This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tuesday, December 11, 2012

Pekembangan Agama Hindu di India


PERKEMBANGAN AGAMA HINDU DI INDIA

Untuk mendapatkan gambaran tentang Agama Hindu, maka sebagai umat Hindu setidaknya harus mengetahui bagaimana Agama Hindu itu diwahyukan oleh Ida Sang Hyang Widhi kepada umat Hindu. Banyak orang mengatakan bahwa Agama Hindu adalah Agama Budaya, akan tetapi sejarah menyatakan bahwa Agama Hindu adalah Agama Wahyu.
Sebagai gambaran tentang bagaimana Wahyu itu diterima akan dijelaskan sebagai berikut:
Keterangan:

Pada mulanya melalui Dewa Brahma sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi menurunkan Sabda kepada tujuh orang Rsi, yang oleh tujuh Rsi tersebut Sabda tersebut disebut Wahyu. Selanjutnya Wahyu yang terkumpul tersebut, atas inisiatif Rsi Wyasa dibantu oleh empat orang muridnya dibukukan menjadi Weda / Catur Weda. Catur Weda diterjemahkan oleh para Rsi menjadi Lontar, atau gubahan lain yang tujuannya agar lebih mudah sampai pada umat yang latar belakang kemampuannya berbeda.

Bertolak dan kenyataan ini maka tidak ada alasan bagi umat Hindu untuk tidak mengenal Weda, yang meskipun dalam bentuk gubahan atau terjemahan.

Weda diturunkan di India tepatnya di lembah sungai suci Sindhu, kemudian sampai pada kita di Indonesia melalui beberapa proses atau fase-fase.

1.    Perkembangan Agama Hindu di India pada zaman Veda
Zaman ini dimulai dan datangnya Bangsa Arya, + 2500 SM ke India, dengan menempati lembah Sungai Sindhu yang dikenal dengan nama Punjab (daerah lima aliran sungai).

Bangsa Arya tergolong ras Indo Eropa yang terkenal sebagai Bangsa yang gemar mengembara tetapi cerdas, tangguh dan trampil. Selanjutnya pada zaman ini merupakan zaman mulainya penulisan Wahyu suci yang pertama yaitu Reg Veda. Kehidupan beragama pada zaman ini didasarkan atas ajaran-ajaran yang tercantum pada Veda Samhita, yang lebih banyak menekankan pada pembacaan perafalan ayat-ayat Veda secara oral, yaitu dengan menyanyikan dan mendengarkan secara berkelompok.

Veda adalah kitab suci Agama Hindu yang dturunkan oleh ida Sang Hyang Widhi Wasa kepada umat Hindu melalui para Rsi (Sapta Rsi) yaitu Rsi Grtsamada, Rsi Viswamitra, Rsi Atri, Rsi Bharadvaja, Rsi Vasistha, Rsi Kanva dan Rsi Vamadeva. Selanjutnya setelah wahyu tersebut diterima, maka atas jasa Maharsi Vyasa dan empat orang muridnya membukukan wahyu tersebut menjadi empat bagian yang sampai sekarang dikenal dengan nama Catur Veda, terdiri dari:
a)    Maharsi Pulaha membukukan Reg Veda
b)    Maharsi Jaimini membukukan Sama Veda -
c)    Maharsi Vaisampayana membukukan Yajur Veda
d)    Maharsi Sumantu membukukan Atharva Veda

a)    Reg Veda, merupakan kitab tertua dan terpenting. Isinya dibagi atas 10 Mandala, menunjukkan kebenaran yang mutlak. Mantranya terdiri dari 10.552 yang diucapkan untuk mengundang, mendekatkan Tuhan dan manifestasinya yang dipuja agar hadir pada saat upacara Pengucapan mantra adalah pemimpin upacara yang disebut Hotr.

b)    Sama Veda, isinya diambil dan Reg Veda, kecuali beberapa nyanyian suci yang dinyanyikan pada saat upacara dilakukan. Jumlah mantranya terdiri atas 1.875. Yang menyanyikan lagu pujaan ini disebu Udgatr.

c)    Yajur Veda, terdiri dan 1.975 mantra, berbentuk prosa yang isinya berupa rafal dan doa pengucapannya adalah pemimpin upacara bernama Adhvaryu pada saat pelaksanaan upacara korban. Fungsi rafal adalah bukan memuja para Dewa melainkan mengubah upacara korban yang dipersembahkan menjadi makanan yang dapat diterima oleh para Dewa dengan pengucapan berulang-ulang disertai dengan menyebutkan nama manifestasi Dewa yang hendak dihadirkan.

d)    Atharva Veda, terdiri dan 5.987 mantra berbentuk prosa yang isinya berupa mantra-mantra yang kebanyakan bersifat magis, yang memberikan tuntunan hidup sehari-hari berhubungan dengan keduniawian seperti tampak dalam sihir, tenung, pedukunan. Isi sihir-sihir dimaksud bertujuan untuk menyembuhkan orang-orang sakit, mengusir roh-roh jahat, mencelakakan musuh dan lain sebagainya.

Disamping itu pada zaman ini orang-orang Hindu sangat meyakini adanya Dewa-Dewa sebagai manifestasi dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa antara lain:

a)    Dewa Agni
Pemujaan yang dilakukan terhadap Dewa Agni banyak dijumpai dalam Veda terutama dalam Reg Veda, dimana penampilan dengan mempersonifikasi yang selalu dihubungkan dengan upacara api. Wujud Dewa Agni digambarkan seperti menyambut nyala api, berjenggot, berdagu tajam, bergigi emas, dan kepalanya selalu memancarkan sinar. Sinar Dewa Agni seperti Sinar matahari pagi, beliau disebut sebagai putra Dewa Dyanus, yaitu Dewa Langit, oleh sebab itu Dewa Agni sering disebut putra Dewa Langit dan Dewa Bumi.

b)    Dewa Indra
Mengenai keberadaan Dewa Indra banyak dijumpai pada kitab suci Veda, ada 250 mantra yang mengagungkan Dewa Indra. Kata Indra berasal dan kata md dan Dri yang artinya memberi makan. Indra pada mulanya adalah Dewa Hujan yang mengalahkan raksasa Vrtra, senjatanya adalah Bajra (petir). Indra lebih dikenal dengan Dewa Perang yang mengalahkan tiga benteng musuh, karena itu disebut Tn Puramdhara (Tn Puramtaka). Dan kenyataan inilah bagi orang Arya yang datang ke India keberadaan Dewa Indra sangat dihormati, karena bagi mereka dianggap memberkatinya waktu menjajab penduduk ash India yaitu Bangsa Dravida.

c)    Dewa Rudra
Pada zaman ini Dewa Rudra diidentikkan dengan Dewa Siva (Siva Rudra). Ia digambarkan sebagai laki-laki bertubuh besar, perutnya berwarna biru dan punggungnya berwarna merah. Kepalanya berwarna biru kulitnya berwarna coklat kemerahan. Rambutnya panjang terurai, seluruh tubuhnya memancarkan cahaya keemasan, tangannya memegang busur dan panah yang bercahaya. Karakternya nampak angker dan menakutkan namun hatinya lembut dan maha pengasih.

d)    Dewa Waruna
Dewa Waruna disebut juga Baruna, selalu dihubungkan dengan laut. Kata Waruna berasal dan akar kata Var (menutup dan membentang) yang berarti melindungi dan segala penjuru. Dan kata inilah lalu dihubungkan dengan laut. Dewa Waruna mengamati semua mahluk dari tempatnya yang tinggi, dimana matahari diyakini sebagai istananya. Ta digambarkan sebagai laki-laki tampan berkulit putih mengendarai monster laut yang bemama Makara (Gajahmina) berupa binatang laut yang pada bagian depannya berwujud seekor kijang, sedangkan bagian belakangnya berwujud seekor ikan. Istri Dewa Waruna adalah Waruni yang tinggal diistana Mutiara. Dewa Waruna adalah Dewa yang menguasai hukum alam yang disebut Rta.

Bertolak dari kenyataan inilah bahwa kehidupan orang-orang pada zaman Veda sangat menghormati Veda sebagai Wahyu Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang sampai kepada umat melalui jasa orang-orang suci atau para Rsi. Para Rsi mengajarkan Veda tidaklah kaku tetapi sangat luwes pleksibel artinya cara dan bahasa apapun yang digunakan agar bisa diterima oleh umat secara luas. Disamping itujuga diajarkan bagaimana umat menghomati Dewa-Dewa sebagai manifetasi dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

2.    Perkembangan Agama Hindu di India pada zaman Brahmana

Jaman ini merupakan awal munculnya kitab Brahmana yang merupakan bagian dan Veda Sruti yang disebut Karma Kanda. Kitab ini memuat himpunan doa-doa serta penjelasan upacara korban dan kewajiban keagamaan. Oleh karena itu keberadaan umat Hindu pada jaman Brahmana ini didomininasi oleh pelaksanaan upacara keagamaan dalam bentuk upacara korban.
Unsur-unsur upacara yang ada dalam kitab Veda dikembangkan secara luas dalam kitab Brahmana. Kalau dibandingkan dengan zaman Veda umat memohon berkah pada para Dewata melalui upacara korban, tetapi pada zaman Brahmana kedudukan para Dewa dengan kaum Brahmana adalah sejajar, Karena keduanya diangap sebagai penentu keberhasilan upacana korban.

Perkembangan Agama Hindu pada Jaman Brahmana mi merupakan peralihan dan zaman Veda ke zaman Brahmana. Kehidupan orang-orang pada zaman mi betul betul berpusat pada keaktifan rohani terutama dalam bentuk upacara korban.

Secara lengkap ciri-ciri zaman Brahmana sebagai berikut :
a)    Upacara korban/Yadnya mendominir kegiatan umat Hindu.
b)    Para Brahmana menjadi golongan yang paling berkuasa.
c)    Munculnya perkembangan kelompok-kelompok masyarakat yang sangat tajam dengan berjenis-jenis pasraman.
d)    Dewa-Dewa menjadi berkembang fungsinya.
e)    Munculnya bermacam-macam kitab Sutra atau kitab penuntun pelaksanaan upacara korban.

3.    Perkembangan Agama Hindu di India pada zaman Upanisad

Zaman Upanisad ini merupakan reaksi terhadap yang terjadi pada zaman Brahmana. Dimana sejalan dengan berjalannya waktu, Agama Hindu terus berkembang yang meskipun pada akhirnya umat terpecah mengikuti aliran yang berbeda, yang secara keseluruhan disebut aliran Nawa Darsana, yaitu enam aliran tergabung dalam kelompok Astika (kelompok yang masih menerima Veda sebagai kitab suci Agama Hindu) dan tiga aliran tergabung dalam kelompok Nastika (kelompok yang menolak Veda sebagai kitab suci Agama Hindu). Aliran Nastika inilah secara otomatis keluar dan Agama Hindu sedangkan Aliran Astika tetap mengikuti Agama Hindu dan kembali pada Veda sebagai sumber segalanya bagi umat Hindu secara keseluruhan.
a)    Kelompok yang tergolong Astika yang disebut Sad Darsana 
1. Nyaya
2. Vaisesika 
3. Mimamsa V 
4. Samkhya 
5. Yoga 
6. Vedanta

b)    Kelompok yang tergolong Nastika meliputi:
  1. Buddha
  2. Carvaka
  3. Jaina

Selanjutnya yang tergabung dalam kelompok Astika ini terus mengadakan pendalaman ajaran Agama Hindu terutama filosofisnya. Artinya menolak kondisi yang terjadi seperti pada zaman Brahmana. Malah yang ditekankan pada zaman ini adalah menyeimbangkan antara filsafat, etika dan ritual. Dalam zaman Upanisad ini umat Hindu yang dimotori oleh Kaum Ksatria terus mengadakan diskusi-diskusi yang menimbulkan berkembangnya filsafat Hindu yang lebih menekankan pada aspek Jnana.
Dalam diskusi itu para siswa duduk di bawah dekat kaki guru kerohanian atau para Rsi dan mengajukan pertanyaan kepada guru kerohanian itu. Para guru atau para Rsi akan memberikan jawaban dengan tetap berpedoman pada Kitab Suci Veda, maka dengan demikian kebenaran yang didapat oleh para siswa kerohanian itu tidak perlu diragukan. Cara diskusi ini disebut dengan nama Upanisad.

Sebagai hasil dan kegiatan Upanisad ini dibukukan dalam kitab Upanisad. Kitab Upanisad merupakan bagian dan Jnana Kanda dan kitab Veda Sruti yang isinya bersifat ilmiah, spekulatif, tetapi tetap dalam ruang lingkup keagamaan. Pada umumnya kitab-kitab Upanisad berisi tentang hakekat Brahman, Atman, Hubungan antara Brahman dan Atman, Hakekat Maya, Hakekat Vidya dan Avidya, serta mengenai moksa atau kelepasan. Pandangan yang menonjol dalam ajaran Upanisad adalah suatu ajaran yang bersifat Monistis dan Absolutistis, dalam artian ajaran yang mengajarkan bahwa segala sesuatu yang bermacam-macam ini dialirkan dan satu azas, satu realitas tertinggi yang tidak dapat dilihat, tidak dapat dibagi-bagi, tidak dapat ditangkap oleh akal manusia, tetapi melingkupi segala yang ada di alam semesta ini, itulah yang disebut dengan Brahman (Ida Sang Hyang Widhi Wasa).

Brahman memiliki sifat Sat Cit Ananda yang artinya keberadaan, kesadaran, dan kebahagiaan. Dan ungkapan ini menunjukkan bahwa Brahman adalah satu-satunya realitas yang bersifat mutlak, yang meliputi segala yang ada, yang sadar, dan yang bersifat rohani sehingga dengan demikian Brahman dipandang sebagai sumber alam semesta, sumber semua mahluk, dan penguasa segala yang ada.

Mengenai keberadaan Atman pada Zaman Upanisad disebutkan bahwa Atman meliputi segala sesuatu dan ia berada dalam lubuk hati manusia. Atman yang ada dalam tubuh manusia itu dilapisi oleh lima lapisan yang disebut dengan Panca Maya Kosa, yaitu Anamaya Kosa (lapisan Prana/energi), Manomaya Kosa (lapisan alam rasa dan pikiran), Wijnanamaya Kosa (lapisan kesadaran) dan Anandamaya Kosa (lapisan kesadaran yang membahagiakan). Semua lapisan itu dapat berubah-ubah, sedangkan Atman adalah subjek yang tetap ada diantara semua yang berubah-ubah itu, artinya Atman terbebas dan semua keadaan, karena Atman sesungguhnya adalah Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Mengenai ajaran Karma pada zaman Upanisad dinyatakan sebagai suatu perbuatan yang selalu diikuti oleh pahala atau akibatnya. Sehingga siapa saja yang berbuat baik atau buruk pasti akan menerima hasil baik atau buruk. Jadi semua tergantung pada prilaku umat itu sendini.

Ajaran tentang Punarbhawa (kelahiran kembali) pada zaman Brahmana dianggap sebagai karunia Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Pada zaman Upanisad timbul sebuah pertanyaan kenapa kehidupan seseorang berbeda satu sama lain, baik dan unsur fisiknya atau keadaan sosial ekonominya ? Jawaban ini semua adalah tergantung pada karma setiap orang dan rantai kehidupan yang amat panjang.

Bila seseorang meninggal dunia badan halusnya terpisah dengan badan kasarnya, semua karma wasana dan perbuatannya melekat pada badan halusnya. Badan halus hidup bersama Atman yang kemudian menjelma mengambil badan yang baru. Proses Punarbhawa ini amat sulit diketahui oleh orang biasa, kecuali oleh para Maharsi, karena semua itu kehendak dari sang pencipta yaitu Brahman itu sendiri.

Tujuan hidup tertinggi bagi manusia adalah untuk mencapai Moksa atau kelepasan, yaitu bersatunya Atman dengan Brahman. Pada jaman Upanisad jalan untuk mencapai Moksa adalah melalui perbuatan baik, Bhakti, Tapa, Brata dan Yoga.

Demikianlah uraian mengenai Zaman Veda, Zaman Brahmana dan Zaman Upanisad. Pada hakekatnya satu dengan yang lainnya saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan karena semua menjadi pondasi dan sejarah Agama Hindu.

Agama Hindu di India


AGAMA HINDU DI INDIA
Perkembangan agama Hindu di India, pada hakekatnya dapat dibagi menjadi 4 fase, yakni Jaman Weda, Jaman Brahmana, Jaman Upanisad dan Jaman Budha. Dari peninggalan benda-benda purbakala di Mohenjodaro dan Harappa, menunjukkan bahwa orang-orang yang tinggal di India pada jamam dahulu telah mempunyai peradaban yang tinggi. Salah satu peninggalan yang menarik, ialah sebuah patung yang menunjukkan perwujudan Siwa. Peninggalan tersebut erat hubungannya dengan ajaran Weda, karena pada jaman ini telah dikenal adanya penyembahan terhadap  Dewa-dewa.
Jaman Weda dimulai pada waktu bangsa Arya berada di Punjab di Lembah Sungai Sindhu, sekitar 2500 s.d 1500 tahun sebelum Masehi, setelah mendesak bangsa Dravida kesebelah Selatan sampai ke dataran tinggi Dekkan. bangsa Arya telah memiliki peradaban tinggi, mereka menyembah Dewa-dewa seperti Agni, Varuna, Vayu, Indra, Siwa dan sebagainya. Walaupun Dewa-dewa itu banyak, namun semuanya adalah manifestasi dan perwujudan Tuhan Yang Maha Tunggal. Tuhan yang Tunggal dan Maha Kuasa dipandang sebagai pengatur tertib alam semesta, yang disebut "Rta". Pada jaman ini, masyarakat dibagi atas kaum Brahmana, Ksatriya, Vaisya dan Sudra.
Pada Jaman Brahmana, kekuasaan kaum Brahmana amat besar pada kehidupan keagamaan, kaum brahmanalah yang mengantarkan persembahan orang kepada para Dewa pada waktu itu. Jaman Brahmana ini ditandai pula mulai tersusunnya "Tata Cara Upacara" beragama yang teratur. Kitab Brahmana, adalah kitab yang menguraikan tentang saji dan upacaranya. Penyusunan tentang Tata Cara Upacara agama berdasarkan wahyu-wahyu Tuhan yang termuat di dalam ayat-ayat Kitab Suci Weda.
Sedangkan pada Jaman Upanisad, yang dipentingkan tidak hanya terbatas pada Upacara dan Saji saja, akan tetapi lebih meningkat pada pengetahuan bathin yang lebih tinggi, yang dapat membuka tabir rahasia alam gaib. Jaman Upanisad ini adalah jaman pengembangan dan penyusunan falsafah agama, yaitu jaman orang berfilsafat atas dasar Weda. Pada jaman ini muncullah ajaran filsafat yang tinggi-tinggi, yang kemudian dikembangkan pula pada ajaran Darsana, Itihasa dan Purana. Sejak jaman Purana, pemujaan Tuhan sebagai Tri Murti menjadi umum.
Selanjutnya, pada Jaman Budha ini, dimulai ketika putra Raja Sudhodana yang bernama "Sidharta", menafsirkan Weda dari sudut logika dan mengembangkan sistem yoga dan semadhi, sebagai jalan untuk menghubungkan diri dengan Tuhan.
Agama Hindu, dari India Selatan menyebar sampai keluar India melalui beberapa cara. Dari sekian arah penyebaran ajaran agama Hindu sampai juga di Nusantara

Monday, December 10, 2012

Peta India Kuno

kerajaan pada zaman India kuno yang disebutkan dalam susastra Hindu, seperti misalnya Weda,Mahabharata, Ramayana, dan Purana. Kapan kerajaan-kerajaan tersebut berdiri, tidak diketahui dengan pasti dan masih diperdebatkan, sehingga tidak dicantumkan disini. Artikel ini menekankan pada klasifikasinya. Kerajaan-kerajaan tersebut tersebar di seluruh daratan India dan berdiri sendiri.









Dalam sastra dan wiracarita India Kuno, Kerajaan Kuru merupakan kerajaan yang diperintah oleh Wangsa Kuru, keturunan Sang Kuru. Tidak diketahui dengan pasti kapan kerajaan ini berdiri, dan hingga sekarang dikenal sebagai legenda dalamwiracarita India, seperti misalnya Mahabharata. Kerajaan Kuru yang lain berada di utara Himalaya, dan disebut Uttara Kuru. Menurut sastra Hindu, Kerajaan Kuru terbentang di antara sungai Saraswati dan sungai Gangga. Salah satu kitab yang dijadikan sumber keberadaan kerajaan Kuru adalah Mahabharata, dan tokoh utama yang diceritakan dalam kitab tersebut merupakan keturunan Kuru. Menurut Mahabharata, pada masa pemerintahan Raja Dretarastra, Kerajaan tersebut terbagi menjadi dua bagian, yaitu Kurujangala dan Kuru asli.






Sejarah Agama Hindu Zaman Sungai Indus

Sejarah agama hindu dari zaman sungai Indus Sejarah kebudayaan India itu dimulai pada perkembangan kebudayaan-kebudayaan yang besar di Mesopotamia dan Mesir. Dimanan pada zaman kuno itu penduduknya disebut dengan Jambodwipa yang artinya benua pohon jambu atau Bharatwarsa yang artinya tanah keturunan Bharat. Antara tahun 3000 dan 2000 S.M, rupa-rupanya di Lembah Sungai Sindhu (Indus) telah ada bangsa-bangsa yang peradabanya menyerupai bangsa Sumeria di daerah Efrat dan Tiggris. peradaban itu dapat di ketahui dengan adanya sisa-sisa dari berbagai penemuan seperti cap dari dinding dan tembikar yang ada tanda-tanda tulisan dan lukisan-lukisan binatang yang menceritakan kepada kita adanya persesuaian dalam peradaban tersebut. Dan pada zaman itu juga di temukan di sepanjang pantai dari laut Tengah sampai ke teluk Benggala terdapat sejenis peradaban yang sama dan sudah meningkat perkembangan kebudayaanya terutama di dekat kota Harappa di punjab dan di sebelah utara Karachi, bahkan di situ ditemukan sisa-sisa sebuah kota yang bernama Mohenjodaro, yang mana orang-orang tersebut telah mempunyai rumah-rumah yang berdinding tebal dan bertentangga. Tata letak Kota Di Kota Mohenjodaro terdapat gedung-gedung dan rumah tinggal serta pertokoan dibangun secara teratur dan berdiri kukuh. Gedung-gedung dan rumah tinggal dan pertokoan itu sudah terbuat dari batu bata lumpur.Wilayah kota itu dibagi atas beberapa bagian atau blok yang dilengkapi dengan jalan yang ada aliran airnya. Sistem Pertanian dan Pengairan Daerah Lembah Sungai Indus merupakan daerah yang subur. Pertanian sehingga menjadi mata pencaharian utama bagi masyarakat India. Pada perkembangan selanjutnya, masyarakat telah berhasil menyalurkan air yang mengalir dari Lembah Sungai Indus sampai jauh ke daerah pedalaman.dan Pembuatan saluran irigasi serta pembangunan daerah-daerah pertanian menunjukkan bahwa masyarakat Lembah Sungai Indus telah memiliki peradaban yang tinggi. Hasil-hasil pertanian yang utama adalah padi, gandum, gula/tebu, kapas, teh, dan lain-lain. Sanitasi (Kesehatan) Masyarakat Mohenjodaro dan Harappa telah memperhatikan sanitasi (kesehatan) lingkungannya. Teknik-teknik atau cara-cara pembangunan rumah yang telah memperhatikan faktor-faktor kesehatan dan kebersihan lingkungan yaitu rumah mereka sudah dilengkapi oleh jendela. Teknologi Masyarakat Lembah Sungai Indus sudah memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi, Kemampuan mereka dapat diketahui melalui peninggalan-peninggalan budaya yang ditemukan, seperti bangunan Kota Mohenjodaro dan Harappa, berbagai macam patung, perhiasan emas, perak, dan berbagai macam meterai dengan lukisannya yang bermutu tinggi dan alat-alat peperangan seperti tombak, pedang, dan anak panah. Kepercayaan Sistem kepercayaan masyarakat Lembah Sungai Indus bersifat politeisme atau memuja banyak dewa. Dewa-dewa tersebut misalnya dewa kesuburan dan kemakmuran (Dewi Ibu). Masyarakat lembah Sungai Indus juga menyembah binatang-binatang seperti buaya dan gajah serta menyembah pohon seperti pohon pipal (beringin). Pemujaan tersebut dimaksudkan sebagai tanda terima kasih terhadap kehidupan yang dinikmatinya, berupa kesejahteraan dan perdamaian. Pendduduk itu terkenal dengan “Bangsa Dravida”. Yang mula-mulanya mereka tinggal tersebar di seluruh negeri, tetapi lama-kelamaan hanya tinggal di sebelah selatan dan memerintah negrinya sendiri, karena mereka di sebelah utara telah hidup sebagai orang taklukan dan dan bekerja kapada bangsa-bangsa yang merebut negeri itu. Kemudian antara tahun 2000 dan 1000 S.M, masuklah bangsa “Arya” ke India di sebelah utara, yang memisahkan diri dari kaum sebangsanya di Iran dan memasuki India melalui jurang-jurang di pegunungan “Hindu-Khus”. Bangsa Arya ini tergolong bangsa Indo-German. Pada masa itu bangsa arya menetap di sungai Sindhu yang ketika itu masi subur, jadi ketika mereka berada di daerah itu mereka masih menjumpai suatu peradaban tua yang di dalamnya terdapat berbagai hal yang berbeda debgab bangsa dravida.ketika mereka lebih jauh memasuki India sampai di tepi sungai gangga dan sampai di sebelah selatan di situlahmereka makin campur dengan bangsa dravidadan ahkirnya terwujudlah suatu kesatuan. Berkat peleburan kebudayaan dravida yang tua itu dengan kebudayaan arya terjadilah kemudian kebudayaan India. Mungkin ketika bangsa Arya memasuki kota India dengan cara yang kurang beradab dari pada bangsa dravida yang di taklukkanya, tetapi mereka lebih unggul di dalam ilmu peperangan dari pada bangsa dravida. Pada waktu bangsa Arya masuk ke India, mereka itu masih merupakan setengah nomad (pengembara), yang beginya peternakan lebih besar dari pada pertanian, sehingga bagi bangsa Arya kuda dan lembu adalah binatang-binatang yang sangat di hargai dan di anggap suci. Di bandingkan dengan bangsa dravida yang tinggal di kota-kota dan mengusahakan pertanian serta menyelenggarakan perniagaan di sepanjang pantai, maka bangsa Arya itu bolahlah dikatakan primitif. Dahulu orang selalu berpandangan bahwa kebudayaan India itu seluruhnya dibawa oleh bangsa Arya, tetapi setelah dilakukan penggalian-pemggalian maka berubahlah pandangan tersebut dan semakin banyak diketahui bahwa unsur-unsur di dalam kebudayaan India itu berasal dari bangsa Dravida yang tertua. Umpamanya sebelum bangsa Arya masuk bangsa dravida sudah mempunyai patung-patung Dewa, sedangkan bangsa Arya belum,jadi gejalah yang tipik atau khas di dalam agama Hindu ialah pengakuan adanya dewa-dewa Induk, itupun suatu gejalah pra-Arya. Dan gejalah-gejalah agama Hindu itu rupanya tidak berasal dari bangsa Arya melainkan berasal dari bangsa Dravida. Jadi dapat dikonstatir dengan jelas, bahwa agama Hindu itu sebagai agama tumbuh dari dua buah sumber yang berlainan, tumbuh dari perasaan dan pikiran keagamaan yang berlainan, yang mula-mula dalam banyak hal dangat berlainan, tetapi kemudian lebur menjadi satu.

Peninggalan Hindu-Budha


Borobudur merupakan salah satu peninggalan sejarah terindah dan terbaik di dunia yang tercatat dalam Daftar Peninggalan Sejarah Dunia. Candi Borobudur adalah bangunan agama Budha terbesar di dunia dan telah diakui sebagai peninggalan sejarah terbesar yang pernah dibuat oleh manusia dan hingga kini selalu dikunjungi oleh jutaan turis domestik maupun mancanegara. Borobudur mempunyai bentuk bangunan yang tiada ada duanya di dunia. Bentuk arsitektur tersebut terinspirasi dari filsafat micro cosmos yang akan menimbulkan berbagai pertanyaan seperti kapan, bagaimana caranya, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membangun dan oleh siapa.
Jawaban pasti akan hal tersebut masih merupakan misteri hingga saat ini karena tidak adanya satu dokumen pun yang bisa ditemukan. Berdasarkan tulisan singkat yang ada pada prasasti yang ditemukan, maka banyak ahli menyatakan bahwa Borobudur dibangun pada sekitar abad ke 8 ketika Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra memerintah kerajaannya di Jawa Tengah. Borobudur mempunyai arti yang samar-samar, tetapi sebenarnya kata tersebut merupakan sebuah gabungan kata “Bara” dan “Budur”. Bara berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti komplek candi atau biara, sementara Budur mengingatkan akan kata dari Bahasa Bali yang berarti di atas. Dengan demikian, Borobudur berarti biara yang terletak di atas bukit.
Borobudur adalah bangunan yang penuh dengan ornamen yang mengandung fosofi dimana ornamen-ornamen tersebut mempunyai symbol kesatuan dalam perbedaan yang dapat diikuti oleh semua orang untuk mencapai tujuan hidup yang paling mulia. Relief-relief yang terpahat pada tembok-tembok candi menceritakan akan ajaran hidup manusia yang sangat indah. Dengan kata lain, Borobudur adalah jiwa dari seni, budaya dan filsafat(yogyes.com)




Candi adalah istilah dalam Bahasa Indonesia yang merujuk kepada sebuah bangunan keagamaan tempat ibadah peninggalan purbakala yang berasal dari peradaban Hindu-Buddha. Bangunan ini digunakan sebagai tempat pemujaan dewa-dewi ataupun memuliakan Buddha. Akan tetapi, istilah 'candi' tidak hanya digunakan oleh masyarakat untuk menyebut tempat ibadah saja, banyak situs-situs purbakala non-religius dari masa Hindu-Buddha Indonesia klasik, baik sebagai istana (kraton), pemandian (petirtaan), gapura, dan sebagainya, juga disebut dengan istilah candi.
Candi merupakan bangunan replika tempat tinggal para dewa yang sebenarnya, yaitu Gunung Mahameru. Karena itu, seni arsitekturnya dihias dengan berbagai macam ukiran dan pahatan berupa pola hias yang disesuaikan dengan alam Gunung Mahameru. Candi-candi dan pesan yang disampaikan lewat arsitektur, relief, serta arca-arcanya tak pernah lepas dari unsur spiritualitas, daya cipta, dan keterampilan para pembuatnya.
Beberapa candi seperti Candi Borobudur dan Prambanan dibangun amat megah, detil, kaya akan hiasan yang mewah, bercitarasa estetika yang luhur, dengan menggunakan teknologi arsitektur yang maju pada zamannya. Bangunan-bangunan ini hingga kini menjadi bukti betapa tingginya kebudayaan dan peradaban nenek moyang bangsa Indonesia.

Desa Bumi Ayu, Kecamatan Tanah Abang, kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Desa ini terletak kira-kira 300 KM dari kota Palembang. Bumi Ayu dikenal dengan situs candi-candi peninggalan Hindu dari aliran Siwaisme.
Sampai saat ini sudah diketemukan 11 buah candi yang tersebar di wilayah seluas 76 HA perkebunan karet, yang dikelilingi oleh anak sungai Musi. Dari penggalian para arkeolog, maka komplek candi Bumi Ayu ini merupakan candi-candi Hindu terbesar di luar Jawa, dan dari penemuan tersimpul bahwa candi-candi ini merupakan tiruan Candi Prambanan di Jawa Tengah, didirikan pada tahun 819 Saka atau 897 Masehi.
Usaha pelestarian ini telah dimulai pada tahun 1990 sampai sekarang, dengan didukung oleh dana APBN. Walaupun demikian peran serta Pemerintah Kabupaten Muara Enim cukup besar, antara lain Pembangunan Jalan, Pembebasan Tanah dan Pembangunan Gedung Museum Lapangan. Percandian Bumiayu meliputi lahan seluas 75,56 Ha, dengan batas terluar berupa 7 (tujuh) buah sungai parit yang sebagian sudah mengalami pendangkalan.
Candi Bumi Ayu pada saat ini masih dalam proses pengkajian dan pemugaran, sehingga belum banyak informasi yang dapat diketahui, sedangkan informasi tertulis dari Candi tersebut masih dalam proses dipahami oleh Tim Pengkajian Peninggalan Purbakala Propinsi Sumatera Selatan.
Pada situs Candi, terdapat beragam arca seperti Siwa Mahaguru, Nandi, Agastya dan Narawahana. Juga terdapat peti peripih dan komponen-komponen hiasan candi yang kental dengan simbol Hindu.
Simbol Hindu pada bangunan candi terlihat pada komponen bangunan atapnya yang dinamai ratna.
Pada beberapa arca seperti Siwa Mahadewa, Nandi dan Agastya, simbol Hindu diperlihatkan hiasan yang dinamakan buah keber.

Gambar 1.24 Relief cerita Sudamala pada Candi Sukuh di Jawa Timur, tampak bentuknya yang pipih seperti sosok wayang kulit







Berdasarkan pada bukti peninggalan bersejarah yang telah ditemukan, dapat diketahui bahwa peradaban tertua di Indonesia adalah peradaban bercorak Hindu dan Budha (*simak tulisan saya mengenai Strata masyarakat Jawa Pre-Hinduism). Kedua corak peradaban ini pada awalnya berasal dari wilayah India dan dibawa masuk ke wilayah Indonesia sekitar abad 3 Masehi, melalui perantara para pedagang (merchant). Selanjutnya peradaban ini mengalami akulturasi dan penyatuan yang sangat baik dengan kebudayaan pribumi. Tingkat penerimaan yang baik dari masyarakat dan ditunjang dengan keberlanjutan kegiatan dagang yang telah berlangsung lama, menyebabkan pengaruh kedua kebudayaan ini berkembang sangat pesat di wilayah Indonesia terutama di pulau Jawa.
Pada tahun-tahun awal perkembangannya (abad 7 Masehi), terdapat 2 kerajaan bercorak Hindu dan Budha yang memiliki pengaruh besar di Pulau Jawa yakni Kerajaan SYAILENDRAyang bercorak Budha dan Kerajaan SANJAYA yang bercorak Hindu. Kedua kerajaan ini sama-sama memiliki pusat pemerintahan di wilayah Jawa bagian tengah. Demi memudahkan dalam kajian arkeologi dan kepurbakalaan, kedua kerajaan ini kemudian diberi nama Kerajaan Mataram Kuno (Ancient Mataram).