2. Golongan waishnawa mengambil-alih ajaran budha;
  3. Berkembangnya ajaran tantrayana;
  4. Kitab-kitab purana diakui sebagai pancama weda;
  5. Mulai munculnya tempat- tempat pemujaan (kuil);
  6. Mulai melakukan pemujaan patung (arcanam);
  7. Pertentangan atnara kelompok vegetariandan non-vegetarian;
  8. Catur warna semakin kuat di pahami sebagai warisan atau keturunan;
  9.       Munculnya kasta pariah di India;
  10. Ajaran catur asrama mulai dilaksanakan secara disiplin;
  11. Upacara-upacara besar dilaksanakan;
  12. Munculnya perhitungan tentang zaman (yuga);
  13. Munculnya pemujaan kepada awatara wishnu (termasuk buddha);
  14. Pemujaan dewa-dewa sebanyak 33.000.000 (33 lakh);
  15. Muncul perayaan hari raya agama hindu;
  16. Pemujaan pancayatana;
  17. Pendeta mendapatkan kedudukan penting;
  18. Hukum adat disamakan dengan hukum agama (Mahajan,2002:362-363;       ,    2002:299-302; tripathi, 1999:269).
Sumber-sumber materi dari Sumber:
  1. Guru Besar Program Pascasarjana (S2) Ilmu Agama Hindu dan Kebudayaan, Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, Prof. Dr. Litt, Dr. I Gusti Putu Phalgunadi MA, MBA,
  2. Buku Sejarah Evolusi Agama Hindu.
Evolusi Budaya dan Agama Hindu (Periode sekitar 1000 SM sampai sekarang).
 Evolusi ini terdiri dari beberapa zaman:
* Zaman Kejayaan Agama Hindu (sekitar 1000 SM-600 SM)
* Zaman Kemunduran Agama Hindu (sekitar 600 SM-200 SM)
* Zaman Kebangkitan Agama Hindu (sekitar 200 SM-300 M)
* Zaman Purana /Zaman Keemasan Hindu (sekitar 300 M-700 M
* Zaman Hindu baru (700 M-1200 M)
* Zaman Gerakan Bhakti Hindu (1200 M–1800 M)
* Zaman Gerakan Hindu Modern (1800 M-1947)
* Zaman Hindu sampai sekarang

ZAMAN REFORMASI HINDU (ZAMAN SANGKARACHARYA) (700 M – 1.200 M)

            Zaman purana menandai terjadinya evolusi aga Himdu di India, yaitu munculnya berbagai macam mazhab atau sekte. Meskipun demikian agama Purana (Puranic religion) mesih mewarisi konsep-konsep keagamaan dari zaman Brahmana. Keduanya sama-sama menekankan praktik agama yang penuh dengan upakara dan upacara yajna (Majumdar, 1998:455). Agama Brahmana dan agama Purana mementingkan upacara yajna sebagai jalan untuk mencapai moksa. Hal ini diuraikan secara teliti dan mendalam dalam kitab Mimamsasutra (Mahajan, 2002:11-12; Sharma, 2001:226-328). Ajaran yang mengajarkan pentingnya kedudukan yajna (Karma kandha) dalam agama Hindu ini dikembangkan dan diajarkan oleh para rshi pada zaman ini. Dengan pelopor-pelopornya antara lain, Rshi Prabhakaran, Rshi Kumarila Batta, dan masih banyak lagi. Ajaran ini rupanya mendapat sambutan yang luas di kalangan umat Hindu (Luniya, 2002:301). Agama Hindu yang berdasarkan yajna, sebagaimana muncul sejak zaman Weda, Brahmana, dan Purana ini umumnya disebut Hindu ortodoks atau agama Brahmana-Smarta (Kundra, 1968:220). Ajaran inilah yang menjadi agama rakyat India hingga akhir zaman Purana (sekitar 700 Masehi).
            Akhir zaman Purana ditandai dengan terjadinya kekacauan di antara umat Hindu, akibat pertentangan yang hebat antara satu mazhab dengan mazhab yang lainnya. Setiap mazhab membenarkan prinsip-prinsip kepercayaan dan ajaran dari mazhab mereka sendiri dan menyalahkan kebenaran dari mazhab yang lain. Hal-hal yang dipertentangkan terutama mengenai ajaran Ahimsa (Mahajan, 2002:375). Di samping itu, juga mengenai upacara yajna, kurban binatang, vegetarian dan non-vegetarian, dan hal-hal prinsip lainnya. Pertentangan itu semakn memanas dan memuncak pada akhir zaman Purana. Selain itu, pertentangan antara pemeluk agama Hindu dan agama Buddha juga terus berlangsung (Kundra, 1968:220-221). Sebagai catatan bahwa meskipun raja-raja yang beragama Buddha sudah dapat dihancurkan oleh golongan Brahmana (Pusyamitra pada tahun 184 SM), tetapi pengaruh ajaran Buddha masih cukup kuat di India.
            Pertentangan yeng terjadi pada zaman itu tidak terlepas dari semakin berkembangnya tradisi filsafat di India (darsana). Salah satu system filsafat yang penting pada zaman ini adalah Mimamsa. Inti dari filsafat Mimamsa atau Purwamimamsa adalah pengukuhan kesucian Weda bagian Brahmana yang menekankan pada upacara agama (Karma Kandha) (Rajeev, 1990:29). Ajaran filsafat ini bersumber dari kitab Mimamsa yang ditulis oleh Maharsi Jaimini. Kemudian dalam perkembangannya muncullah komentar terhadap Mimamsasutra oleh Sabaraswamin. Komentar ini diterangkan dengan cara berbeda oleh Rshi Kumarila Bhatta dan Rshi Prabhakaran sehingga akan muncul dua aliran (Sects), yaitu aliran pengikut Kumarila Bhatta dan aliran pengikut Prabhakaran. Meskipun demikian kedua aliran ini tidak memiliki perbedaan secara prinsip, kecuali pada ajaran-ajaran yang tidak begitu penting (Chaterjee dan Datta, 1954; Macmillan (ed), 2001:198).
            Ajaran Mimamsa mengatakan bahwa satu-satunya jalan untuk mencapai sorga atau moksa adalah upacara yajna (Karma Kandha) dan  persembahan kurban. Rshi Kumarila Bhatta (750 M) menyebarluaskan ajaran ini dan berusaha mempengaruhi Raja-raja Dinasti Gupta untuk  membangkitkan upacara-upacara yajna yang ada di dalam Weda. Propaganda ini berhasil dilakukan sehingga Raja-raja Dinasti Gupta sudah melaksanakan upacara Aswamedhayajna lebih dari dua kali selama masa pemerintahannya (Kundra, 1968; Majumdar, 1998; Mahajan, 2002). Dengan berkembangnya filsafat Mimamsa ini maka pelaksanaan agama Hindu di India diwarnai dengan berbagai upacara yajna dank urban suci. Malahan, upacara-upacara besar kembali dilaksanakan terutama oleh raja-raja pada zaman itu. Pada masa ini, ritualisme menjadi agama nasional (Rajeev, 1990:29).
            Hampir bersamaan dengan zaman ini, muncul aliran filsafat lain yang disebut Uttaramimamsa atau Wedanta. Berbeda dengan Mimamsa (Purwamimamsa), Sistem filsafat ini mendasarkan ajarannya pada kitab Upanisad. Filsafat Wedanta secara sistematis disusun dalam kitab Wedantasutra yang ditulis oleh Maharsi Badarayana. Dalam perkembangannya, kitab Wedantasutra ini mendapatkan komentar dari beberapa ahli yang kemudian menjadi pemimpin atau tokoh aliran Wedanta. Tokoh-tokoh itu antara lain, Sangkaracharya, Ramanuja, Madhwa, Wallabha, Nimbarka, dan banyak lagi yang lainnya. Semua tokoh ini memiliki cara pandang masing-masing sehingga aliran yang dilahirkan juga memiliki perbedaan-perbedaan yang sangat prinsipil (Chaterjee dan Datta 1954).
            Kehadiran golongan Wedantis telah menyebabkan pembaharuan besar dalam keagamaan Hindu (Reformation of Hinduism) di India pada zaman itu (Rajeev, 1990:29). Golongan ini membuat gerakan untuk mensistematisasikan ajaran agama Hindu, secara rasional dan radikal. Dengan demikian kitab suci menjadi lebih mudah dipahami dan dapat diterima oleh msyarakat umum. Salah satu pelopor gerakan ini adalah seorang Brahmana asal Keladi Kerala, India Selatan yang bernama Sangkaracharya (788 M – 820 M). Dia memiliki kecerdasan yang luar biasa dalam biadang ajaran Shiwa Paksa. Sangkaracharya juga orang yang pintar dalam berdebat tentang filsafat dan ajaran-ajaran weda. Malahan, diyakini bahwa Sangkaracharya sudah berhasil menguasai ajaran  Catur Weda dan susastra-susastra Hindu lainnya, ketika masih berusia lima tahun. Kecerdasan ini mampu mengalahkan pemimpin-pemimpin suatu aliran dalm diskusi-diskusi spiritual. Ini menyebabkan Sangkaracharya memiliki pengikut yang luar biasa di India pada zaman itu (Kundra, 1968:221).
Sangkaracharya juga berhasil memenangkan perdebatan dengan Bhiksu-bhisu Buddha. Melalui penjelasan tentang agama Hindu yang lebih sederhana, rasional, dan filosofis, Sangkaracharya berhasil melenyapkan agama Buddha di India (Thapar, 1979:185). Sangkaracharya menjadi pelopor berdirinya aliran filsafat Adwaita atau monisme-absolut. Dia juga menentang system-sistem, ajaran-ajaran, dan filsafat ritual dan upacara yajna yang dilakukan oleh umat Hindu (Rajeev, 1990:29). Kemudian menggantikannya dengan ajaran Wedanta. Sangkaracharya juga, menentang Rshi Kumarila Bhatta dan Prabhakara yang mengajarkan ritual dan korban yajna (Karma Kandha). Sangkaracharya juga berhasil menghilangkan semua upacara yajna yang memakai Pancatattwa seperti yang dilakukan mazhab Tantrayana, yajna yang dilakukan oleh golongan Brahmana-Smarta untuk pemujaan pada Dewa Shiwa, Dewi Shakti (Durga), dan lain-lain (Sharma, 2001:328; Rajeev, 1990:29). Pancatattwa adalah lima macam unsur persembahan yang terdiri atas:Mada (arak berem), Matsya (Ikan), Mamsa (daging), Mudra (Biji-bijian dan buah-buahan), dan Maithuna (Mahajan, 2002:668) (Simbol Shiwa-Shakti, di Bali digantikan dengan porosan).
            Dengan semakin berkembangnya ajaran Sangkaracharya maka pada zaman ini agama Hindu mengalami perpecahan untuk ketiga kalinya. Agama Hindu pecah menjadi dua golonga besar (Thapar, 1979:261), sebagai berikut.
  1. Golongan Wedanta (Waidika-Dharma) yang dipimpin oleh Sangkaracharya dari mazhab Shaiwa dan Ramanuja dari mazhab Waishnawa. Golongan ini mendasarkan ajarannya kepada kitab Brahmasutra, Bhagawadgita, dan Upanisad (Wedanta). Ketiga kitab ini disebut Prasthanatraya (Klostermaier, 1988:107; Macmillan(ed), 2001:196). Golongan ini disebut juga golongan rasionalis (Wedantis).
  2. Golongan Tantrayana (Tantrika-Dharma) Atau golongan ritual yang dipimpin oleh Rsi Prabhakara, Rsi Madhana Misra, Rsi Kumarila Bhatta dari Mazhab Shiwa tantra dan Waishnawa tantra. Golongan mendasarkan ajarannya pada upacara atau ritual yang filosofisnya diambil dari kitab-kitab Brahmana, Mimamsasutra, dan kitab-kitab Tantra (Agama). Ajaran ini digunakan sebagai alat untuk melawan penganut agama Buddha dan juga untuk menghadapi golongan penganut ajaran Wedanta (Waidika-Dharma) atau golongan Wedantis (Kundra, 1968:220; Klostermaier, 1998:107). Golongan ini juga sering disebut golongan Hindu Ortodoks (Brahmanisme).
Sejak zaman ini terjadilah pertentangan yang hebat antara golongan  Wedanta (Waidika-Dharma) dengan golongan Tantrayana (Tantrika-Dharma), bahkan sampai sekarang. Namun demikian gerakan yang dilakukan oleh Sangkaracharya dan pengikut Wedantis lainnya, tampak begitu gencar untuk mereformasi agama Hindu. Ini menyebabkan ajaran Wedanta tampak begitu menonjol pada zaman ini sehingga para ahli sejarah menyebut zaman ini sebagai zaman Reformasi Hindu atau zaman Sangkaracharya (Kundra, 1968; Majumdar, 1998; Mahajan, 2001).
Mula-mula, gerakan reformasi yang dilakukan Sangkaracharya adalah menentang ajaran agama Buddha. Sangkaracharya mengalahkan para pemimpin dan penganut agama Buddha melalui perdebatan filsafat. Setelah itu, dia menarik kembali para pengikut agam Buddha tersebut untuk kembali ke agama Hindu. Sejak saat itu agama Buddha perlahan-lahan lenyap dari tanah kelahirannya, India. Sisanya yang kebanyakan adalah penganut agamaBuddha Tantra (Wajrayana) lari menyelamatkan diri ke Tibet (Klostermaier, 1988:107).
Setelah Sangkaracharya mengalahkan agana Buddha maka mulailah ia melawan golongan penganut ajaran Shiwatantra yaitu para pengikut kumarila Bhatta. Sangkaracharya ingin menghilangkan semua sistim ritual dan upacara yajna yang dilakukan oleh mzhab Shiwatantra dan Waishnawatantra, kemudian menggantinya dengan ajran Wedanta, khususnya Adwaita Wedanta. Ajaran filsafat Adwaita Wedanta mengajarkan monisme-absolut. Sistem filsafat ini mengajarkan bahwa hanya ada satu Realitas Tertinggi, yaitu Nirguna-Ishwara atau Brahman. Hanya Nirguna-Ishwara (Brahman) yang nyata (sat), sedangkan yang lain hanyalah ilusi (maya) (Klostermanier, 1988:108; Luniya,2002:337).
Keberhasilan Sangkaracharya mengalahkan pemimpin-pemimpin agama Buddha dan rsi-rsi dari golongan Tantrayana menjadikannya sebagai pemimpin keagamaan yang sangat disegani di India. Selanjutnya, ia mengelompokkan semua mazhab dalam agama Hindu menjadi lima kelompok (Panca Paksa) yang disebut Pancopasana. Adapun lima macam keyakinan (Pancopasana ) itu adlah Shaiwa Paksa, Waishnawa Paksa Shakta Paksa, Ganapatya Paksa dan Saura Paksa. Sementara itu, Sangkaracharya sendiri menjadi pemimpin mazhab Shiwa Wedanta. Untuk mengajarkan dan menyebarkan ajaran ini maka ia mendirikan pusat pendidikan (Pitha/Matha) di lima penjuru India. Kelima pusat pendidikan ini adalah Saradha-Pitha di Shringeri, India Selatan; Jyoti-Matha di Badrinath India Utara; Kalika-Pitha di Dwarka, India Barat;Wimala-Pitha di Puri, India Timur; dan Rameswaram di India Selatan. Pitha/Matha ini menjadi pusat unruk mempelajari dan menyebarkan ajaran Shaiwa Wedanta dari India ke seluruh dunia sampai sekarang. Sampai sekarang, Pitha-Pitha tersebut melanjutka garis perguruan Sangkaracharya dan pemimpinnya juga dipanggil Sangkaracharya. Tujuannya untuk meneruskan dan menyebarluaskannya ajaran Shaiwa Adwaita Wedanta (Mahajan, 2001:566; Kundra, 1968:221).
Dalam kurun waktu berikutnya ajaran Adwaita-Wedanta yang diajarkan Sangkaracharya ditentang oleh pemimpin-pemimpin golongan Wedantis (Waishnawa Movement) dari mazhab Waishnawa (Thapar, 1979:217; Macmillan (ed), 2001:198). Penentangan ini dilakukan oleh Ramanuja. Ramanuja diperkirakan hidup pada tahun 1.050 Masehi sampai dengan 1.137 Masehi. Ajaran-ajaran Ramanuja sesungguhnya juga berdasarkan pada ajaran filsafat Wedanta. Akan tetapi, ia adalah golongan Wedantis dari mazhab Waishnawa dan mengajarkan filsafat Wisistadwaita. Ramanuja menentang ajaran-ajaran dari golongan Shiwa dan filsafat Awaita yang diajarkan oleh Sangkaracharya (Luniya, 2002:337). Perbedaan prinsip dari kedua system filsafat ini adalah pendangannya tentang Brahman, jiwa, dan alam semesta. Menurut Ramanuja, alam semesta bersumber dari Brahman dan benar-benar nyata (Luniya, 2002:337), bukan maya seperti pandangan Sangkaracarya. Alam semesta adalah Prakrti yang mengalami perubahan secara nyata (Parinamawada). Sebaliknya, Sangkaracharya meyakini bahwa perubahan itu hanya ilusi atau kelihatannya saja berubah (Wiwartawada), karena Brahman sebagai Realitas Tertinggi tidak pernah berubah (Charterjee dan Datta, 1954; Hiriyana, 1978).
Kemudian, filsafat Wisistadwaita juga ditentang oleh pemimpin golongan Waishnawa-wedanta lainnya yang bernama Madhwa. Madhwa menyalahkan ajaran monisme Sangkaracarya dengan filsafat Adwaita-nya dan filsafat Wisistadwaita yang didirikan oleh Ramanuja. Madhwa membangun system filsafat dualismenya sendiri yang disebut Dwaita-wedanta, berdasarkan atas kitab Bhagavatam Puranam. Menurut Madhwa, Realitas Tertinggi bukanlah Brahmanyang nirguna (tanpa sifat), tetapi tuhan yang Berpribadi dan memiliki sifat-sifat yang banyak sekali (Saguna). Jnana (pengetahuan tentang sifat-sifat Tuhan) akan menuntun orang menuju bhakti. Melalui Bhakti manusia akan mencapai tujuan akhir, yaitu melihat langsung Maha Wishnu atau Hari yang akan menuntun menuju moksa, kebahagiaan abadi (Chaterjee dan Datta, 1954; Hiriyana, 1978; Luniya, 2002:337).
Filsafat Dwaita-Wedanta ini juga ditentang oleh golongan mazhab Waishnawa-Wedanta lainnya, yaitu Nimbarka. Dia menyalahkan filsafat Dwaita dari Madhwa dan cabang filsafat Wedanta lainnya, serta membangun ajaran filsafat sendiri yang disebut Dwaitadwaita. Nimbarka mengajarkan pentingnya penyerahan diri secara tulus ikhlas (self surrender) dan pemujaan kepada Krishna dan Radha. Menurut ajaran dari mazhab Nimbarka, Krishna adalah Tuhan tertinggi (supreme lord) dari alam semesta (Luniya,2002:337). Akhirnya, Wallabha seorang dari golongan Waishnawa Wedanta tidak mau menerima ajaran filsafat dari Nimbarka dan majaran filsafat yang lain disebut Suddhadwaita (Pure non-Duality). Walabha mengajarkan penebusan dosa, tapa-brata yang sangat keras, meninggalkan keduniawian, dan penyatuan yang sempurna antara Atman dengan Paraatman (Krishna). Di samping itu juga mengajarkan bhakti secara tulus ikhlas kepada Krishna dengan menyerahkan segalanya (badan, pikiran, dan kekayaan) pada Krishna (Rajeev, 1990:31; Luniya, 2002:396).
Dengan demikian terjadilah perbedaan pendapat mengenai prinsip-prinsip filsafat dan perpecahan pun terjadi dalam golongan Waishnawa-Wedanta. Masing-masing golongan ini membangun garis perguruan yang disebut Sampradaya, dan memuja
Krishna sebagai Tuhan (Mahajan, 2003:373). Mazhab Waishnawa-Wedanta memiliki empat Sampradaya, yaitu Sampradaya Shri- Waishnawa (mengikuti ajaran filsafat dari Waishnawa Ramanuja), Sampradaya Brahma (mengikuti ajaran filsafat Waishnawa Madhwa), Sampradaya Kumara (mengikuti ajaran filsafat dari Waishnawa Nimbarka) dan Sampradaya Rudra (mengikuti filsafat dari Waishnawa Wallabha) (Klostermaier, 1988:65; Luniya, 2002:300). Walaupun aliran ini menggunakan nama-nama seperti, Brahma, Kumara, dan Rudra, tetapi namanama tersebut tidak ada hubungannya sama sekali dengan Shiwa.
Sementara itu, ajaran Tantrayana yang telah begitu kuat mempengaruhi mazhab Waishnawa, Shiwa, dan Buddha, akhirnya juga sedikit terpengaruh oleh ajaranWedanta (Thapar, 1979:261). Mazhab Shaiwa yang kena pengaruh ajaran Tantrayana (Shaiwatantra atau Shaiwagama), juga mendasarkan ajaran filsfatnya pada filsafat Adwaita (monisme-absolut). Dengan persatuan kedua ajaran ini maka muncullah beberapa variasi filsafat Shaiwa Siddhanta, antara lain: Shiwa Siddhata dari Tamil (India Selatan); Shaiwa Siddhanta dari Deccan dan Maysor (disebut Wira Shaiwa); Shaiwa Siddhanta dari Kashmir (India Uttara) (Singh, 1991:xv; Hariharan, 1987:493). Demikian juga dengan Shaiwa-Siddhanta dari Indonesia (Bali) juga menjadi varian dari perkembangan filsafat ini. Semua cabang dari ajaran Shaiwa ini mengakui kesucian kitab suci Weda dan meyakini tidak ada yang lebih tinggi dari Weda. Dari ajaran filsafat Siddhanta ini kemudian, muncullahajaran Shaiwa Bhairawa.
Berdasarkan Uraian di atas maka cirri-ciri terpenting dari zaman Reformasi Hindu atau zaman Sangkaracharya adalah sebagai berikut.
  1. Munculnya kelompok Wedanta yang mendasarkan diri pada Prasthana Traya (Brahmasutra, Bhagavadgita, dan Upanisad/ Wedanta). Ini merupakan system filsafat Wedanta baru (New System of Vedanta) karena sebelumnya Wedanta hanya mendasarkan diri pada kitab-kitab Upanisad.
  2. Munculnya perselisihan antara aliran filsafat, baik antara Mimamsa dengan Wedanta, maupun dalam aliran Wedanta itu sendiri.
  3. Munculnya Sampradaya Waishnawa.
Evolusi Budaya dan Agama Hindu (Periode sekitar 1000 SM sampai sekarang).
 Evolusi ini terdiri dari beberapa zaman:
* Zaman Kejayaan Agama Hindu (sekitar 1000 SM-600 SM)
* Zaman Kemunduran Agama Hindu (sekitar 600 SM-200 SM)
* Zaman Kebangkitan Agama Hindu (sekitar 200 SM-300 M)
* Zaman Purana /Zaman Keemasan Hindu (sekitar 300 M-700 M
* Zaman Hindu baru (700 M-1200 M)
* Zaman Gerakan Bhakti Hindu (1200 M–1800 M)
* Zaman Gerakan Hindu Modern (1800 M-1947)
* Zaman Hindu sampai sekarang

sumber: http://www.padmabhuana.com/Evolusi-Agama-Hindu-di-India-dan-Budayanya.html

Pekembangan Agama Hindu di India


PERKEMBANGAN AGAMA HINDU DI INDIA

Untuk mendapatkan gambaran tentang Agama Hindu, maka sebagai umat Hindu setidaknya harus mengetahui bagaimana Agama Hindu itu diwahyukan oleh Ida Sang Hyang Widhi kepada umat Hindu. Banyak orang mengatakan bahwa Agama Hindu adalah Agama Budaya, akan tetapi sejarah menyatakan bahwa Agama Hindu adalah Agama Wahyu.
Sebagai gambaran tentang bagaimana Wahyu itu diterima akan dijelaskan sebagai berikut:
Keterangan:

Pada mulanya melalui Dewa Brahma sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi menurunkan Sabda kepada tujuh orang Rsi, yang oleh tujuh Rsi tersebut Sabda tersebut disebut Wahyu. Selanjutnya Wahyu yang terkumpul tersebut, atas inisiatif Rsi Wyasa dibantu oleh empat orang muridnya dibukukan menjadi Weda / Catur Weda. Catur Weda diterjemahkan oleh para Rsi menjadi Lontar, atau gubahan lain yang tujuannya agar lebih mudah sampai pada umat yang latar belakang kemampuannya berbeda.

Bertolak dan kenyataan ini maka tidak ada alasan bagi umat Hindu untuk tidak mengenal Weda, yang meskipun dalam bentuk gubahan atau terjemahan.

Weda diturunkan di India tepatnya di lembah sungai suci Sindhu, kemudian sampai pada kita di Indonesia melalui beberapa proses atau fase-fase.

1.    Perkembangan Agama Hindu di India pada zaman Veda
Zaman ini dimulai dan datangnya Bangsa Arya, + 2500 SM ke India, dengan menempati lembah Sungai Sindhu yang dikenal dengan nama Punjab (daerah lima aliran sungai).

Bangsa Arya tergolong ras Indo Eropa yang terkenal sebagai Bangsa yang gemar mengembara tetapi cerdas, tangguh dan trampil. Selanjutnya pada zaman ini merupakan zaman mulainya penulisan Wahyu suci yang pertama yaitu Reg Veda. Kehidupan beragama pada zaman ini didasarkan atas ajaran-ajaran yang tercantum pada Veda Samhita, yang lebih banyak menekankan pada pembacaan perafalan ayat-ayat Veda secara oral, yaitu dengan menyanyikan dan mendengarkan secara berkelompok.

Veda adalah kitab suci Agama Hindu yang dturunkan oleh ida Sang Hyang Widhi Wasa kepada umat Hindu melalui para Rsi (Sapta Rsi) yaitu Rsi Grtsamada, Rsi Viswamitra, Rsi Atri, Rsi Bharadvaja, Rsi Vasistha, Rsi Kanva dan Rsi Vamadeva. Selanjutnya setelah wahyu tersebut diterima, maka atas jasa Maharsi Vyasa dan empat orang muridnya membukukan wahyu tersebut menjadi empat bagian yang sampai sekarang dikenal dengan nama Catur Veda, terdiri dari:
a)    Maharsi Pulaha membukukan Reg Veda
b)    Maharsi Jaimini membukukan Sama Veda -
c)    Maharsi Vaisampayana membukukan Yajur Veda
d)    Maharsi Sumantu membukukan Atharva Veda

a)    Reg Veda, merupakan kitab tertua dan terpenting. Isinya dibagi atas 10 Mandala, menunjukkan kebenaran yang mutlak. Mantranya terdiri dari 10.552 yang diucapkan untuk mengundang, mendekatkan Tuhan dan manifestasinya yang dipuja agar hadir pada saat upacara Pengucapan mantra adalah pemimpin upacara yang disebut Hotr.

b)    Sama Veda, isinya diambil dan Reg Veda, kecuali beberapa nyanyian suci yang dinyanyikan pada saat upacara dilakukan. Jumlah mantranya terdiri atas 1.875. Yang menyanyikan lagu pujaan ini disebu Udgatr.

c)    Yajur Veda, terdiri dan 1.975 mantra, berbentuk prosa yang isinya berupa rafal dan doa pengucapannya adalah pemimpin upacara bernama Adhvaryu pada saat pelaksanaan upacara korban. Fungsi rafal adalah bukan memuja para Dewa melainkan mengubah upacara korban yang dipersembahkan menjadi makanan yang dapat diterima oleh para Dewa dengan pengucapan berulang-ulang disertai dengan menyebutkan nama manifestasi Dewa yang hendak dihadirkan.

d)    Atharva Veda, terdiri dan 5.987 mantra berbentuk prosa yang isinya berupa mantra-mantra yang kebanyakan bersifat magis, yang memberikan tuntunan hidup sehari-hari berhubungan dengan keduniawian seperti tampak dalam sihir, tenung, pedukunan. Isi sihir-sihir dimaksud bertujuan untuk menyembuhkan orang-orang sakit, mengusir roh-roh jahat, mencelakakan musuh dan lain sebagainya.

Disamping itu pada zaman ini orang-orang Hindu sangat meyakini adanya Dewa-Dewa sebagai manifestasi dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa antara lain:

a)    Dewa Agni
Pemujaan yang dilakukan terhadap Dewa Agni banyak dijumpai dalam Veda terutama dalam Reg Veda, dimana penampilan dengan mempersonifikasi yang selalu dihubungkan dengan upacara api. Wujud Dewa Agni digambarkan seperti menyambut nyala api, berjenggot, berdagu tajam, bergigi emas, dan kepalanya selalu memancarkan sinar. Sinar Dewa Agni seperti Sinar matahari pagi, beliau disebut sebagai putra Dewa Dyanus, yaitu Dewa Langit, oleh sebab itu Dewa Agni sering disebut putra Dewa Langit dan Dewa Bumi.

b)    Dewa Indra
Mengenai keberadaan Dewa Indra banyak dijumpai pada kitab suci Veda, ada 250 mantra yang mengagungkan Dewa Indra. Kata Indra berasal dan kata md dan Dri yang artinya memberi makan. Indra pada mulanya adalah Dewa Hujan yang mengalahkan raksasa Vrtra, senjatanya adalah Bajra (petir). Indra lebih dikenal dengan Dewa Perang yang mengalahkan tiga benteng musuh, karena itu disebut Tn Puramdhara (Tn Puramtaka). Dan kenyataan inilah bagi orang Arya yang datang ke India keberadaan Dewa Indra sangat dihormati, karena bagi mereka dianggap memberkatinya waktu menjajab penduduk ash India yaitu Bangsa Dravida.

c)    Dewa Rudra
Pada zaman ini Dewa Rudra diidentikkan dengan Dewa Siva (Siva Rudra). Ia digambarkan sebagai laki-laki bertubuh besar, perutnya berwarna biru dan punggungnya berwarna merah. Kepalanya berwarna biru kulitnya berwarna coklat kemerahan. Rambutnya panjang terurai, seluruh tubuhnya memancarkan cahaya keemasan, tangannya memegang busur dan panah yang bercahaya. Karakternya nampak angker dan menakutkan namun hatinya lembut dan maha pengasih.

d)    Dewa Waruna
Dewa Waruna disebut juga Baruna, selalu dihubungkan dengan laut. Kata Waruna berasal dan akar kata Var (menutup dan membentang) yang berarti melindungi dan segala penjuru. Dan kata inilah lalu dihubungkan dengan laut. Dewa Waruna mengamati semua mahluk dari tempatnya yang tinggi, dimana matahari diyakini sebagai istananya. Ta digambarkan sebagai laki-laki tampan berkulit putih mengendarai monster laut yang bemama Makara (Gajahmina) berupa binatang laut yang pada bagian depannya berwujud seekor kijang, sedangkan bagian belakangnya berwujud seekor ikan. Istri Dewa Waruna adalah Waruni yang tinggal diistana Mutiara. Dewa Waruna adalah Dewa yang menguasai hukum alam yang disebut Rta.

Bertolak dari kenyataan inilah bahwa kehidupan orang-orang pada zaman Veda sangat menghormati Veda sebagai Wahyu Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang sampai kepada umat melalui jasa orang-orang suci atau para Rsi. Para Rsi mengajarkan Veda tidaklah kaku tetapi sangat luwes pleksibel artinya cara dan bahasa apapun yang digunakan agar bisa diterima oleh umat secara luas. Disamping itujuga diajarkan bagaimana umat menghomati Dewa-Dewa sebagai manifetasi dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

2.    Perkembangan Agama Hindu di India pada zaman Brahmana

Jaman ini merupakan awal munculnya kitab Brahmana yang merupakan bagian dan Veda Sruti yang disebut Karma Kanda. Kitab ini memuat himpunan doa-doa serta penjelasan upacara korban dan kewajiban keagamaan. Oleh karena itu keberadaan umat Hindu pada jaman Brahmana ini didomininasi oleh pelaksanaan upacara keagamaan dalam bentuk upacara korban.
Unsur-unsur upacara yang ada dalam kitab Veda dikembangkan secara luas dalam kitab Brahmana. Kalau dibandingkan dengan zaman Veda umat memohon berkah pada para Dewata melalui upacara korban, tetapi pada zaman Brahmana kedudukan para Dewa dengan kaum Brahmana adalah sejajar, Karena keduanya diangap sebagai penentu keberhasilan upacana korban.

Perkembangan Agama Hindu pada Jaman Brahmana mi merupakan peralihan dan zaman Veda ke zaman Brahmana. Kehidupan orang-orang pada zaman mi betul betul berpusat pada keaktifan rohani terutama dalam bentuk upacara korban.

Secara lengkap ciri-ciri zaman Brahmana sebagai berikut :
a)    Upacara korban/Yadnya mendominir kegiatan umat Hindu.
b)    Para Brahmana menjadi golongan yang paling berkuasa.
c)    Munculnya perkembangan kelompok-kelompok masyarakat yang sangat tajam dengan berjenis-jenis pasraman.
d)    Dewa-Dewa menjadi berkembang fungsinya.
e)    Munculnya bermacam-macam kitab Sutra atau kitab penuntun pelaksanaan upacara korban.

3.    Perkembangan Agama Hindu di India pada zaman Upanisad

Zaman Upanisad ini merupakan reaksi terhadap yang terjadi pada zaman Brahmana. Dimana sejalan dengan berjalannya waktu, Agama Hindu terus berkembang yang meskipun pada akhirnya umat terpecah mengikuti aliran yang berbeda, yang secara keseluruhan disebut aliran Nawa Darsana, yaitu enam aliran tergabung dalam kelompok Astika (kelompok yang masih menerima Veda sebagai kitab suci Agama Hindu) dan tiga aliran tergabung dalam kelompok Nastika (kelompok yang menolak Veda sebagai kitab suci Agama Hindu). Aliran Nastika inilah secara otomatis keluar dan Agama Hindu sedangkan Aliran Astika tetap mengikuti Agama Hindu dan kembali pada Veda sebagai sumber segalanya bagi umat Hindu secara keseluruhan.
a)    Kelompok yang tergolong Astika yang disebut Sad Darsana 
1. Nyaya
2. Vaisesika 
3. Mimamsa V 
4. Samkhya 
5. Yoga 
6. Vedanta

b)    Kelompok yang tergolong Nastika meliputi:
  1. Buddha
  2. Carvaka
  3. Jaina

Selanjutnya yang tergabung dalam kelompok Astika ini terus mengadakan pendalaman ajaran Agama Hindu terutama filosofisnya. Artinya menolak kondisi yang terjadi seperti pada zaman Brahmana. Malah yang ditekankan pada zaman ini adalah menyeimbangkan antara filsafat, etika dan ritual. Dalam zaman Upanisad ini umat Hindu yang dimotori oleh Kaum Ksatria terus mengadakan diskusi-diskusi yang menimbulkan berkembangnya filsafat Hindu yang lebih menekankan pada aspek Jnana.
Dalam diskusi itu para siswa duduk di bawah dekat kaki guru kerohanian atau para Rsi dan mengajukan pertanyaan kepada guru kerohanian itu. Para guru atau para Rsi akan memberikan jawaban dengan tetap berpedoman pada Kitab Suci Veda, maka dengan demikian kebenaran yang didapat oleh para siswa kerohanian itu tidak perlu diragukan. Cara diskusi ini disebut dengan nama Upanisad.

Sebagai hasil dan kegiatan Upanisad ini dibukukan dalam kitab Upanisad. Kitab Upanisad merupakan bagian dan Jnana Kanda dan kitab Veda Sruti yang isinya bersifat ilmiah, spekulatif, tetapi tetap dalam ruang lingkup keagamaan. Pada umumnya kitab-kitab Upanisad berisi tentang hakekat Brahman, Atman, Hubungan antara Brahman dan Atman, Hakekat Maya, Hakekat Vidya dan Avidya, serta mengenai moksa atau kelepasan. Pandangan yang menonjol dalam ajaran Upanisad adalah suatu ajaran yang bersifat Monistis dan Absolutistis, dalam artian ajaran yang mengajarkan bahwa segala sesuatu yang bermacam-macam ini dialirkan dan satu azas, satu realitas tertinggi yang tidak dapat dilihat, tidak dapat dibagi-bagi, tidak dapat ditangkap oleh akal manusia, tetapi melingkupi segala yang ada di alam semesta ini, itulah yang disebut dengan Brahman (Ida Sang Hyang Widhi Wasa).

Brahman memiliki sifat Sat Cit Ananda yang artinya keberadaan, kesadaran, dan kebahagiaan. Dan ungkapan ini menunjukkan bahwa Brahman adalah satu-satunya realitas yang bersifat mutlak, yang meliputi segala yang ada, yang sadar, dan yang bersifat rohani sehingga dengan demikian Brahman dipandang sebagai sumber alam semesta, sumber semua mahluk, dan penguasa segala yang ada.

Mengenai keberadaan Atman pada Zaman Upanisad disebutkan bahwa Atman meliputi segala sesuatu dan ia berada dalam lubuk hati manusia. Atman yang ada dalam tubuh manusia itu dilapisi oleh lima lapisan yang disebut dengan Panca Maya Kosa, yaitu Anamaya Kosa (lapisan Prana/energi), Manomaya Kosa (lapisan alam rasa dan pikiran), Wijnanamaya Kosa (lapisan kesadaran) dan Anandamaya Kosa (lapisan kesadaran yang membahagiakan). Semua lapisan itu dapat berubah-ubah, sedangkan Atman adalah subjek yang tetap ada diantara semua yang berubah-ubah itu, artinya Atman terbebas dan semua keadaan, karena Atman sesungguhnya adalah Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Mengenai ajaran Karma pada zaman Upanisad dinyatakan sebagai suatu perbuatan yang selalu diikuti oleh pahala atau akibatnya. Sehingga siapa saja yang berbuat baik atau buruk pasti akan menerima hasil baik atau buruk. Jadi semua tergantung pada prilaku umat itu sendini.

Ajaran tentang Punarbhawa (kelahiran kembali) pada zaman Brahmana dianggap sebagai karunia Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Pada zaman Upanisad timbul sebuah pertanyaan kenapa kehidupan seseorang berbeda satu sama lain, baik dan unsur fisiknya atau keadaan sosial ekonominya ? Jawaban ini semua adalah tergantung pada karma setiap orang dan rantai kehidupan yang amat panjang.

Bila seseorang meninggal dunia badan halusnya terpisah dengan badan kasarnya, semua karma wasana dan perbuatannya melekat pada badan halusnya. Badan halus hidup bersama Atman yang kemudian menjelma mengambil badan yang baru. Proses Punarbhawa ini amat sulit diketahui oleh orang biasa, kecuali oleh para Maharsi, karena semua itu kehendak dari sang pencipta yaitu Brahman itu sendiri.

Tujuan hidup tertinggi bagi manusia adalah untuk mencapai Moksa atau kelepasan, yaitu bersatunya Atman dengan Brahman. Pada jaman Upanisad jalan untuk mencapai Moksa adalah melalui perbuatan baik, Bhakti, Tapa, Brata dan Yoga.

Demikianlah uraian mengenai Zaman Veda, Zaman Brahmana dan Zaman Upanisad. Pada hakekatnya satu dengan yang lainnya saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan karena semua menjadi pondasi dan sejarah Agama Hindu.